Ketika Sejumlah Korporasi Siap Hijrah dari China

Beberapa perusahaan teknologi telah menyiapkan rencana cadangan jika perang dagang antara Amerika Serikat dan China berakhir menjadi lebih parah, yaitu dengan memindahkan produksi mereka keluar dari China.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 19 Agustus 2019  |  11:26 WIB
Ketika Sejumlah Korporasi Siap Hijrah dari China
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping menghadiri pertemuan bilateral kedua negara di sela-sela KTT G20 di Osaka, Jepang, Sabtu (29/6/2019). - Reuters/Kevin Lamarque

Beberapa perusahaan teknologi telah menyiapkan rencana cadangan jika perang dagang antara Amerika Serikat dan China berakhir menjadi lebih parah, yaitu dengan memindahkan produksi mereka keluar dari China.

Cupertino dan Foxconn (Hon Hai), perusahaan manufaktur utama untuk produk Apple Inc., yang beberapa bulan lalu menyatakan bahwa mereka memiliki kapasitas yang cukup untuk melakukan produksi iPhone yang akan dipasarkan di AS, di kawasan lain selain China, jika perlu.

Beberapa waktu lalu, pembuat laptop HP Inc., Inventec Corp., mengatakan akan memindahkan produksi notebook untuk pasar AS keluar dari China dalam beberapa bulan ke depan.

Pengumuman ini menambah eksodus industri teknologi dari daratan China di tengah intensitas perang dagang antardua ekonomi terbesar dunia yang sempat memanas.

Pekan lalu, Direktur Inventec Maurice Wu mengatakan bahwa dia berencana untuk memindahkan seluruh kegiatan operasional produksi laptop yang terikat dengan pasar AS ke pusat perusahaan di Taiwan dalam kurun waktu 2 hingga 3 bulan.

Selain komputer notebook HP, perusahaan Wu juga merakit AirPods, produk aksesoris Apple, yang menyumbang sekitar sepertiga dari total pendapatan perusahaan.

Meskipun Presiden AS Donald Trump telah memutuskan untuk menunda tarif 10% terhadap tambahan impor China, termasuk laptop dan produk lainnya, perusahaan-perusahaan tersebut tidak dapat menunggu resolusi perdagangan.

Dari Inventec hingga Hon Hai Precision Industry Co., kedua perusahaan asal Taiwan yang memproduksi sebagian besar produk elektronik dunia kini tengah mempertimbangkan kembali ketergantungan mereka terhadap China jika suatu saat nanti perang dagang mereda.

"Pergeseran produksi telah merusak upaya efisiensi dan margin perusahaan. Perang dagang sangat menyakitkan bagi kami," ujar Wu, seperti dikutip melalui Bloomberg, Minggu (18/8/2019).

Peningkatan tarif terhadap produk buatan China mengancam margin perusahaan terhapus dan mengganggu rantai pasokan yang sudah berlangsung selama beberapa dekade.

Microsoft Corp, Amazon.com Inc., Sony Corp dan Nintendo Co. adalah di antara perusahaan lainnya yang tengah menimbang pilihan mereka untuk menjauhi titik krisis dari perang dagang, menuju kawasan terdekat seperti Asia Tenggara dan India.

Dilansir melalui Bloomberg, Google Alphabet Inc. telah mengalihkan sebagian besar produksi motherboard yang akan dijual di pasar AS ke Taiwan.

Hampir berlangsung secara bersamaan, CEO Compal Electronics Inc. Martin Wong, yang merupakan rival dari Inventec, mengatakan bahwa pihaknya telah menggeser beberapa produksi lini produk notebook ke Taiwan serta mempertimbangkan untuk melakukan lebih banyak investasi di Vietnam jika perang tarif tidak kunjung selesai.

Sementara itu, Direktur Quanta Computer Inc. Barry Lam mengatakan pada pekan lalu bahwa bisnisnya dipastikan pindah ke Asia Tenggara, tetapi belum ada tenggat waktu yang ditentukan.

"Quanta untuk saat ini bertujuan untuk memenuhi permintaan pelanggan untuk melakukan produksi di luar China dengan memanfaatkan fasilitas yang ada di Taiwan," ungkap CFO Quanta Elton Yang.

Sebagian besar kontraktor Taiwan untuk saat ini dikabarkan sedang menyusun rencana kontingensi, menggeser operasi perakitan tertentu atau mencari lokasi alternatif. Para analis mengantisipasi penundaan tarif hanya akan memberikan dampak kecil terhadap rencana itu.

Analis Goldman Sachs menulis tanggapan yang mengatakan meskipun pengumuman ini tampaknya memberikan informasi tambahan yang ramah pasar tentang bagaimana Gedung Putih melakukan pendekatan kebijakan perdagangan, mereka tidak percaya langkah penundaan tarif dapat menciptakan perubahan besar dalam perselisihan AS-China.

"Perkiraan kami AS dan China tidak mungkin mencapai sebuah kesepakatan yang bertahan lama sebelum pemilihan 2020 untuk memberikan kepastian seputar tarif impor dari China," tulis analis Goldman Sachs.

Kebijakan Trump yang sering berubah-ubah, termasuk langkah terbarunya untuk menunda sebagian tarif 10% terhadap produk China senilai US$300 miliar dari September menjadi Desember, kemungkinan besar akan memicu eksodus produsen China yang lebih besar.

MENCARI ALTERNATIF

Pada saat perusahaan-perusahaan yang berbasis di AS mencari alternatif di luar daratan China, mitra dagang mereka yang berada di China juga tengah berupaya mengurangi ketergantungan terhadap teknologi inti AS untuk menghindari nasib yang sama seperti yang dialami Huawei Technologies Co.

"Baik perusahaan AS dan China, mereka mendiversifikasi rantai pasokan karena alasan yang sama yaitu untuk mengurangi risiko geopolitik," kata Gordon Sun, Direktur Taiwan Institute of Economic Research’s Macroeconomic Forecasting Center.

Taiwan dan Asia Tenggara adalah kawasan pertama yang menyerap eksodus manufaktur dari China.

Vietnam telah menjadi penerima manfaat terbesar dari perang dagang sejak ketegangan dimulai pada kuartal pertama 2018, di mana peralihan perdagangan menyumbang kenaikan 7,9% terhadap PDB.

Batam, yang dulunya merupakan daerah kepulauan Indonesia yang dilanda kemiskinan, kini berada di puncak berkat tenaga kerja murah yang melimpah dan akses cepat ke pusat perdagangan Singapura yang berdekatan.

Pegatron Corp. telah menggelontorkan US$40 juta dalam investasi pabrik terbarunya di Indonesia, yang akan memproduksi peralatan jaringan untuk pasar AS. Perusahaan asal Taiwan tersebut berniat untuk menambah jumlah tenaga kerja di sana dari 40 orang menjadi sekitar 1.800.

"Kami sangat ingin berinvestasi lebih banyak," kata Wakil Ketua Pegatron, Jason Cheng.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perang dagang AS vs China

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top