Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Perlambatan Ekonomi Jadi Fokus Utama Pertemuan IMF-World Bank 2019

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva sudah mengisyaratkan bahwa para ekonomnya akan memotong proyeksi pertumbuhan global dari proyeksi yang disampaikan pada Juli yakni 3,2% untuk tahun ini dan 3,5% untuk tahun depan, revisi akan diumumkan pada Selasa (15/10/2019), waktu setempat.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 14 Oktober 2019  |  16:45 WIB
Presiden Joko Widodo menyampaikan sambutan pada Pertemuan Tahunan IMF World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali, Jumat (12/10/2018). - ANTARA/Puspa Perwitasari
Presiden Joko Widodo menyampaikan sambutan pada Pertemuan Tahunan IMF World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali, Jumat (12/10/2018). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA -- Para pengawas ekonomi dunia akan bertemu dalam pertemuan tahunan International Monetary Fund dan World Bank di Washington, sepanjang pekan ini, di tengah kekhawatiran terhadap ekonomi dunia yang melambat.

Pertemuan ini dibuka dengan para pemimpin baru IMF dan World Bank yang sama-sama menyatakan keprihatinan mereka terhadap prospek ekonomi dunia.

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva sudah mengisyaratkan bahwa para ekonomnya akan memotong proyeksi pertumbuhan global dari proyeksi yang disampaikan pada Juli yakni 3,2% untuk tahun ini dan 3,5% untuk tahun depan, revisi akan diumumkan pada Selasa (15/10/2019), waktu setempat.

Ini akan menjadi penurunan proyeksi keempat sejak Oktober tahun lalu, mencerminkan apa yang disebut Georgieva pada pekan lalu sebagai perlambatan tersinkronisasi di mana 90% dunia mengalami pelemahan pertumbuhan.

Pekan lalu, dalam sebuah pidato menyambut pertemuan tahunan IMF, Georgieva mengatakan bahwa ketidakpastian yang disebabkan oleh perdagangan, Brexit, dan ketegangan geopolitik, telah membatasi ekspansi potensi ekonomi.

Tidak hanya itu, menurutnya, gangguan pada ekonomi dapat bertahan hingga satu generasi dengan kemungkinan perubahan yang tidak dapat dihindari, mulai dari rantai pasokan yang terputus hingga perdagangan yang tertutup.

"Saat ini kita sedang melambat, bukan berhenti, dan ini tidak terlalu buruk. Namun, jika kita tidak bertindak sekarang, akan ada risiko potensi perlambatan yang lebih besar," ujar Georgieva, dikutip melalui Bloomberg, Senin (14/10/2019).

Sebagian besar dari pertumbuhan ekonomi dunia akan bergantung pada kemajuan dari perundingan antara Amerika Serikat dan China, yang diakhiri dengan sebuah kesepakatan dagang parsial.

Namun, itu tidak berarti bahwa ketidakpastian perang dagang Presiden AS Donald Trump, yang berdampak terhadap ekonomi global sudah selesai.

Selain IMF, Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) memangkas perkiraannya bulan lalu.

Sementara itu, Presiden World Bank David Malpass mengatakan beberapa waktu lalu bahwa pemberi pinjaman tersebut sedang bersiap untuk menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia dari estimasi sebesar 2,6% yang dirilis pada Juni.

Menurut Georgieva, perlambatan ekonomi yang lebih dalam akan memerlukan lebih banyak respons fiskal yang terkoordinasi. Meskipun saat ini kondisinya masih cukup terkendali, akan lebih baik pencegahan dilakukan lebih dini.

Mengenai kebijakan moneter, Georgieva mengatakan bank-bank sentral harus mempertahankan suku bunga rendah tetapi tetap sesuai, terutama karena inflasi masih lemah di banyak negara dan pertumbuhan keseluruhan melemah.

Namun dia memperingatkan bahwa suku bunga yang sangat rendah atau bahkan negatif dapat menimbulkan efek samping negatif dan konsekuensi yang tidak diinginkan yang dapat menyebabkan kerentanan keuangan.

“Kebijakan moneter dan keuangan tidak dapat bekerja sendirian. Kebijakan fiskal harus memainkan peran sentral,” katanya.

PERKEMBANGAN GLOBAL

Gubernur The Fed Jerome Powell tidak dijadwalkan untuk tampil di publik sepanjang pekan ini, artinya para investor harus menunggu untuk tanda-tanda berikutnya tentang apakah bank sentral akan memangkas suku bunga untuk ketiga kalinya pada bulan ini.

The Fed Beige Book yang akan dirilis pada Rabu (16/10/2019), akan memberikan gambaran singkat terkait kondisi ekonomi Amerika Serikat.

Data ini akan dirilis beberapa jam setelah data penjualan ritel untuk September, di mana para ekonom memperkirakan pertumbuhan yang moderat.

Di Eropa, beberapa pejabat Bank Sentral Eropa dapat memanfaatkan pertemuan tahunan IMF-World Bank untuk melanjutkan diskusi terkait program stimulus yang diperdebatkan baru-baru ini.

Sementara itu di Inggris, data pasar tenaga kerja, inflasi dan penjualan ritel akan menggambarkan latar belakang ekonomi selama pekan politik yang tidak menentu menjelang kepergian Inggris dari Uni Eropa yang masih diselimuti keraguan.

Di Asia, beberapa bank sentral di dua ekonominya bergantung dengan perdagangan, seperti Singapura dan Korea Selatan akan mengumumkan kebijakan moneter pekan ini.

Bank Sentral Singapura untuk pertama kalinya melonggarkan kebijakan moneternya dalam tiga tahun terakhir di tengah risiko yang meningkat terhadap prospek pertumbuhan ekonomi.

Sementara itu di China, ekspor dan impor menyusut lebih dari yang diharapkan pada September. Data bea cukai China menunjukkan ekspor dalam dolar AS turun 3,2% secara tahunan, sedangkan impor turun 8,5%. Surplus perdagangan berada pada US$39,65 miliar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pertumbuhan ekonomi global
Editor : Achmad Aris
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top