Perjalanan Panjang Mbah Moen Berakhir di Masjidil Haram

Indonesia kehilangan sosok ulama bernama KH Maimoen Zubair. Dia wafat di Mekkah, Arab Saudi seusai shalat Subuh, Selasa (6/8/2019). Masyarakat dibuat tak percaya atas kabar wafatnya sang kiai karismatik ini.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 07 Agustus 2019  |  09:53 WIB
Perjalanan Panjang Mbah Moen Berakhir di Masjidil Haram
Syeik Abdul Somad bersama K.H. Maimoen Zubair alias Mbah Moen. (Instagram/Ustad Abdul Somad)

Bisnis.com, JAKARTA - Indonesia kehilangan sosok ulama bernama KH Maimoen Zubair. Dia wafat di Mekkah, Arab Saudi seusai shalat Subuh, Selasa (6/8/2019). Masyarakat dibuat tak percaya atas kabar wafatnya sang kiai karismatik ini.

Wafatnya ulama besar tersebut seolah mengejutkan masyarakat seantero Tanah Air. Informasi langsung tersebar di berbagai grup whatsapp hingga media sosial. Padahal Kiai yang akrab disaba Mbah Moen ini meninggal dunia di Mekkah Arab Saudi.

Mbah Moen berangkat ke Arab Saudi untuk memenuhi undangan dari Kerajaan Arab Saudi menunaikan rukun Islam kelima. Namun, tidak ada yang menduga, kepergiannya menjadi perpisahan dengan para murid dan keluarga.

Semasa hidupnya, Mbah Moen memiliki pengalaman karir politik dan agama cukup mentereng. Dia dikenal sebagai seorang alim ulama ahli fikih namun juga popular di dunia politik. Namanya dijadikan sebagai rujukan masyarakat untuk mengetahui tentang masalah fikih.

Kiai Maimoen lahir pada 28 Oktober 1928. Dia wafat hanya berselang sekitar dua bulan sebelum usianya menyentuh angka 91 tahun. Sejak masa kecilnya, Mbah Moen sudah lekat dengan agama termasuk atas asuhan orang tuanya Kiai Zubair.

Di usia remaja, Mbah Moen sudah memutuskan menuntut ilmu ke Mekkah, Arab Saudi. Dia ditemani oleh kakeknya Kiai Ahmad bin Syuaib. Dia juga sempat belajar dengan banyak ulama termahsyur selama di kota  tersebut.

Beberapa tahun berselang, Mbah Moen masih meluangkan waktu untuk mengaji dengan beberapa ulama di Jawa seperti Kiai Baidhowi, Kiai Ma`shum Lasem, hingga Kiai Bisri Musthofa Rembang.

Proses menuntut ilmu agamanya turut diasah hingga ke beberapa daerah mulai dari Kota Rembang, Cirebon, Demak hingga Tuban, Jawa Timur. Hasilnya, Kiai Maimun menjadi penulis kitab agama salah satunya seperti al Ulama al Mujaddidun.

Pada 1965, Mbah Moen sudah memulai mengambangkan pondok pesantren al Anwar, Sarang. Pesantren ini kemudian menjadi rujukan para penuntut ilmu untuk belajar kitab kuning dan ilmu lainnya.

Karir Politik

Dari berbagai literatur, Maimoen Zubair disebut sebagai tokoh politik penting di Jawa Tengah. Mbah Moen pernah menjadi anggota DPDR Rembang selama 7 tahun.

Almarhum juga sempat menjabat sebagai anggota MPR RI selama tiga periode mewakili Jawa Tengah. Saat itu, KH Maimun Zubair juga aktif sebagai Dewan Syuro Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Mbah Moen tergolong santai dalam pilihan politik. Dia tidak terlihat memiliki beban saat mendukung Prabowo Subianto pada Pilpres 2014. Ketika itu, mantan Danjen Kopassus itu berpasangan dengan Hatta Rajasa.

Atas dukungan tersebut, pasangan itu mendapat dukungan tinggi di lingkungan pesantren KH Maimun. Prabowo - Hatta memperoleh 3.223 suara. Sementara Joko Widodo - Jusuf Kalla sebagai penantang hanya 1.637 suara.

Mbah Moen sempat menghebohkan kontestasi Pilpres tahun ini. Pasalnya dia menjadi rebutan dua kubu yaitu Prabowo - Sandiaga Uno dan Jokowi - Ma`ruf Amin. Bahkan kedua penantang sama-sama mengklaim telah didukung Mbah Moen dalam Pilpres.

Video dukungan bahkan sempat viral di media sosial saat Mbah Moen sedang memanjatkan doa. Mbah Moen sempat mendoakan sembari menyebutkan nama Prabowo Subianto, alih-alih menyebut Joko Widodo yang berada di dekatnya. Video tersebut sempat heboh dengan istilah yang dikenal dengan doa yang tertukar.

Namun, kemudian Mbah Moen mengklarifikasi bahwa dirinya mendukung pasangan Joko Widodo - Ma`ruf Amin.

Beda Pilihan Politik

Mbah Moen terbilang santai melihat berbedaan politik dalam keluarganya. Seperti anaknya Taj Yasin. Dia dipinang oleh Ganjar Pranowo sebagai wakil Gubernur Jawa Tengah. Alhasil Taj Yasin mendukung Jokowi sebagai Presiden lantaran Ganjar berasal dari PDI Perjuangan.

Namun beberapa anak KH Maimoen Zubair lainnya mendukung Prabowo sebagai calon presiden. Salah satunya Muhammad Najid yang merupakan kakak Taj Yasin. Pun begitu, keluarga ini tetap terlihat harmonis.

Keteguhan dan ketengan jiwa Mbah Moen agaknya menjadi lentera bagi keluarganya dan para santrinya. Di usia cukup tua tersebut, Mbah Moen tak henti membagikan ilmu kepada para santrinya.

Akan tetapi, kini para santri dan masyarakat Indonesia tak lagi dapat melihat sosok ini. Subuh hari pada Selasa (6/8/2019) waktu Arab Saudi, KH Maimun Zubair menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit An Nur Arab Saudi.

Wafat dan dikuburkan Arab Saudi selama ibadah haji merupakan cita-cita seluruh muslim. Cara ini kian mendekatkan antarhamba dengan sang Khalik. Ini juga diyakini sebagai keinginan Mbah Moen.

Lalu, KH Maimoen Zubair mendapat panggilan itu. Dia dipanggil Allah pada hari Selasa, waktu terbaik bagi ahli agama dicabut nyawanya. Sosoknya memang teladan, sukses di kehidupan dunia, merdeka di alam akhirat. Selamat jalan, Mbah Moen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pdip, ppp, Mbah Moen

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top