Inflasi Jepang Stagnan, Ekspektasi Pelonggaran BOJ Meningkat

Indeks harga konsumen utama Jepang tumbuh pada laju yang stagnan pada Juli di tengah meningkatnya spekulasi bahwa Bank Sentral Jepang (BOJ) dapat meningkatkan stimulusnya pada awal bulan depan.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 23 Agustus 2019  |  14:16 WIB
Inflasi Jepang Stagnan, Ekspektasi Pelonggaran BOJ Meningkat
Seorang wanita di toko Uniqlo Fast Retailing di Tokyo, Jepang (24/1/2017). - .Reuters/Kim Kyung/Hoon

Bisnis.com, JAKARTA -- Indeks harga konsumen utama Jepang tumbuh pada laju yang stagnan pada Juli di tengah meningkatnya spekulasi bahwa Bank Sentral Jepang (BOJ) dapat meningkatkan stimulusnya pada awal bulan depan.

"Tidak termasuk makanan segar, indeks harga konsumen naik 0,6% pada Juli secara tahunan. Sesuai dengan estimasi median ekonom," menurut data Kementerian Urusan Dalam Negeri Jepang, seperti dikutip melalui Bloomberg, Jumat (23/8/2019).

Dampak pelemahan yang disebabkan oleh penurunan harga bahan bakar berhasil ditopang oleh harga handset ponsel yang tumbuh dengan solid.

Dengan ekonomi global dilanda perang tarif AS-China dan ketidakpastian permintaan pada paruh kedua tahun ini, perhatian telah beralih ke bank sentral global untuk mengukur kesiapan mereka untuk stimulus lebih lanjut.

Sebuah jajak pendapat Reuters baru-baru ini menunjukkan, harapan bahwa BOJ akan melonggarkan lebih lanjut telah tumbuh, menyusul komitmen bank sentral pada pertemuan kebijakan terakhirnya untuk memperluas stimulus jika perlambatan global berlanjut dan mengancam akan mengganggu pemulihan ekonomi Jepang.

Akan tetapi, data menunjukkan bank sentral tertinggal jauh dalam upayanya untuk mencapai target inflasi 2% di saat ekspor merosot selama 8 bulan akibat perang perdagangan AS-China dan melambatnya permintaan global berdampak pada ekonomi terbesar ketiga dunia.

"Kita tinggal menghitung waktu sebelum BOJ mengakui bahwa momentum tingkat inflasi yang lebih tinggi semakin jauh," kata Masaaki Kanno, Kepala Ekonom di Sony Financial Holdings.

Dia menambahkan bahwa Jepang tidak berada pada posisi deflasi tetapi inflasi tetap berada jauh di bawah target BOJ.

Kategori produk di mana harga mengalami kenaikan termasuk makanan olahan, listrik dan furnitur, sedangkan yang turun termasuk makanan segar dan bensin.
 
Ekonomi Jepang tumbuh 1,8% secara tahunan pada kuartal kedua berkat konsumsi rumah tangga yang kuat dan investasi bisnis.

Namun terlepas dari tanda-tanda kekuatan di dalam negeri, para analis telah memperingatkan momentum kenaikan permintaan global sangat penting untuk menentukan prospek pertumbuhan.

Pada Juli, ekspor merosot untuk bulan kedelapan, menandai penurunan ekspor terpanjang selama 14 bulan dari Oktober 2015 hingga November 2016.

Di sisi lain, survei Reuters Tankan menunjukkan kepercayaan produsen Jepang berubah negatif untuk pertama kalinya sejak April 2013.

Bulan lalu, The Fed memangkas suku bunga untuk pertama kalinya sejak krisis keuangan terakhir, meskipun risalah pertemuan FOMC pada Juli menunjukkan para pembuat kebijakan sangat terpecah mengenai keputusan pelonggaran tersebut

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi jepang

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top