Tak Ada Hiruk Pikuk Black Friday Tahun Ini

Kegilaan yang terkait dengan belanja Black Friday tahun ini hilang lantaran peritel AS lebih banyak menawarkan diskon lebih banyak pada konsumen berbelanja online.
M. Richard
M. Richard - Bisnis.com 30 November 2019  |  12:29 WIB
Tak Ada Hiruk Pikuk Black Friday Tahun Ini
Seorang anak lelaki dan ayahnya berjalan melalui bagian mainan Walmart di Black Friday, hari yang mengawali musim belanja liburan, di King of Prussia, Pennsylvania, AS, pada 29 November 2019. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA -  'Kegilaan' yang terkait dengan belanja Black Friday tahun ini hilang lantaran peritel AS lebih banyak menawarkan diskon lebih banyak pada konsumen berbelanja online.

"Ini lambat sekarang karena kami mengalami demam besar, tadi malam," kata peritel elektronik Target Evan Houser, 22, di Chicago, seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (30/11/2019).

Dikatakan, Black Friday tetap penting untuk belanja liburan, tetapi relevansinya mulai memudar di tengah-tengah promosi awal, seiring dengan hari penjualan lebih sedikit antara Thanksgiving dan Natal.

Adapun, National Retail Federation (NRF) menyebut lebih dari setengah konsumen telah mulai melakukan pembelian pada pekan pertama Bulan November .

“Kami telah melihat banyak pedagang memulai promosi mereka tepat setelah trick-or-treat tidur,” kata Lauren Bitar, kepala konsultan ritel di perusahaan analisis RetailNext.

Dia menuturkan kunjungan ke pengecer menunjukkan lebih banyak pembeli setelah awal yang lambat pada hari Jumat. Namun, kerumunan panik tetap tidak terlihat.

"Kami cenderung memiliki lebih banyak penawaran di dalam took, sehingga orang-orang datang daripada belanja online," kata Mariah Berry, 22, seorang supervisor trainee di Chicago Uniqlo.

Adapun, Adobe Analytics yang mengukur transaksi dari 80 dari 100 pengecer online AS teratas memperkirakan penjualan online mencapai US$7,5 miliar pada Black Friday tahun ini, naik 20,5 persen dari tahun ke tahun.

Menurut Salesforce, penjualan online AS pada Hari Thanksgiving melonjak 17 persen (year-on-year/yoy) menjadi US$4,1 miliar.

Walmart Inc ( WMT.N ), Target Corp ( TGT.N ), Costco Wholesale Corp ( COST.O ) dan Best Buy Co Inc ( BBY.N ) telah meningkatkan kehadiran online mereka.

Meskipun banyak pengecer besar tidak menaikkan harga untuk melindungi margin, beberapa pembeli khawatir bahwa tarif impor China akan membuat belanja liburan menjadi lebih mahal.

"Pasti ada beberapa kekhawatiran tentang harga karena apa yang kita lihat di berita tentang perang perdagangan, tetapi saya belum melihat dampaknya," kata Jay Smith, 28, yang sedang berbelanja pakaian dan mainan di Macy's ( MN) ) di Pentagon City, Virginia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
impor, diskon, belanja online

Editor : Nancy Junita
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top