Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Belum Ada Pembicaraan Perundingan Dagang AS-China Fase Dua

Wakil kepala Komisi Reformasi dan Pengembangan Nasional China, Ning, menyampaikan di sela-sela pertemuan World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, bahwa fokus kedua belah pihak saat ini masih ke implementasi kesepatakan tahap pertama.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 22 Januari 2020  |  13:59 WIB
Bendera AS dan China di booth American International Chamber of Commerce (AICC) pada pemeran perdagangan internasional di Beijing, China, 28 Mei 2019. - Reuters/Jason Lee
Bendera AS dan China di booth American International Chamber of Commerce (AICC) pada pemeran perdagangan internasional di Beijing, China, 28 Mei 2019. - Reuters/Jason Lee

Bisnis.com, PEKANBARU — Amerika Serikat dan China belum menentukan waktu untuk merundingkan kesepakatan dagang tahap kedua. Hal itu disampaikan oleh pejabat yang ikut dalam perundingan kesepakatan dagang AS—China tahap pertama, Ning Jizhe.

Mengutip Bloomberg pada Rabu (22/1/2020), Ning yang menjabat sebagai wakil kepala Komisi Reformasi dan Pengembangan Nasional China menyampaikan di sela-sela pertemuan World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, bahwa fokus kedua belah pihak saat ini masih ke implementasi kesepatakan tahap pertama.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa pembicaraan mengenai kesepakatan tahap kedua bakal segera dimulai paling cepat setelah kesepakatan dagang tahap pertama diimplementasikan.

Dirinya mengatakan ingin berkunjung ke Beijing untuk berbicara secara langsung mengenai waktu memulai perundingan berikutnya. Tetapi, sampai sekarang masih belum ada pengumuman mengenai hal itu.

“Saya sepakat untuk membatalkan tarif-tarif itu jika kami bisa lanjut ke [kesepakatan] tahap dua. Dengan kata lain, kami akan bernegosiasi dengan tariff,” kata Trump pekan lalu saat menandatangani kesepakatan dagang tahap pertama.

Adapun kesepakatan dagang yang ditandatangani AS dan China bulan ini di Washington memuat komitmen China untuk menindak pencurian teknologi dan rahasia perusahaan dari AS  yang dilakukan perusahaan China. Tak hanya itu, Beijing juga berjanji bakal mengeluarkan US$200 miliar untuk menyeimbangi ketidakseimbangan dagang dengan Negeri Paman Sam.

Baca Juga : Harga Emas Hari Ini

Sebagai pelengkap, China juga akan menghindari manipulasi mata uang dalam rangka mengambil untung selama perang dagang.

“Keragu-raguan mulai muncul terkait dengan kelayakan untuk  meningkatkan pembelian dari AS di level tersebut, khususnya jika hal itu berdampak terhadap impor dari negara lain,” tutur Ning.

Namun demikian, Ning meyakinkan bahwa negara-negara dari Eropa seharusnya tak perlu cemas karena kesepakatan dagang dengan AS itu tidak akan berpengaruh terhadap hubungan China dengan pihak ketiga dan bahwa negaranya masih memiliki banyak ruang untuk menambah impor dari negara lain.

Wakil PM China Han Zheng juga menyampaikan dalam pidatonya di Davos supaya pemimpin global tetap tenang karena kesepakatan dagang fase pertama dengan AS tidak akan memengaruhi ekspor negara lain ke China.

Han menyebut bahwa negaranya berkomitmen untuk membeli lebih banyak dari AS sesuai dengan aturan yang ada di Organisasi Dagang Internasional (WTO) dan tidak akan menghambat impor lainnya.

Hal itu disampaikannya sambil meminta negara-negara mitra China untuk mengurangi hambatan aturan mengenai investasi asing.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perang dagang AS vs China
Editor : M. Taufikul Basari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top