Airbus dan Bombardier Siap Caplok Saham A220

Penjualan saham A220 akan menjadi tonggak sejarah bagi Bombardier yang kekurangan dana karena perusahaan itu berupaya merombak penjualan dari sumber bisnis lainnya.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 10 Februari 2020  |  18:47 WIB
Airbus dan Bombardier Siap Caplok Saham A220
Logo Airbus - Reuters/Regis Duvignau

Bisnis.com, JAKARTA - Airbus SE tengah mempertimbangkan rencana 'mencaplok' saham Bombardier Inc. dalam program pengembangan pesawat jet A220.

Seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (10/2/2020), pihak yang enggan dikutip namanya menuturkan negosiasi antara perusahaan berada pada tahap lanjut.

Kedua perusahaan dijadwalkan untuk melaporkan pendapatan pada 13 Februari 2020. Sementara itu, penjualan 34 persen kepemilikan Bombardier dapat dicapai paling cepat minggu ini. Bombardier yang memiliki 16 persen kepemilikan akan mempertahankan sahamnya.

Penjualan saham A220, yang awalnya dikenal sebagai Seri C, juga akan menjadi tonggak sejarah bagi Bombardier yang kekurangan dana karena perusahaan itu berupaya merombak penjualan dari sumber bisnis lainnya.

Perusahaan dibebani utang sebesar US$10 miliar, sehingga muncul pembicaraan untuk menggabungkan operasi peralatan relnya dengan Alstom SA dari Prancis. Bombardier juga menjajaki penjualan unit jet pribadi ke Textron Inc.

George Ferguson, seorang analis di Bloomberg Intelligence mengatakan, kesepakatan dapat menyuntik biaya operasional perusahaan sebesar US$350 juta, tetapi dana itu tidak mungkin menutup beban utang. Bombardier Transportation, unit kereta api yang berbasis di Berlin, juga terkena denda US$1 miliar dari pelanggan karena krisis teknis dan keterlambatan pengiriman kontrak dari New York ke London.

Para analis mengatakan Bombardier perlu menjual kereta atau jet untuk menutup utangnya.

"Satu-satunya pilihan Bombardier untuk keluar dari beban utangnya adalah memonetisasi salah satu dari dua bisnisnya yang tersisa," kata Cameron Doerksen, seorang analis di National Bank of Canada di New York, dilansir Bloomberg, Senin (10/2/2020).

Nilai unit kereta perusahaan diperkirakan sebesar US$ 5 miliar hingga US$6 miliar. Sedangkan angka penjualan segmen jet bisnisnya dapat menghasilkan US$4 miliar hingga US$5 miliar.

Perusahaan yang berbasis di Montreal ini sebelumnya menginvestasikan lebih dari US$6 miliar dalam pengembangan A220 sebelum akhirnya menyerahkan kendali program ke Airbus pada 2018 karena kesulitan menjual pesawat single-aisle. Sesuai dengan ketentuan perjanjian, Bombardier wajib membayar sebanyak US$350 juta hingga 2021 untuk mendanai kekurangan uang tunai untuk program jet.

Seorang juru bicara Airbus menolak berkomentar. Bombardier tidak dapat segera dihubungi untuk memberikan komentar. Negosiasi dilaporkan itu mendongkrak saham Bombardier sebesar 4,5 persen pada Jumat pekan lalu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
airbus

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top