Kata Ketua Umum Hipmi Setelah Bahlil Lahadalia Ditunjuk Jadi Kepala BPKM

Sosok Bahlil yang pernah memimpin Hipmi sebagai pengusaha muda yang tumbuh dari bawah sehingga memahami masalah dengan baik dan mampu menguraikan dan menyusun langkah terobosan untuk meningkatkan investasi di Indonesia.
Stefanus Arief Setiaji
Stefanus Arief Setiaji - Bisnis.com 23 Oktober 2019  |  15:26 WIB
Kata Ketua Umum Hipmi Setelah Bahlil Lahadalia Ditunjuk Jadi Kepala BPKM
Ketua Umum Hipmi Mardani H. Maming

Bisnis.com, JAKARTA — Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) periode 2019—2024 Mardani H.  Maming berharap Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang baru dilantik Presiden, Bahlil Lahadalia mampu menghadirkan terobosan untuk meningkatkan investasi di Indonesia.

Dia menilai sosok Bahlil yang pernah memimpin Hipmi sebagai pengusaha muda yang tumbuh dari bawah sehingga memahami masalah dengan baik dan mampu menguraikan dan menyusun langkah terobosan untuk meningkatkan investasi di Indonesia.

“Apalagi Bahlil Lahadalia adalah pengusaha yang selain memahami kalkulasi bisnis, juga turun ke lapangan langsung mendampingi unit usaha yang dikerjakannya,” ujarnya dalam keterangan resminya, Rabu (23/10/2019).

Mardani menilai penunjukan Bahlil memberikan kebahagiaan luar biasa bagi seluruh keluarga besar Hipmi seluruh Indonesia dan menjadi amanah yang harus disukseskan secara bersama-sama.

Dia menyebut salah satu permasalahan Indonesia saat ini adalah investasi yang rendah yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi rendah dan kemudian berdampak pada penyerapan tenaga kerja yang juga rendah.

“Rendahnya investasi disebabkan oleh masih banyaknya hambatan investasi di Indonesia yang perlu diurai satu per satu agar iklim investasi Indonesia dapat ditingkatkan. Investasi di Indonesia memang menunjukkan tren peningkatan tapi angka peningkatannya rendah sehingga tidak mampu mendorong pertumbuhan ekonomi ke arah yang maksimal sesuai target,” katanya.

Berdasarkan data Hipmi, investasi pada 2014 tercatat Rp463,1 triliun, sedangkan pada 2018 sudah mencapai Rp721,3 triliun.

Mardani menilai Selain masalah investasi yang rendah, yang juga perlu untuk diselesaikan adalah kesenjangan antara rencana investasi yang telah disetujui dengan investasi yang direalisasikan.

“Karena itu dibutuhkan berbagai macam terobosan dan langkah eksekusi agar rencana investasi dapat berjalan baik di lapangan. Hambatan investasi yang ada terbentang luas, mulai dari persoalan aturan, lahan, birokrasi, tenaga kerja dll menjadikan rencana investasi kadangkala tidak berjalan di lapangan,” jelasnya.

Dia menyebut Hipmi mencanangkan 2020 sebagai tahun Investasi di Indonesia dengan mendorong seluruh anggotanya untuk dapat berinvestasi di seluruh sektor ekonomi yang digelutinya.

Dengan kolaborasi dan kerja keras tersebut diharapkan agar Investasi di Indonesia dapat meningkat yang akan mendorong tingkat pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan pada ujungnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bahlil lahadalia, hipmi

Editor : Stefanus Arief Setiaji
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top