Obligasi Indonesia dan India Makin Laris, Money Manager Peringatkan Risikonya

"Prospek pasar emerging market Asia telah menerima dorongan dari komentar The Fed yang berencana akan hanya memberikan bantuan jangka pendek ke pasar," kata Alexander Zeeh, CEO S.E.A. Aset di Singapura, merujuk pada pernyataan dovish Gubernur Jerome Powell kepada anggota parlemen awal bulan ini, seperti dikutip melalui Bloomberg, Rabu (31/7/2019).
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 31 Juli 2019  |  18:02 WIB
Obligasi Indonesia dan India Makin Laris, Money Manager Peringatkan Risikonya
Karyawan mencari informasi tentang obligasi di Jakarta, Rabu (17/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA -- Perburuan imbal hasil paling tinggi telah menyebabkan permintaan tinggi pada obligasi Indonesia dan India tahun ini, meski demikian para money manager memperingatkan bahwa perdagangan aset ini makin berisiko.

Setidaknya, para investor asing telah menggelontorkan lebih dari US$11 miliar ke dalam obligasi bermata uang rupiah dan rupee sepanjang tahun ini, setelah penarikan gabungan sebesar US$3 miliar pada 2018.

Menurut sejumlah investor termasuk S.E.A. Asset Management Pte dan Schroder Investment Management Ltd., antusiasme terhadap kebijakan moneter longar dan dampak ketidakpastian dari perang dagang AS-China menimbulkan momok bahwa arus masuk dapat berbalik.

"Prospek pasar emerging market Asia telah menerima dorongan dari komentar The Fed yang berencana akan hanya memberikan bantuan jangka pendek ke pasar," kata Alexander Zeeh, CEO S.E.A. Aset di Singapura, merujuk pada pernyataan dovish Gubernur Jerome Powell kepada anggota parlemen awal bulan ini, seperti dikutip melalui Bloomberg, Rabu (31/7/2019).

Dia menambahkan, pihaknya akan mewaspadai ketahanan ekonomi Asia di tengah lemahnya perdagangan dan penurunan PMI.

Dengan pasar global memasuki era pelonggaran moneter baru, investor obligasi dengan cepat pindah ke pasar di mana imbal hasil tinggi dan ada banyak ruang untuk penurunan suku bunga.

Obligasi negara India telah mencatatkan kenaikan untuk bulan ketiga, dengan batas imbal hasil turun 100 basis poin tahun ini menjadi 6,37% pada Rabu (31/7/2019), sedangkan imbal hasil di Indonesia telah turun lebih dari setengah poin persentase menjadi 7,37%, di antara penurunan terbesar di Asia lainnya.

Powell terlihat siap untuk memotong suku bunga sebesar seperempat poin pada pertemuan bulanan FOMC yang berlangsung 30-31 Juli, para traders di pasar obligasi berjangka memperkirakan akan ada sekitar dua lagi pemangkasan lagi pada awal tahun depan.

Namun dengan data ekonomi AS yang masih relatif kuat, ketidakpastian atas laju pemotongan tetap tinggi.

Bagi kepala riset fixed income di Bank of Singapore Ltd., Todd Schubert, selama The Fed akan menjaga nada dovish dan kepastian pelonggaran kebijakan moneternya, obligasi emerging market Asia siap untuk menggarap lebih banyak keuntungan.

"Antisipasi pada penurunan suku bunga The Fed akan memicu tren pelonggaran kebijakan moneter global yang diikuti oleh bank sentral lainnya, memberikan dampak positif bagi aset berisiko," kata Schubert.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Bursa Asia

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top