Australia Masih Sulit untuk Tinggalkan Batu Bara

Menteri Energi Angus Taylor mengatakan bahwa Australia harus segera mencari sumber alternatif agar pembangkit batu bara dapat tetap beroperasi, dia bahkan menyalahkan hal tersebut dengan adanya perpindahan ke sumber energi angin dan tenaga surya yang lebih dapat diandalkan.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 09 Oktober 2019  |  13:07 WIB
Australia Masih Sulit untuk Tinggalkan Batu Bara
ilustrasi - Reuters/Beawiharta

Bisnis.com, JAKARTA -- Sekitar dua pertiga sumber energi Australia berasal dari batu bara, bersamaan dengan rencana penutupan pembangkit tenaga batu bara yang sudah tua, negeri kanguru tersebut harus mencari pengganti yang memberikan tingkat keandalan dan keterjangkauan yang sama.

Menteri Energi Angus Taylor mengatakan bahwa Australia harus segera mencari sumber alternatif agar pembangkit batu bara dapat tetap beroperasi, dia bahkan menyalahkan hal tersebut dengan adanya perpindahan ke sumber energi angin dan tenaga surya yang lebih dapat diandalkan.

Komentar Taylor tersebut merupakan pernyataan pro-batu bara dari pemerintahan Scott Morrison yang bergantung pada sumber energi fosil sebagai penggerak ekonomi Australia.

Pernyataan pemerintah Australia tersebut bertentangan dengan seruan penutupan 21 pabrik batu bara serta tren bisnis yang kini lebih banyak menggunakan energi terbarukan.

"Rekor investasi pada energi terbarukan terkait erat dengan penurunan keandalan dan kenaikan harga energi," ujar Taylor pada konferensi di Sydney, seperti dikutip melalui Bloomberg, Rabu (9/10/2019).

Negara bagian Victoria dan Australia Selatan berada di zona bahaya, di mana kapasitas pembangkit untuk menghasilkan energi, kini tidak mampu memproduksi permintaan maksimum.

Taylor menambahkan bahwa selain berupaya menyelamatkan sumber energi batu bara, dia akan fokus pada menemukan proses yang hemat energi, daripada mendukung teknologi atau sumber energi tertentu.

Grattan Institue, sebuah think tank kebijakan publik, memperkirakan bahwa Australia kemungkinan membutuhkan sekitar US$270 miliar dalam aset pembangkit dengan skala utilitas baru untuk 30 tahun ke depan.

Industri ini secara luas menyetujui bahwa dibutuhkan daya yang lebih besar untuk mendukung energi terbarukan, sayangnya arah kebijakan pemerintah untuk mempromosikan investasi tersebut hingga saat ini belum mendukung.

"Kebijakan yang lemah dan bertahan selama satu dekade telah membuat pemerintah sulit untuk berkomitmen dalam investasi aset lama. Saat ini, harga energi yang lebih kuat tidak cukup untuk memastikan apakah sistem yang andal dapat dibangun," kata CEO Origin Energy Frank Calabria.

Dia menambahkan bahwa undang-undang energi Australia, yang diajukan kembali ke parlemen pada bulan lalu dan memberi ancaman bagi perusahaan yang menggabungkan usaha ritel dan pembangkit energi, justru menghambat investasi energi terbarukan yang sangat dibutuhkan.

Kerry Schott, Ketua Dewan Keamanan Energi, yang dibentuk oleh pemerintah nasional dan negara bagian untuk mengawasi reformasi pasar energi, mengatakan menambahkan generasi baru yang fleksibel dan tahan lama harus menjadi prioritas, tetapi batu bara bukanlah jawabannya.

Pembangkit listrik tenaga batu bara yang tidak fleksibel, yang harus tetap beroperasi pada siang hari bahkan dengan tenaga surya yang melimpah, akan menjadi hambatan dalam transisi menuju daya bersih.

Pemerintah Australia mendukung dua proyek infrastruktur energi utama yang bertujuan untuk meningkatkan keandalan jaringan aliran daya, antara lain proyek pumped-hydro Snowy senilai 5 miliar dolar Australia dan alat transmisi baru antara negara bagian pulau Tasmania dan daratan Australia.

Mereka juga berencana untuk menanggung proyek-proyek pembangkit baru, sebagian besar adalah pembangkit listrik tenaga gas.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
australia

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top