Benarkah Ekspresi Wajah bisa Menguak Anda Miskin atau Kaya?

Wajah Anda dapat mengungkapkan apakah Anda kaya atau miskin, menurut sebuah studi baru. Benarkah demikian?
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 29 November 2019  |  10:05 WIB
Benarkah Ekspresi Wajah bisa Menguak Anda Miskin atau Kaya?
Aneka bentuk wajah terkait status kekayaan. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Wajah Anda dapat mengungkapkan apakah Anda kaya atau miskin, menurut sebuah studi baru. Benarkah demikian?

Sebuah studi baru yang diterbitkan dalam Journal of Personality and Social Psychology mengemukakan ada peluang besar Anda akan dapat menebak apakah seseorang kaya atau miskin hanya dengan melihatnya.

"Hubungan antara kesejahteraan dan kelas sosial telah ditunjukkan oleh penelitian ini," kata R. Thora Bjornsdottir, seorang mahasiswa pascasarjana di University of Toronto dan rekan penulis penelitian dalam acara  CNBC Make It.

Pada umumnya, orang yang punya uang cukup cenderung hidup lebih bahagia dan perilakunya tidak terlalu cemas dibandingkan dengan mereka yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup. "Perbedaan kesejahteraan ini sebenarnya tercermin dalam wajah orang-orang,” katanya.

Bjornsdottir dan rekan penulisnya, profesor psikologi Nicholas O. Rule, menggunakan subyek penelitian sarjana dari berbagai etnis dengan melihat foto dari 80 laki-laki kulit putih dan 80 perempuan kulit putih. Tidak ada yang menunjukkan tato atau tindikan pada bagian tubuh mereka.

Separuh dari foto-foto itu adalah orang-orang yang menghasilkan lebih dari US$150.000 setahun, yang mereka tetapkan sebagai kelas atas. Sedangan separuh lainnya adalah orang-orang yang berpenghasilan di bawah US$35.000, atau kelas pekerja.

Ketika subjek diminta untuk menebak kelas orang-orang di foto, mereka melakukannya dengan benar hingga mencapai 68 persen atau secara signifikan lebih tinggi daripada peluang acak.

"Saya tidak berpikir efeknya akan cukup kuat, terutama mengingat betapa halusnya perbedaan itu di wajah, kata Rule. Itu bagian paling mengejutkan dari penelitian bagi saya," katanya seperti dikutip CNBC.com, Jumat (29/11/2019).

"Orang-orang sangat tidak menyadari isyarat apa yang mereka gunakan ketika mereka membuat penilaian ini," kata Bjornsdottir dari University of Toronto. "Jika Anda bertanya mengapa, mereka tidak tahu. Mereka tidak menyadari bagaimana mereka melakukan ini. "

Tetapi para peneliti ingin tahu sehingga mereka memperbesar fitur wajah. Mereka menemukan bahwa subjek masih dapat menebak dengan benar ketika mereka hanya melihat mata dan mulut sebagai petunjuk yang lebih baik.

Tetapi tidak ada bagian yang terpisah sebagai indikator yang dapat diandalkan seperti seluruh wajah.
Efeknya "kemungkinan karena pola emosi menjadi terukir di wajah mereka dari waktu ke waktu," kata Bjornsdottir.

Kontraksi kronis dari otot-otot tertentu sebenarnya dapat menyebabkan perubahan pada struktur wajah Anda yang dapat dinilai oleh orang lain, sekalipun mereka tidak menyadarinya.

Kemudian ketika mereka ditunjukkan foto-foto dari orang-orang yang tampak sangat bahagia, mereka tidak dapat membedakan status sosial ekonomi lebih baik kecuali kebetulan. Ekspresi yang diperlukan harus netral agar isyarat halus memiliki efek, katanya.

"Seiring waktu, wajah Anda secara permanen mencerminkan dan mengungkapkan pengalaman Anda," kata Rule. Bahkan ketika kita berpikir kita tidak mengekspresikan sesuatu, peninggalan emosi itu masih ada, katanya.

Akhirnya, untuk menunjukkan bagaimana kesan pertama ini dapat berperan di dunia nyata, mereka meminta para mereka untuk memutuskan siapa di foto-foto yang paling mungkin mendapatkan pekerjaan sebagai akuntan. Mereka cendrung memilih orang-orang dari kelas atas sehingga menunjukkan bagaimana penilaian cepat semacam ini dapat menciptakan dan memperkuat bias.

“Persepsi berbasis wajah dari kelas sosial mungkin memiliki konsekuensi yang penting,” menurut kesimpulan mereka.

Artinya, kalau orang sering membicarakan soal kemiskinan maka hal itu berpotensi menjadi kontributor untuk menilai mereka.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
psikologi

Editor : Sutarno
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top