Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Turki dan Rusia Patroli Bersama di Timur Laut Suriah

Tentara Turki dan Rusia dengan kendaraan lapis baja mengadakan patroli bersama pertama di darat di bagian timur laut Suriah pada Jumat (1/11) berdasarkan kesepakatan antara kedua negara yang memaksa milisi Kurdi menjauh dari wilayah dekat perbatasan Turki.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 03 November 2019  |  00:30 WIB
Kendaraan militer Turki di perbatasan Bab el-Salam yang melintasi antara kota Azaz di Suriah dan kota Kilis di Turki, 1 Januari 2019. - REUTERS / Khalil Ashawi
Kendaraan militer Turki di perbatasan Bab el-Salam yang melintasi antara kota Azaz di Suriah dan kota Kilis di Turki, 1 Januari 2019. - REUTERS / Khalil Ashawi

Bisnis.com, JAKARTA - Tentara Turki dan Rusia dengan kendaraan lapis baja mengadakan patroli bersama pertama di darat di bagian timur laut Suriah pada Jumat (1/11) berdasarkan kesepakatan antara kedua negara yang memaksa milisi Kurdi menjauh dari wilayah dekat perbatasan Turki.

Turki dan para pejuang sekutunya asal Suriah melancarkan serangan lintas perbatasan pada 9 Oktober melawan milisi YPG Kurdi, menguasai kendali wilayah 120 km di sepanjang perbatasan itu.

Pekan lalu, Ankara dan Moskow sepakat untuk untuk memindahkan pejuang milisi lebih ke dalam setidaknya 30 km selatan perbatasan itu dan Rusia telah mengatakan kepada Turki bahwa YPG sudah meninggalkan jalur itu.

Kendaraan-kendaraan lapis baja Turki pada Jumat melintasi jalan-jalan perbatasan untuk bergabung dengan rekan-rekan mereka dari Rusia, menurut rekaman televisi Reuters yang difilmkan dari bagian perbatasan Turki. Sekitar empat jam kemudian, mereka kembali ke Turki, demikian rekaman TV itu.

Satuan-satuan udara dan darat terlibat dalam patroli tersebut di kawasan Darbasiya, kota perbatasan Suriah, kata Kementerian Pertahanan Turki melalui Twitter, memperlihatkan foto-foto tentara mempelajari peta dan empat kendaraan lapis baja.

Pada Rabu (30/10), Presiden Tayyip Erdogan mengatakan Turki memiliki informasi bahwa YPG, yang Ankara anggap sebagai organisasi teroris karena hubungannya dengan para militan Kurdi yang melancarkan pemberontakan di bagian tenggara Turki, tidak merampungkan penarikannya.

Rusia merupakan sekutu paling kuat pemerintah Suriah dan membantu dalam perang saudara di negara itu dengan merebut kembali banyak wilayah di negara itu dari pemberontak sejak 2015. Perjanjian Turki-Rusia pekan lalu mengizinkan pasukan pemerintah Suriah kembali ke kawasan-kawasan perbatasan setelah absen selama beberapa tahun.

Ankara melancarkan ofensifnya melawan YPG setelah penarikan 1.000 personel Amerika Serikat dari bagian utara Suriah pada awal Oktober sesuai dengan keputusan Presiden Donald Trump. YPG membantu AS mengalahkan "kekhalifahan" ISIS di Suriah.

Empat kendaraan Rusia dan sebuah drone juga ikut serta dalam patroli pada Jumat di wilayah antara 40Km sebelah timur Ras al Ain dan 30 km sebelah barat Qamishli, ujar sebuah sumber keamanan Turki.

Sumber itu mengatakan patroli-patroli akan diperluas di sepanjang jalur perbatasan dan pesawat-pesawat tanpa awak akan digunakan untuk menajmin para pejuang YPG telah meninggalkan kawasan itu.

Juga dikatakan, tak terjadi bentrokan-bentrokan langsung dengan pasukan pemerintah Suriah dalam patroli itu dan Ankara berkoordinasi dengan Moskow guna menghindari "bentrokan-bentrokan yang tak diinginkan."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

suriah

Sumber : Antara

Editor : Sutarno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top