Klan Kwok Hadapi Kerugian Terbesar Akibat Kerusuhan Hong Kong

Klan Kwok, pendiri Sun Hung Kai Properties Ltd. yang merintis bisnis tersebut menjadi pengembang terbesar di Hong Kong, diketahui mengelola kekayaan senilai US$38 miliar atau kepemilikan aset tertinggi di kota itu.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 28 Agustus 2019  |  17:32 WIB
Klan Kwok Hadapi Kerugian Terbesar Akibat Kerusuhan Hong Kong
Para pemrotes RUU Anti-Ekstradisi membagikan selebaran kepada para penumpang selama demonstrasi massa di bandara internasional Hong Kong, di Hong Kong, China, 13 Agustus 2019. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA -- Li Kashing, dengan julukan 'Superman' dari para pengagumnya adalah salah satu dari beberapa miliarder lainnya yang datang dari Hong Kong.

Meskipun berada di bawah popularitas Li, keluarga ini memiliki popularitasnya sendiri di kota Hong Kong.

Klan Kwok, pendiri Sun Hung Kai Properties Ltd. yang merintis bisnis tersebut menjadi pengembang terbesar di Hong Kong, diketahui mengelola kekayaan senilai US$38 miliar atau kepemilikan aset tertinggi di kota itu.

Di saat Li mendiversifikasikan asetnya, sebagian besar pendapatan bisnis Klan Kwok masih berasal dari Hong Kong.

Penjualan Sun Hung Kai di Hong Kong saja mewakili 90% dari total pendapatan, meskipun generasi muda kini lebih memilih untuk membeli tanah di mainland China.

Meksipun kerusuhan berkepanjangan ini terjadi karena isu rancangan undang-undang ekstradisi yang kontroversial, sebagian pengunjuk rasa mengungkapkan bahwa harga rumah yang tinggi, kesenjangan kekayaan yang melebar dan pengaruh politik yang sangat besar dari para taipan properti adalah alasan mengapa mereka turun ke jalan selama 12 pekan berturut-turut.

Menurut penulis Alice Poon, yang juga merupakan mantan asisten personal Kwok Takseng, kebijakan tanah yang diwarisi dari Inggris, digabungkan dengan sistem elit politik yang membela kepentingan orang kaya, telah mengubah taipan properti Hong Kong menjadi sesuatu yang mirip dengan penguasa feodal.

“Mereka tidak dapat melakukan apa pun untuk memengaruhi kebijakan pemerintah, terutama kebijakan pertanahan. Itu sebabnya generasi muda tidak mampu membeli rumah sendiri. Kemarahan mereka semakin memuncak," kata Poon, seperti dikutip melalui Bloomberg, Rabu (28/8/2019).

Sejumlah perusahaan properti menguasai setidaknya 1.000 hektare lahan pertanian di Hong Kong, sebuah wilayah sekitar seperlima ukuran Manhattan, menurut perkiraan resmi. Sun Hung Kai memiliki salah satu bank tanah terbesar.

Seorang kepala proyek di Sun Hung Kai, Spencer Lu, menyampaikan bahwa perusahaan itu adalah salah satu pengembang paling produktif di Hong Kong dengan sekitar 3 juta kaki persegi konstruksi diselesaikan setiap tahun.

Harga jual huniannya mulai dari US$1.275 per kaki per segi. Itu berarti sekitar US$890.000 untuk apartemen seluas 700 kaki persegi, jauh dari jangkauan banyak masyarakat kota dengan pendapatan rumah tangga bulanan rata-rata adalah US$3.750.

Unjuk rasa yang telah berubah menjadi lebih serius dalam beberapa pekan terakhir menimbulkan tantangan bagi Sun Hung Kai.

Dalam jangka panjang, ancaman terbesar adalah meningkatnya kemarahan rakyat atas biaya real estat dan keterlibatan para taipan dan pemerintah.

Akan tetapi, perusahaan juga menderita hambatan jangka pendek karena demonstrasi menekan permintaan untuk apartemen baru dan melukai bisnis di mal-mal dan hotel yang mereka kelola meliputi Four Seasons dan Ritz-Carlton.

Saham Sun Hung Kai telah turun 11% sejak pertengahan Juni, dua kali lipat dari indeks acuan Hang Seng, karena penjualan ritel dan harga kamar hotel anjlok.

Sementara itu, pasar properti Hong Kong sejauh ini terbukti tangguh, Bank of America Corp mengatakan harga bisa turun 10% karena aksi unjuk rasa.

Klan Kwok telah bergabung dengan para baron realestat lainnya untuk menyerukan agar unjuk rasa segera berakhir.

Adam Kwok, seorang direktur eksekutif Sun Hung Kai yang merupakan satu dari 10 anak di bawah asuhan Walter dan dua saudara laki-lakinya, muncul pada rapat umum untuk mendukung pemerintah kota awal bulan ini.

Penerus Klan Kwok telah melahirkan beberapa ahli waris terkaya di Asia, dan seperti banyak ahli waris lainnya, mereka mengelola aset miliaran mereka bebas dari pajak negara. Ketentuan ini kemudian dihapuskan di Hong Kong sejak 2005.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hong kong

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top