Pekan Ekonomi Global : Dunia Tunggu Kesepakatan Dagang AS-China

Pekan ketiga pada ekonomi global di awal tahun 2020 dipenuhi dengan sederet agenda yang akan memusatkan perhatian pasar dan berpotensi mempengaruhi arah ekonomi sepanjang tahun.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 12 Januari 2020  |  17:40 WIB
Pekan Ekonomi Global : Dunia Tunggu Kesepakatan Dagang AS-China
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping - Reuters/Kevin Lamarque

Bisnis.com, JAKARTA -- Pekan ketiga pada ekonomi global di awal tahun 2020 dipenuhi dengan sederet agenda yang akan memusatkan perhatian pasar dan berpotensi mempengaruhi arah ekonomi sepanjang tahun.

Agenda yang paling ditunggu realisasinya adalah penandatanganan kesepakatan dagang fase pertama antara dua ekonomi terbesar dunia yang diharapkan dapat meredakan gejolak ekonomi global pada 2019.

Namun, kesepakatan antara Amerika Serikat dan China ini haya akan memangkas beberapa tarif impor, pungutan yang masih berlaku menandakan bahwa masih berada di dunia yang proteksionis pada 2020.

Washington dan Beijing tidak menetapkan batas waktu untuk fase perundingan berikutnya dan perubahan pada komitmen dari kedua belah pihak dapat kembali meningkatkan ketegangan kapan saja.

Bagi ekonomi dunia, optimisme dari realisasi kesepakatan ini memberikan sedikit harapan bahwa ada kemungkinan untuk pertumbuhan ekonomi pada kondisi di mana ketidakpastian belum sepenuhnya berkurang.

Menurut kepala ekonom Bloomberg Tom Orlik, dari segi kepercayaan diri bisnis dan pasar, hal yang paling penting adalah sebuah tanda yang dapat dipercaya bahwa ketegangan akan mereda.

"Jika hal itu terealisasikan pada 15 Januari, maka optimisme pada prospek perdagangan 2020 akan menguat," ujarnya, dikutip melalui Bloomberg, Minggu (12/1).

Pekan lalu, stabilisasi ekonomi dunia sempat terpukul setelah Presiden AS Donald Trump meluncurkan serangan udara yang menewaskan salah satu jenderal paling kuat Iran, Qassem Soleimani.

Pasar keuangan untuk sementara terguncang namun dengan singkat kembali positif dalam dinamika pasar minyak global yang terus berubah.

Bankir di bank sentral juga merasakan sedikit tekanan untuk bergegas menyelamatkan ekonomi dengan stimulus moneter.

Dilansir melalui Bloomberg, berikut adalah rangkuman untuk ekonomi global pekan ini:

AS & KANADA

Perdagangan akan menjadi fokus utama setibanya delegasi China di Washington untuk menandatangani bagian pertama dari kesepakatan dagang dengan AS pada 15 Januari.

Di samping itu, Komisaris Perdagangan Uni Eropa Phil Hogan juga akan bertolak ke AS untuk melakukan perbincangan dengan pemerintahan Trump.

Pekan ini sejumlah data ekonomi, termasuk angka inflasi terbaru akan dirilis beserta angka penjualan ritel pada musim liburan.

Para bank sentral juga akan mulai aktif bekerja dengan sejumlah agenda bankir The Fed yang akan menjadi pembicara menjelang pertemuan rutin FOMC pada 28-29 Januari mendatang.

Eric Rosengren dari Boston Federal Reserve dan Raphael Bostic dari Atlanta Federal Reserve akan membahas prospek ekonomi pada kesempatan terpisah, Senin (13/1).

Sejumlah perkiraan menetapkan bahwa tren inflasi AS bergerak mendekati target 2% yang diinginkan The Fed.

EROPA, TIMUR TENGAH & AFRIKA

Pemerintah Jerman akan merilis data produk domestik bruto pada Rabu (15/1), untuk tahun ekonomi 2019 yang tertekan oleh resesi manufaktur.

Pertumbuhan ekonomi Jerman diperkirakan pada kisaran 0,5% yang merupakan performa terburuk untuk ekonomi Eropa sejak 2013.

Pada Kamis (16/1), investor akan mengulas notulen pertemuan Bank Sentral Eropa (ECB) yang dilaksanakan pada Desember 2019, yang merupakan pertemuan pertama dengan gubernur ECB baru, Chrisitne Lagarde.

Di Inggris, data ekonomi mungkin akan menunjukkan beberapa perubahan setelah komentar dovish dari Gubernur Bank Sentral Inggris (BOE) Mark Carney tentang perlunya lebih banyak stimulus.

Sementara itu data PDB bulanan Inggris akan dirilis pada Senin (13/1), diikuti dengan data inflasi pada Rabu (15/1), dan ditutup dengan data penjualan ritel pada Jumat (17/1).

Tren inflasi Inggris diperkirakan akan tetap berada di bawah target ECB.

Bergeser sedikit, bank sentral di Afrika Selatan, Turki dan Mesir akan mengumumkan kebijakan suku bunga acuan pertama untuk 2020 pada Kamis (16/1).

Afrika Selatan kemungkinan akan menahan suka bunga tidak berubah, meskipun inflasi berada pada titik terendah untuk sembilan tahun terakhir.

Suku bunga acuan Turki juga diperkirakan akan bertahan karena inflasi yang merayap meninggalkan sedikit ruang untuk pemotongan lebih lanjut.

Kenaikan harga di Mesir, membuat para pembuat kebijakan untuk menahan penurunan, meskipun analis memperkirakan siklus pelonggaran akan berlanjut sepanjang tahun ini.

ASIA

Kesepakatan fase satu akan menjadi data latar belakang angka PDB setahun penuh China yang akan dirilis pada Jumat (17/1), dan diperkirakan akan menunjukkan ekspansi ekonomi pada kisaran 6% untuk kuartal IV/2019.

Di Jepang, Gubernur Haruhiko Kuroda menyampaikan pidatonya pada Rabu (15/1). Pekan lalu, Menteri Keuangan Jepang Taro Aso mengatakan bahwa ekonomi Jepang berada pada laju pemulihan meskipun ada tekanan dari sektor manufaktur.

Bank Sentral Korea Selatan akan mengadakan pertemuan kebijakan pertama tahun ini pada Jumat (17/1), tanpa perubahan yang diantisipasi.

AMERIKA LATIN

Investor di seluruh dunia akan menilai apakah pertumbuhan melaju cepat di ekonomi terbesar Amerika Latin.

Angka penjualan ritel Brasil yang dijadwalkan dirilisa pada Rabu (15/1), kemungkinan akan menunjukkan kenaikan bulanan untuk tujuh kali berturut-turut, berkat promo Black Friday dan rekor suku bunga rendah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi dunia, perang dagang AS vs China

Editor : Rustam Agus
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top