Ekuador Berencana Keluar dari Keanggotaan OPEC

Ekuador mengungkapkan rencana untuk keluar dari keanggotaan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada Januari.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 02 Oktober 2019  |  15:57 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Ekuador mengungkapkan rencana untuk keluar dari keanggotaan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada Januari.

Bagi OPEC, keluarnya anggota lebih penting dalam hal simbolisme daripada jumlah produksi. Ekuador adalah salah satu produsen terkecilnya, tetapi menyatakan dengan jelas ingin meninggalkan grup untuk meningkatkan pendapatan minyak pada saat seluruh kartel tertekan akibat harga yang rendah.

Rencana Ekuador ini diungkapkan kurang dari setahun setelah Qatar mengumumkan akan keluar karena ingin fokus pada produksi gas alam.

"Ekuador bersikap jujur bahwa mereka tidak dapat melakukan pemangkasan produksi lebih lanjut," kata Schreiner Parker, wakil presiden direktur wilayah Amerika Latin di konsultan Rystad Energy, seperti dikutip Bloomberg.

Rencana ini terjadi di tengah upaya Presiden Ekuador Lenin Moreno untuk membalikkan kebijakan ekonomi yang diberlakukan oleh pendahulunya. "Moreno ingin mengejar kebijakannya sendiri yang lebih ramah pasar daripada yang diperkirakan orang," kata Parker.

Ekuador telah melampaui batas produksinya yang dijanjikan setiap bulan tahun ini. Pada bulan Februari, Menteri Sumber Daya Ekuador Carlos Perez mengatakan lagi bahwa mereka akan memacu produksi minyak melebihi batasnya.

"Kami akan terus menghasilkan apa yang kami butuhkan," kata Perez saat itu. "Jangan lupa bahwa apa yang diputuskan dalam OPEC tidak wajib."

Ini bukan kali pertama Ekuador meninginkan keluar dari OPEC. Setelah bergabung dengan OPEC pada tahun 1973, Ekuador menangguhkan keanggotaannya pada tahun 1992. Mantan Presiden Rafael Correa kemudian memulai kembali keanggotaan Ekuador pada tahun 2007.

Keluarnya Ekuador mengirim pesan ke industri minyak bahwa negara-negara anggota terbuka untuk bisnis yang lebih luas di Amerika Latin, dengan Venezuela tertekan oleh sanksi dan keruntuhan ekonomi, Meksiko menghentikan putaran penawaran baru, dan ketidakpastian politik menghambat investasi di Argentina.

Menghapus risiko hambatan produksi terkait OPEC di masa mendatang akan membuat Ekuador lebih mudah untuk pengebor minyak dan mendapatkan pembiayaan.

“Ini mengirimkan sinyal bahwa saat ini fokus Ekuador adalah mendatangkan banyak investasi dan membuka pasar baru. Kekosongan pasokan menyusul sanksi di Venezuela dan penurunan produksi Meksiko memberikan sinyal pemasaran yang menarik," kata John Padilla, direktur pelaksana IPD Latin America LLC.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
opec, ekuador

Editor : Rustam Agus
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top