Pemulihan Resesi Hong Kong Membutuhkan Waktu Lama

Ekonomi Hong Kong terkontraksi pada kuartal kedua dan dipastikan akan berlanjut untuk kuartal ketiga berdasarkan data per Agustus yang menunjukkan pelemahan.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 10 Oktober 2019  |  15:13 WIB
Pemulihan Resesi Hong Kong Membutuhkan Waktu Lama
Demonstran anti pemerintah menghadiri demonstrasi di distrik Wan Chai, di Hong Kong, China, 6 Oktober 2019. - REUTERS/Athit Perawongmetha

Bisnis.com, JAKARTA -- Pusat keuangan Asia kini dihadapi dengan resesi pertamanya sejak krisis keuangan global dengan prospek pemulihan yang akan memakan waktu lama di tengah aksi protes yang masih berlangsung.

Ekonomi Hong Kong terkontraksi pada kuartal kedua dan dipastikan akan berlanjut untuk kuartal ketiga berdasarkan data per Agustus yang menunjukkan pelemahan.

Kota yang dulunya adalah pusat kekuatan manufaktur Asia ini memiliki karakter ekonomi dan konsumen yang sangat rentan terhadap penurunan kepercayaan yang disebabkan oleh kekacauan beberapa bulan terkahir.

"Saya tidak melihat akan ada langkah-langkah kuat yang dapat membalikkan keadaan secara instan," ujar ekonom senior kawasan Asia di Pictet Wealth Management, Dong Chen, seperti dikutip melalui Bloomberg, Kamis (10/10/2019).

Dong adalah salah satu dari banyak pakar yang memperkirakan bahwa ekonomi Hong Kong akan mengalami kontraksi untuk kedua kalinya pada kuartal ketiga.

Skenario terbaik yang dapat dilakukan pemerintah setelah kerusuhan politik ini mereda adalah menyusun perencanaan jangka panjang atau kebijakan untuk memecahkan masalah struktural.

Efek dari perang dagang AS-China, ditambah dengan menurunnya minat belanja wisatawan juga meningkatkan prospek kontraksi selama setahun penuh, dibandingkan dengan 2018.

Penurunan bergerak dengan cepat, di mana penurunan ekspor dan aksi protes telah menghapus momentum ekonomi sejak awal 2019.

Ketika Menteri Keuangan Hong Kong Paul Chan meluncurkan anggarannya pada Februari pertumbuhan tahunan berada pada kisaran 2%-3%, pada bulan Agustus dia memangkas perkiraan itu menjadi 0%-1%.

Beberapa ekonomi memperkirakan pertumbuhan ekonomi Hong Kong untuk 2019 akan merosot jauh di bawah 1%.

Proyeksi terbaru JPMorgan Chase & Co. bahkan hanya menunjukkan angka 0,3%, pembacaan terlemah sejak 2009.

Penurunan ini juga berdampak pada pasar ekuitas Hong Kong. Indeks MSCI Hong Kong merosot sebesar 18% dari rekor tertinggi pada April, pada saat yang sama saham-saham real estat dan konsumen menurun.

Dalam kesempatan konferensi pers pada Selasa (8/10/2019), Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam menyampaikan bahwa jumlah kedatangan pengunjung sepanjang musim liburan Golden Week, pada 1-6 Oktober, turun lebih dari setengahnya pada saat yang sama tahun lalu.

Biasanya, wisatawan dari daratan China akan memadati kota tersebut selama libur panjang dan membelanjakan uang mereka di pusat-pusat wisata.

Bersamaan dengan kemungkinan resesi, pembacaan awal untuk pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang akan disampaikan pada 31 Oktober diindikasikan menunjukkan pelemahan untuk sisa tahun ini.

Menurut ekonom Bloomberg Qian Wan, dalam jangka pendek ekonomi Hong Kong akan mengalami resesi karena penopang pertumbuhan seperti perdagangan, pariwisata dan keuangan semuanya berada di bawah tekanan.

"...Kota tersebut kehilangan reputasinya sebagai pusat bisnis dan keuangan global, yang secara signifikan mengurangi prospek pertumbuhan jangka panjang," katanya.

Pemerintah kota Hong Kong mengumumkan paket stimulus sebesar US$2,4 miliar untuk menanggapi risiko pelemahan pertumbuhan.

Di tengah skala tantangan politik saat ini, paket tersebut tampaknya hanya akan memberikan sedikit dorongan, mengingat cadangan fiskal pemerintah sampai dengan akhir Maret tercatat sebesar 1,2 triliun dolar Hong Kong.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hong kong

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top