857.756 Hektare Lahan Terbakar Sejak Januari 2019

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat setidaknya 857.756 hektare lahan terbakar di Indonesia sepanjang Januari—September 2019.
Kahfi
Kahfi - Bisnis.com 22 Oktober 2019  |  15:13 WIB
857.756 Hektare Lahan Terbakar Sejak Januari 2019
Petugas Manggala Agni Daops Banyuasin berusaha memadamkan kebakaran lahan yang terjadi di Desa Kayu Arehh, Kertapati Palembang, Sumatera Selatan, Minggu, (18/8/2019). Sebanyak enam helikopter water boombing dan 1.512 orang personel gabungan dari TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD dan Sat Pol PP dikerahkan untung melakukan pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Provinsi Sumatra Selatan. - ANTARA/Ahmad Rizki Prabu

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat setidaknya 857.756 hektare lahan terbakar di Indonesia sepanjang Januari—September 2019.

Agus Wibowo, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), mengatakan bahwa 857.756 hektare lahan terbakar sepanjang Januari—September 2019, terdiri dari 630.451 hektare lahan mineral, dan 227.304 hektare lahan gambut.

“Kalimantan Tengah menjadi provinsi yang lahannya paling banyak terbakar dengan total 134.227 hektare. Kemudian Kalimantan Barat 127.462 hektare, Kalimantan Selatan 113.454 hektare, Riau 75.871 hektare, Sumatra Selatan 52.716 hektare, dan Jambi 39.638 hektare,” katanya melalui keterangan resmi, Selasa (22/10/2019).

Agus menuturkan, Kalimantan Tengah juga menjadi provinsi yang lahan gambutnya paling banyak terbakar, yakni mencapai 76.000 hektare. Sementara itu, Nusa Tenggara Timur menjadi provinsi yang lahan mineralnya paling luas terbakar, yaitu mencapai 119.000 hektare.

Menurutnya, luasan lahan yang terbakar hingga September 2019 lebih besar dibandingkan dengan periode yang sama pada 2018 yang mencapai 510.000 hektare, dan 2016 mencapai 438.000 hektare.

Sementara itu, BNPB mencatat pada Selasa (22/10/2019) pada 08.00 WIB masih terjadi karhutla di sejumlah wilayah Indonesia. Titik panas atau hot spot teridentifikasi di enam provinsi yang menjadi perhatian BNPB, yaitu Sumatra Selatan 153 titik, Kalimantan Tengah 44 titik, Kalimantan Selatan 23 titik, Kalimantan Barat 5 titik, dan Jambi 2 titik.

“Masih adanya titik panas berpengaruh terhadap kualitas udara di wilayah terdampak. Data kualitas yang diukur dengan parameter PM 2,5 mengindikasikan kualitas pada tingkat baik hingga tidak sehat,” ujarnya.

Selain keenam provinsi tersebut, kebakaran juga masih terjadi di kawasan pegunungan, seperti Gunung Cikuray, Ungaran dan Arjuno-Welirang, dan Ringgit.

Hingga kini, BNPB masih menyiagakan sejumlah helikopter untuk pengeboman air atau water-bombing maupun patroli. Total air untuk pengeboman air di seluruh wilayah mencapai 392 juta liter.

Selain melakukan pengeboman air, BNPB bersama BPPT dan TNI melakukan operasi udara berupa teknologi modifikasi cuaca (TMC) dengan menggunakan fixed-wing. Total garam yang telah disemai pun  mencapai 272 ribu kg.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Karhutla

Editor : Lili Sunardi
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top