Masker Penjernih Udara dari UNS dapat Digunakan Warga Terdampak Karhutla

Masker penyaring udara dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dapat menjadi salah satu cara masyarakat mendapatkan udara bersih di tengah serangan kabut asap akibat terbakarnya hutan dan lahan.
Anggara Pernando
Anggara Pernando - Bisnis.com 20 September 2019  |  01:40 WIB
Masker Penjernih Udara dari UNS dapat Digunakan Warga Terdampak Karhutla
Sejumlah siswa memakai masker saat berjalan menuju ke sekolah mereka, di Desa Suak Raya, Johan Pahlawan, Aceh Barat, Aceh, Kamis (27/7). - ANTARA/Syifa Yulinnas
 
Bisnis.com, JAKARTA  - Masker penyaring udara dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dapat menjadi salah satu cara masyarakat mendapatkan udara bersih di tengah serangan kabut asap akibat terbakarnya hutan dan lahan. 

Agus Wibowo, Plt. Kapusdatinmas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengharapkan seluruh lini masyarakat dapat terus bahu membahu untuk menanggulangi bencana asap yang tengah terjadi.

Menurutnya pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas dan media terus bekerja dalam penanggulangan bencana. 

"Masalah karhutla tidak dapat ditangani sendiri oleh satu institusi pemerintah saja, pemecahan masalah dan pencarian solusi dari semua ini memerlukam dukungan dan bantuan di berbagai unsur," jelas Agus, Kamis (19/9/2019).

Menurutnya salah satu bentuk kepedulian berbagai elemen ini adalah dengan diciptakan teknologi penjernih udara khusus bagi warga di Riau dan Palangkaraya.

"Dosen Fakultas Kedokteran (FK) UNS menciptakan alat bantu pernafasan sebagai solusi bagi warga agar terhindar dari dampak negatif asap. Alat bantu pernafasan yang diciptakan oleh dr. Darmawan Ismail Sp. BTKV diberi nama Surgeons of UNS (SUNS) Portable Air Filter ini dapat dibuat dan digunakan siapa saja," katanya.

Menurut Darmawan, SUNS Portable Air Filter ini mulai diciptakan tahun 2015 dan sudah dilakukan ujicoba.

“Sudah kami ujicoba dan hasilnya lebih bagus dibandingkan dengan menggunakan masker biasa. Artinya udara yang dihirup ketika menggunakan alat tersebut lebih bersih,” ujar Darmawan.

Dalam upaya memasyarakatkan alat tersebut, tim dari UNS akan bekolaborasi bersama Fakultas Kedokteran Universitas Riau dengan melakukan kegiatan pelatihan dan pemberian pemahaman lain terkait inovasi baru tersebut.

"Tim akan memberikan pelatihan di Riau dan Palangkaraya, sehingga warga bisa membuat alat ini. Cara membuat cukup mudah serta bahan yang digunakan mudah didapat. Dan tentunya biaya pembuatan sangat murah yaitu per unitnya sekitar Rp 25.000,” imbuh Darmawan.


Cara Membuat 
Adapun bahan yang digunakan untuk membuat alat pembersih udara ini meliputi kain kristik, kain tipis, perekat lepas pasang, tali bis, tali elastis, filter akuarium, mika tebal, selang aquarium, bola plastik mainan, spons dan Sarung tangan/hand scoon. 

Sedangkan untuk alat yang digunakan yaitu plaster, spidol, gunting, cutter, penggaris, lem tembak atau lilin dan hecter. 

Untuk mekanisme kerjanya, udara kotor masuk ke kotak humidifier melewati filter depan yang dilembabkan dengan air dan deterjen sebagai penyaring dan diberi aroma theraphy. 

Deterjen tersebut bekerja sebagai pengikat karbon atau penyaring sehingga udara bersih dapat dihirup melalui selang dan melewati katup bagian bawah dari masker. Kemudian udara kotor dibuang melalui katup bagian atas dari masker dan keluar dari sistem SUNS dengan tidak bercamp

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Karhutla

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top