Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Huawei Proyeksikan Pertumbuhan Penjualan Smartphone yang Kuat

Huawei Technologies Co. memperkirakan pengiriman smartphone akan tumbuh 20 persen tahun depan, bahkan jika perangkat lunak Google terbaru tidak lagi tersemat di dalamnya.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 06 November 2019  |  12:04 WIB
Ponsel Huawei Mate X dipamerkan dalam Mobile World Congress, MWC 19, di Barcelona, Spanyol, Senin (25/2/2019). - REUTERS/Sergio Perez
Ponsel Huawei Mate X dipamerkan dalam Mobile World Congress, MWC 19, di Barcelona, Spanyol, Senin (25/2/2019). - REUTERS/Sergio Perez

Bisnis.com, JAKARTA – Huawei Technologies Co. memperkirakan pengiriman smartphone akan tumbuh 20 persen tahun depan, bahkan jika perangkat lunak Google terbaru tidak lagi tersemat di dalamnya.

President of corporate strategy Huawei Technologies Co. Will Zhang, mengatakan sebagai produsen smartphone terbesar di dunia setelah Samsung Electronics Co. perusahaan dapat mengandalkan pasar dalam negeri yang besar dan perangkat lunak internal untuk menjaga agar divisi ini tetap berjalan.

“Sumber bahan baku perangkat keras untuk pembuatan smartphone tidak menjadi masalah karena ketersediaan pasokan global,” katanya seperti dikutip Bloomberg.

Huawei mendekati titik kritis dalam keberlangsungan bisnisnya, enam bulan setelah Washington memberlakukan larangan pembelian komponen dan perangkat lunak utama AS tanpa lisensi khusus.

Larangan ini juga termasuk sistem operasi Android dari Google, alat desain semikonduktor dari Synopsys Inc. dan Cadence Design Systems Inc., serta dan chip frekuensi radio yang dibuat oleh Qorvo dan Skyworks.

Ini mengancam bisnis ponsel pintar Huawei, yang mencatatkan penjualan lebih dari dua kali lipat dibandingkan Apple Inc., sementara menghambat kemampuannya untuk mengembangkan perangkat jaringan generasi kelima (5G).

"Ada banyak cara bagi mitra AS kami untuk menemukan solusi global, daripada mengirim dari satu sumber yang berbasis AS," kata Zhang di markas besar Huawei di Shenzhen.

Perusahaan teknologi terbesar China ini menjadi aspek sentral dari negosiasi sensitif yang dimaksudkan untuk meredakan ketegangan perdagangan. Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross telah menyatakan optimisme bahwa AS akan mencapai kesepakatan perdagangan "fase pertama" dengan China bulan ini, dengan rencana memberikan lisensi bagi perusahaan As untuk menjual komponen ke Huawei dalam waktu dekat.

Hingga saat itu tiba, daftar hitam AS menyebabkan kerugian yang tidak pasti pada raksasa jaringan China itu.

Zhang mengatakan di masa lalu Huawei menetapkan satu target untuk penjualan smartphone, tetapi sekarang karena meningkatnya ketidakpastian di pasar, ia mengembangkan tiga tujuan berbeda yang mencakup skenario kasus terbaik dan terburuk.

“Dalam skenario moderat, penjualan smartphone diperkirakan naik sekitar 20 persen tahun depan. Bahkan untuk skenario terburuk, kami masih memperkirakan pertumbuhan kecil," kata Zhang.

Proyeksi terbaik adalah pertumbuhan hingga 40 persen.

Huawei, yang mendapat sekitar setengah dari pendapatannya dari divisi smartphone, sejauh ini berhasil mempertahankan laju pertumbuhan meskipun dalam situasi yang sulit.

Huawei masih memenangkan memperoleh pangsa pasar melawan Apple dan Samsung pada kuartal ketiga dengan memperluas pengiriman smartphone hingga 29 persen. Di pasar dalam negeri, penjualan melonjak 66 persen pada kuartal ketiga tetapi hanya naik sekitar 18 persen di luar negeri, menurut Canalys.

Huawei membukukan lonjakan 24 persen pendapatan dalam sembilan bulan pertama 2019, didorong oleh pengiriman smartphone yang melonjak 26 persen ke 185 juta unit.

Pendiri perusahaan, Ren Zhengfei, pernah memperkirakan langkah pemerintahan Trump dapat memangkas pendapatan Huawei hingga US$ 30 miliar, namun perkiraan tersebut kemudian dipangkas menjadi US$10 miliar.

Zhang merevisi turun jumlah dampak total dari perang dagang pada hari Selasa. "Sekarang saya perkirakan pendapatan turun kurang dari US$ 10 miliar," katanya.

Mayoritas pendapatan Huawei berasal dari bisnis server yang diharapkan menghasilkan pendapatan US$ 8 miliar tahun ini. Namun proyeksi tersebut akan dipangkas hingga 50 persen, karena Huawei mengalami kesulitan membuat server yang menggunakan arsitektur x86 yang digunakan oleh raksasa AS Intel Corp dan Advanced Micro Devices Inc

"Meskipun server bukan produk inti kami, setiap proyek melibatkan satu perusahaan AS,” kata Zhang.

Dia juga mengatakan 20 persen hingga 40 persen dari produk Huawei terdampak oleh larangan tersebut. “Beberapa dampaknya kecil, sehingga kami dapat dengan mudah menemukan solusi dalam waktu setengah tahun atau tiga bulan. Tetapi untuk server, itu memengaruhi bisnis, pendapatan, dan strategi kami untuk masa depan juga,” lanjutnya.

Dalam jangka panjang, perusahaan sedang mencari jalan keluar dari larangan Google. Huawei memperkenalkan smartphone seri Mate 30 pada bulan September, ponsel pertama yang menjalankan versi open-source Android dan tidak memiliki aplikasi berlisensi dari Google, di antaranya Gmail, YouTube, dan Google Play Store.

Huawei juga mengembangkan sistem operasinya sendiri, HarmonyOS, yang dirancang terutama untuk perangkat Internet of Things. Pada bulan September, perusahaan menawarkan US$1,5 miliar untuk memikat pengembang global untuk membuat perangkat lunak untuk ekosistemnya sendiri.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

huawei
Editor : Sutarno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top