Jelang Imlek, Bank Sentral China Gelontorkan Likuiditas US$58 Miliar

Dalam operasi moneternya, People's Bank of China telah memutuskan menambah 300 miliar yuan atau US$44 miliar melalui suku bunga pinjaman jangka menengah yang dipatok 3,25 persen. Selain itu, bank sentral China menyuntikan 100 miliar yuan melalui operasi pasar terbuka setelah 15 hari libur dari pasar.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 15 Januari 2020  |  18:57 WIB
Jelang Imlek, Bank Sentral China Gelontorkan Likuiditas US$58 Miliar
Yuan - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Bank sentral China mengelontorkan likuiditas untuk memenuhi kebutuhan uang selama libur Imlek tahun ini. 

Dalam operasi moneternya, People's Bank of China telah memutuskan menambah 300 miliar yuan atau US$44 miliar melalui suku bunga pinjaman jangka menengah yang dipatok 3,25 persen. Selain itu, bank sentral China menyuntikan 100 miliar yuan melalui operasi pasar terbuka setelah 15 hari libur dari pasar. 

Dalam operasi tersebut People's Bank of China menjual surat berharga (14-day reverse repurchase agreement) di kisaran 2,65 persen. Pasar telah menantikan injeksi likuiditas dari bank sentral sebelum libur panjang tiba. Sayangnya, pasar kecewa dengan langkah China menahan suku bunga acuan. 

"Injeksi likuiditas dari pemangkasan suku bunga RRR sebelumnya tidak cukup untuk mengisi gap likuiditas pada Januari ini karena adanya liburan Tahun Baru China, serta jatuh tempo surat utang dan pembayaran pajak," ujar Ekonom Oversea-Chinese Banking Corp. Tommy Xie.

Menurut Tommy, kebijakan bank sentral ini tidak mengejutkan. Bank sentral China telah menurunkan pencadangan dana di perbankan dengan mengelontorkan 800 miliar yuan ke pasar uang pada awal tahun ini. 

People's Bank of China juga telah memangkas biaya fasilitas pendanaan satu tahun utama pada bulan November kemarin. Langkah-langkah ini diharapkan dapat membantu penjualan utang pemerintah daerah tahun ini setelah memutuskan strategi frontloading untuk membiayai pembangunan infrastruktur. 

Seperti diketahui, bank sental adalah pembeli utama obligasi. Sejumlah analis memperkirakan kebutuhan likuiditas yang masih harus dipenuhi bulan ini mencapai 3,8 triliun yuan karena banyaknya penarikan uang oleh sejumlah perusahaan dan masyarakat pada minggu liburan Imlek kali ini. 

Sementara itu, bank harus memperkuat kas karena adanya keperluan pembayaran pajak dan pencadangan. Otoritas moneter China diperkirakan akan mengurangi biaya pinjaman untuk perusahaan pada 2020 dalam rangka menstabilkan pertumbuhan ekonomi, meskipun tanda-tanda perbaikan ekonomi telah terasa. 

"Ke depan, otoritas moneter akan tetap memperlonggar kebijakan moneter untuk menjaga perbaikan ekonomi yang masih dalam tahap awal," ungkap Senior Ekonom DBS Bank Ltd. in Hong Kong Nathan Chow. 

Sepanjang tahun ini, dia memperkirakan bank sentral China akan memangkas suku bunga sebanyak 150 basis poin.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
imlek, china

Sumber : Bloomberg

Editor : Saeno
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top