Laju Pergeseran Sesar Sumatra Bertambah, Ini Dampaknya pada Peristiwa Gempa

Laju pergeseran sesar dapat menyebabkan peristiwa gempa. Pergeseran sesar yang bertambah berpotensi menyebabkan terjadinya gempa lebih besar.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 23 Agustus 2019  |  19:25 WIB
Laju Pergeseran Sesar Sumatra Bertambah, Ini Dampaknya pada Peristiwa Gempa
Ilustrasi-Grafik hasil pencatatan seismometer/seismograf, alat pencatat besaran gempa bumi. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Laju pergeseran sesar dapat menyebabkan peristiwa gempa. Pergeseran sesar yang bertambah berpotensi menyebabkan terjadinya gempa lebih besar.

Peneliti dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Murdik R Daryono mengatakan laju pergeseran sesar (patahan) Sumatra bertambah, menyebabkan produksi gempa lebih besar.

Murdik, di Jakarta, Jumat (23/8/2019) menuturkan laju pergeseran sesar Sumatera berubah dari 6 mm menjadi 10 mm per tahun. Laju pergeseran sesar dapat menyebabkan peristiwa gempa, salah satunya ketika sesar menumbuk daratan.

"Update terbaru mengenai slip rate (laju pergeseran) sesar Sumatra yang dulunya segmen paling selatan itu kita bilangnya 6 mm per tahun kita sudah update jadi 10 mm per tahun, konsekuensinya dengan produksi gempa jauh lebih besar juga macam-macam," katanya dalam diskusi di Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta.

Murdik mengatakan penelitian lebih lanjut untuk perbaruan data laju pergeseran sesar Sumatra dan sejarah kegempaaan harus terus dilakukan guna melihat potensi kebencanaan ke depan.

"Kita menunggu lima tahun ke depan harus update lagi mungkin ada penemuan hasil riset di laut jauh lebih rinci. Hasil studi tsunami terbaru yang sudah melewati proses review akademis yang baik sehingga bisa memberikan ke masyarakat [informasi] yang lebih presisi," tuturnya.

Murdik menuturkan pemerintah Indonesia terus memperkuat ketahanan dan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana. Berbagai upaya untuk membangun masyarakat tangguh bencana melalui edukasi dan sosialisasi harus terus dilakukan.

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah melaksanakan program Ekspedisi Desa Tangguh Bencana (Destana) Tsunami 2019 bekerja sama dengan banyak pihak, baik dari unsur pemerintah, masyarakat, lembaga usaha, akademisi, serta media massa.

Ekspedisi Destana Tsunami 2019 dilaksanakan sejak 12 Juli 2019 sampai 17 Agustus 2019. Dimulai dari Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, tim Ekspedisi Destana 2019 beranjak ke barat melalui jalur darat hingga pemberhentian terakhir di Kabupaten Serang, Banten.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
gempa

Sumber : Antara

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top