China Beri Sinyal Stimulus Moneter Lanjutan

Pemerintah China mengisyaratkan pelonggaran moneter untuk memacu penyaluran kredit di tengah perlambatan ekonomi.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 05 September 2019  |  16:09 WIB
China Beri Sinyal Stimulus Moneter Lanjutan
Yi Gang, Gubernur Bank Sentral China (PBOC) - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah China mengisyaratkan pelonggaran moneter untuk memacu penyaluran kredit di tengah perlambatan ekonomi.

Dilansir Bloomberg, Dewan Negara China mendorong bank sentral untuk melakukan pelonggaran moneter, termasuk pemotongan persyaratan rasio cadangan modal perbankan untuk mendukung perekonomian serta langkah-langkah implementasi yang lebih cepat untuk mengurangi suku bunga pinjaman riil.

Pengumuman tersebut diungkapkan setelah mengadakan pertemuan dengan Perdana Menteri Li Keqiang pada Rabu (4/9/2019).

Bank sentral biasanya akan mengikuti permintaan dari Dewan Negara. People’s Bank of China terakhir membuat pemangkasan rasio cadangan minimum dalam jumlah besar pada bulan Januari, setelah pengumuman serupa oleh pertemuan Dewan Negara pada bulan Desember. Setelahnya, PBOC kembali menurunkan rasio pada bulan Mei.

Pemerintah juga menyerukan percepatan penerbitan obligasi khusus oleh pemerintah daerah pada pertemuan tersebut. Obligasi ini sebagian besar digunakan untuk membayar pengeluaran infrastruktur.

"Ini adalah sinyal pelonggaran terkuat dari setiap pertemuan kebijakan tahun ini," tulis Song Yu, kepala ekonom China di Beijing Gao Hua Securities Co., seperti dikutip Bloomberg.

"Langkah-langkah kebijakan yang diharapkan akan memberikan dukungan kepada ekonomi riil, mengurangi risiko perlambatan di semester kedua," lanjutnya, seraya mengingatkan masih ada ketidakpastian mengenai seberapa besar pelonggaran tersebut akan dilakukan.

Pernyataan Dewan Negara tersebut muncul ketika semakin banyak ekonom memangkas perkiraan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) China pada tahun 2020 menjadi di bawah 6 persen sebagai akibat dari meningkatnya risiko dari perang tarif dengan AS.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top