RBA Tahan Kebijakan Suku Bunga 1 Persen

Bank Sentral Australia (RBA) memutuskan untuk tidak mengubah kebijakan suku bunga acuan menyusul dua pemangkasan pada Juni dan Juli, yang diikuti dengan pelemahan mata uang dolar Australia di tengah eskalasi ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan China.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 06 Agustus 2019  |  16:17 WIB
RBA Tahan Kebijakan Suku Bunga 1 Persen
Sydney, Australia - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Bank Sentral Australia (RBA) memutuskan untuk tidak mengubah kebijakan suku bunga acuan menyusul dua pemangkasan pada Juni dan Juli, yang diikuti dengan pelemahan mata uang dolar Australia di tengah eskalasi ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan China.

Gubernur RBA Philip Lowe dan dewan gubernurnya menahan suku bunga acuan pada level 1%, sesuai dengan ekspektasi, dengan latar belakang penurunan dolar Australia sebesar lebih dari 3% sejak pemangkasan pada Juli yang diperuntukkan sebagai stimulus bagi industri ekspor-impor.

Kebijakan ini juga menguatkan alasan bank sentral untuk menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini di tengah kondisi global yang kacau serta perang dagang AS-China yang berubah menjadi perang mata uang.

Lowe mengatakan, ekspektasi bahwa masa di mana suku bunga rendah jangka panjang dibutuhkan oleh Australia akan membantu menekan tingkat pengangguran dan mendorong upaya untuk mencapai target inflasi adalah sebuah perkiraan yang masuk akal.

"Dewan gubernur akan terus memantau kemajuan pada pasar tenaga kerja secara seksama dan kemungkinan pelonggaran kebijakan moneter jika diperlukan," ujarnya dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip melalui Bloomberg, Selasa (6/8/2019).

Ekonomi Australia telah mengalami perlambatan tajam sejak pertengahan tahun lalu di tengah meningkatnya utang rumah tangga ke rekor tertinggi dan pertumbuhan pendapatan yang lemah.

Bank sentral memutuskan untuk melakukan pelonggaran kebijakan moneter pada Juni dan Juli, sebuah langkah pemotongan pertama secara berturut-turut sejak 2012, di tengah usaha RBA untuk menyalurkan likuiditas kepada masyarakat melalui beban hipotek yang rendah dan menurunkan dolar lokal.

"Dolar Australia berada pada level terendah baru-baru ini. Ke depan, pertumbuhan di Australia diperkirakan akan terus menguat secara bertahap," kata Lowe.

Selain menahan kebijakan suku bunga, RBA menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2019 sebesar 25 bps menjadi 2,5% dan 2,75% untuk 2020. Mata uang Australia sempat mengalami sedikit perubahan menyusul pernyataan ini.

"Kami memperkirakan RBA akan membukan pintu untuk peluang pelonggaran lebih lanjut. Beberapa data terbaru memberikan semangat bagi ekonomi, tetapi akan butuh waktu bagi RBA untuk melihat kebijakan mereka menunjukkan dampaknya bagi tingkat pengangguran dan inflasi," ujar ekonom Bloomberg, Tamara Mast Henderson.

Lowe mengutarakan bahwa dirinya siap untuk mengeluarkan kebijakan lainnya jika ekonomi Australia gagal menunjukkan penguatan.

RBA berharap bahwa AS dan China akan menarik diri dari jurang perang tarif yang lebih parah dan menanti dampak dari kombinasi penurunan suku bunga, keringanan pajak, pasar perumahan yang stabil, proyek infrastruktur pemerintah dan rencana investasi perusahaan swasta akan menjaga ekonomi lokal terus berdetak.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
australia

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top