Sastrawan Eka Kurniawan Tolak Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi dari Kemendikbud

Sastrawan Eka Kurniawan menolak anugerah dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Penulis buku Lelaki Harimau juga Cantik Itu Luka menilai sejauh ini Pemerintah masih abai terhadap dunia kesusatraan dan kebudayaan.
Kahfi
Kahfi - Bisnis.com 09 Oktober 2019  |  20:34 WIB
Sastrawan Eka Kurniawan Tolak Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi dari Kemendikbud
Penulis Eka Kurniawan - Facebook

Bisnis.com, JAKARTA -- Sastrawan Eka Kurniawan menolak anugerah dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Penulis buku “Lelaki Harimau” juga “Cantik Itu Luka” menilai sejauh ini Pemerintah masih abai terhadap dunia kesusatraan dan kebudayaan.

Penolakan itu disampaikan Eka Kurniawan melalui dinding akun Facebook miliknya pada Rabu (9/10/2019). “Ketika sekitar dua bulan lalu saya dihubungi oleh staf Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, dengan informasi bahwa saya calon penerima Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2019, untuk kategori Pencipta, Pelopor dan Pembaru, yang rencananya diberikan besok, 10 Oktober 2019, pertanyaan saya adalah, “Pemerintah bakal kasih apa?” tulis Eka.

Eka mengungkapkan dalam anugerah itu, sastrawan terpilih akan mendapatkan pin dan uang Rp50 juta, dipotong pajak. Reaksi saya secara otomatis adalah, “Kok, jauh banget dengan atlet yang memperoleh medali emas di Asian Games 2018 kemarin?” ungkap Eka.

Lebih jauh, Eka menilai pemerintah belum serius memperhatikan dunia sastra dan kehidupan kebudayaan. “Seserius apa Negara memberi apresiasi kepada pekerja sastra dan seni, dan pegiat kebudayaan secara umum?” tulisnya.

Di sisi lain, Eka menyoal “dosa-dosa” Negara kepada kebudayaan. Antara lain, masih maraknya kejadian razia dan perampasan buku di toko-toko buku kecil.

“Kita tahu, itu kasus yang sering terjadi, dan besar kemungkinan akan terjadi lagi di masa depan. Bukannya memberi perlindungan kepada perbukuan dan iklim intelektual secara luas, yang ada justru Negara dan aparatnya menjadi ancaman terbesar,” sergah Eka.

Terlebih lagi, menurutnya, perhatian pemerintah minim terhadap industri perbukuan, terutama penerbit-penerbit kecil dan para penulis yang kerapkali menjerit dalam ketidakberdayaan menghadapi pembajakan buku. “Jika perlindungan kebebasan berekspresi masih terengah-engah (ilustrasi: gampang sekali aparat merampas buku dari toko), setidaknya Negara bisa memberi perlindungan secara ekonomi? Meyakinkan semua orang di industri buku hak-haknya tidak dirampok?” tulis Eka.

Paling mengecewakan buat Eka, Negara terkesan tak punya komitmen untuk melindungi para seniman dan penulis atas hak kehidupan. “Apa kabar penyair kami, Wiji Thukul? Presiden yang sekarang telah menjanjikan untuk menyelesaikan kasus-kasus HAM masa lalu, termasuk penghilangan salah satu penyair penting negeri ini. Realisasi? Nol besar.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sastrawan

Editor : Surya Mahendra Saputra

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top