Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

China Berencana Tambah Pembelian Kedelai AS

Pemerintah China dikabarkan tengah berdiskusi dengan pembeli komoditas kedelai dari kalangan perusahaan milik negara dan swasta mengenai rencana pembelian pasokan dari Amerika Serikat.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 22 Juli 2019  |  17:02 WIB
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping menghadiri pertemuan bilateral kedua negara di sela-sela KTT G20 di Osaka, Jepang, Sabtu (29/6/2019). - Reuters/Kevin Lamarque
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping menghadiri pertemuan bilateral kedua negara di sela-sela KTT G20 di Osaka, Jepang, Sabtu (29/6/2019). - Reuters/Kevin Lamarque

Bisnis.com, JAKARTA -- Pemerintah China dikabarkan tengah berdiskusi dengan pembeli komoditas kedelai dari kalangan perusahaan milik negara dan swasta mengenai rencana pembelian pasokan dari Amerika Serikat.

Menurut sejumlah sumber yang meminta untuk tidak diidentifikasi, pemerintah bertemu dengan pihak pembeli pada Jumat (19/7/2019), di Beijing, guna membahas rencana untuk membeli lebih banyak kedelai yang dapat mendorong AS menghapus tarif impor.

"Pemerintah untuk saat ini masih menunggu jawaban dan saran dari para pembeli dan rencana tersebut dapat berubah kapan saja tergantung pada kemajuan dalam perundingan dagang," seperti dikutip melalui Bloomberg, Senin (22/7/2019).

Perkiraan awal menunjukkan volume pembelian kali ini dapat mencapai kisaran 3,8 juta dan 6 juta ton untuk pengiriman pada September.

Rencana terbaru ini menyusul keluhan dari Presiden AS Donald Trump bahwa China belum meningkatkan pembelian produk pertanian mereka, sebuah janji yang katanya disepakati pada pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping, pada KTT G20 bulan lalu.

Trump pekan lalu menegaskan bahwa dia dapat mengenakan tarif tambahan pada impor China kapan saja jika dia mau.

China melakukan pembelian barang pertanian Amerika dengan niat baik awal tahun ini melalui perusahaan milik negara Cofco dan Sinograin selama gencatan senjata dalam perang dagang berlangsung.

Namun tarif impor telah menangguhkan pembelian dalam jumlah besar dari perusahaan swasta.

Menurut unggahan Taoran Notes di Platform WeChat beberapa waktu lalu, pertemuan antara Wakil Perdana Menteri Liu He dan delegasi AS kemungkinan akan terjadi dalam waktu dekat selama para pejabat tinggi China akan pergi sejak awal Agustus untuk pertemuan tahunan.

"Kedua belah pihak telah berbicara melalui telepon pada Kamis [18/7/2019], untuk membahas langkah negosiasi berikutnya, yang mengindikasikan langkah menuju pembicaraan tatap muka," tulis Taoran.

Secara terpisah, China pada akhir pekan lalu juga mengumumkan rencana untuk membuka sektor keuangan mereka untuk peluang yang lebih luas bagi investor asing.

Perusahaan asing dapat mengambil saham atau mengendalikan entitas termasuk unit manajemen kekayaan pemberi pinjaman komersial, manajer dana pensiun, dan broker mata uang.

Meskipun tidak terkait secara langsung, langkah China tersebut seraya menjawab keluhan Washington terhadap kebijakan proteksionis China terhadap sejumlah pasar domestik di tengah ketegangan dagang.

Perubahan kebijakan ini dibentuk oleh Komite Stabilitas dan Pengembangan Keuangan Dewan Negara, yang juga dipimpin oleh Liu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perang dagang AS vs China
Editor : Achmad Aris
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top