Haru-biru Cerita Soekarno, Edhi Sunarso, dan Patung Pancoran

Mengenang kisah di balik proses pembuatan Patung Dirgantara, Galeri Nasional Indonesia menampilkan miniaturnya dalam Pameran Seni Rupa Koleksi Nasional #2 dengan tema Lini Transisi.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 15 Agustus 2019  |  15:25 WIB
Haru-biru Cerita Soekarno, Edhi Sunarso, dan Patung Pancoran
miniatur Patung Pancoran koleksi Galeri Nasional.

Bisnis.com, JAKARTA - Pagi hari saat matahari sepenggalah, sekitar pukul 10.00 WIB, Minggu 21 Juni 1970, Edhi Sunarso turun dari puncak Patung Dirgantara dengan tergesa. Ada air mata menggenang di matanya. Baru saja melintas di bawah patung yang belum rampung itu iring-iringan kendaraan yang membawa jenazah Bung Karno.

Jenazah dibawa dari Wisma Yaso di Jalan Gatot Subroto No.14, kini Museum Satria Mandala TNI, menuju Pangkalan Udara Halim Perdanakusumah untuk diterbangkan ke Blitar. Tak pikir panjang, Edhi segera mengejar iring-iringan menuju Blitar dan mengikuti upacara pemakaman Bung Karno.

Sebulan setelah peristiwa itu Edhi bersama tim berhasil merampungkan pemasangan patung, yang kini populer dengan sebutan Tugu Pancoran itu, dalam keadaan tanpa nama, tanpa peresmian, bahkan meninggalkan utang.

Mengenang kisah di balik proses pembuatan Patung Dirgantara, Galeri Nasional Indonesia menampilkan miniaturnya dalam Pameran Seni Rupa Koleksi Nasional #2 dengan tema Lini Transisi.

Kurator Suwarno Wisetrotomo mengatakan, miniatur patung ini sengaja diletakkan di ruang khusus tanpa ditemani benda seni lainnya.

"Mengapa di sini hanya ada dia, mari kita kontemplasi membayangkan situasi sekian puluh tahun lalu," ujarnya.

Tak hanya itu, Bung Karno diketahui ikut merogoh koceknya sendiri untuk membangun patung ini. Dia bahkan sampai menjual mobil kesayangannya.

Total biaya pembuatan Patung Dirgantara berkisar Rp12 juta, di luar pembangunan tiang penyangga. Pemerintah memberi uang muka Rp5 juta, sementara Bung Karno secara pribadi menyumbang Rp 1 juta.

Peristiwa Gerakan 30 September 1965 berimbas pada mangkraknya pemasangan patung pada tiang penyangga. Pada 1970 saat Soekarno kembali menanyakan nasib Patung Dirgantara, Edhi mengatakan dirinya kehabisan uang. Dia juga berterus terang bahwa utangnya belum terbayar dan rumahnya disegel.

Saat mendengar cerita itu, Bung Karno memutuskan menjual mobilnya. Uang hasil penjualan mobil diserahkan kepada Edhi untuk merampungkan pemasangan patung itu.

Pameran Lini Transisi

Selain miniatur itu, ada total 50 benda seni, sebagian besar lukisan, dihadirkan dalam pameran ini. Seluruhnya merupakan koleksi dari lima instansi pemerintah, yakni Galeri Nasional, Kementerian Luar Negeri, Museum Sejarah Jakarta, Museum Bank Indonesia, dan Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta.

Pameran menampilkan karya-karya perupa antara 1950an hingga 1980an, atau pascakemerdekaan hingga sebelum Orde Baru runtuh. Masing-masing mengandung narasi sejarah dan menandai momentum penting perjalanan seni rupa di Indonesia.

Itulah mengapa Lini Transisi diambil sebagai benang merah, yakni untuk membentangkan cerita bagaimana negeri ini lahir, tumbuh dan ingin hadir di tengah dunia dengan manusiawi melalui karya seni.

Karya-karya pascakemerdekaan hingga Orde Baru dipilih untuk menunjukkan bahwa perjuangan menjadi bangsa juga dikelilingi orang-orang biasa yang pantas disebut pahlawan. Pameran berlangsung sepanjang Agustus di gedung utama Galeri Nasional.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
galeri nasional, sejarah, bung karno

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top