Kesadaran Milenial terhadap Lingkungan Makin Tinggi

Kesadaran kelompok kaum muda, khususnya milenial terhadap isu-isu lingkungan hidup, seperti sampah, plastik, dan lingkungan secara umum sudah sangat tinggi.
Herdiyan
Herdiyan - Bisnis.com 15 Juli 2019  |  03:43 WIB
Kesadaran Milenial terhadap Lingkungan Makin Tinggi
Kaum milenial - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Kesadaran kelompok kaum muda, khususnya milenial terhadap isu-isu lingkungan hidup, seperti sampah, plastik, dan lingkungan secara umum sudah sangat tinggi.

Bahkan, banyak kelompok milenial aktif sebagai relawan lingkungan demi kehidupan yang lebih baik.

Demikian benang merah dari diskusi menarik yang digelar di salah satu booth yang ada di arena Pekan Lingkungan dan Kehutanan (PLK) 2019 di JCC Jakarta, Jumat pagi (12/7/2019). Booth yang menggelar diskusi ini adalah “Pojok Milenial”.

Di arena PLK, juga digelar sejumlah diskusi yang dihadiri banyak pengunjung baik dari Jakarta maupun perwakilan LH dari berbagai kota dan provinsi.

Para narasumber pun datang dari kelompok milenial yang sangat perhatian pada isu-isu lingkungan yaitu Puteri Indonesia Lingkungan 2019 asal Sulut Jolenee Marie, Direktur Gerakan Diet Kantong Plastik Indonesia (GIDKP) Tiza Mafira, dan aktivis lingkungan di Aceh, Zulfikar. Hadirin yang sebagian besar kaum muda sangat antusias mendengar paparan dan testimoni mereka.

Puteri Indonesia Lingkungan 2019 Jolenee yang tampil segar dengan atribut mahkota, menceritakan bagaimana dirinya makin memahami dan akan terus menyuarakan pentingnya kaum muda dan milenial untuk peduli pada isu-isu lingkungan yang menjadi masalah kita bersama.

“Kecintaan saya pada lingkungan makin tebal setelah terpilih jadi Puteri Indonesia Lingkungan dan kini membantu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk kampanye dan advokasi lingkungan terutama kepada kaum muda,” kata Jolenee yang hobby naik gunung ini.

Jolenee menyinggung problem besar lingkungan hidup di negara kita yakni soal sampah plastik dan kerap disorot dunia internasional. Masyarakat harus bisa membantu pemerintah mengurangi sampah plastik dengan memberi advokasi kepada masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik.

“Bersamaan dengan advokasi saya terhadap lingkungan, saya sudah mengurangi penggunaan plastik. Saya tidak pakai sedotan plastik dan selalu membawa stainless straw. Alat-alat masak di rumah pun sekarang sudah pakai kayu bukan plastik,” ujar Jolenee sambil menebar senyum.

Narasumber hebat lainnya adalah Tiza Mafira yang bergerak secara simultan untuk diet plastik. Lewat Gerakan Diet Kantong Plastik Indonesia ini, Tiza menyabet penghargaan Ocean Heroes 2018 dari Badan PBB untuk Lingkungan (UNET) dalam rangka Hari Samudera se-Dunia.

Penghargaan yang pertama kalinya diberikan ini merupakan bagian dari Kampanye Clean Seas. Tiza menjadi salah satu dari lima orang yang mendapatkan penghargaan Ocean Heroes.

Selain Tiza masih ada empat orang penerima penghargaan, masing-masing berasal dari India, Inggris Raya, Thailand, dan Amerika Serikat.

Ketika diskusi, Tiza menyarankan kepada hadirin untuk bukan saja diet plastik tetapi harus menguranginya karena plastik ada di sekitar kita, di setiap aktivitas kita, dan menjadi sampah yang amat berbahaya.

“Upaya saya melaku gerakan via online dan kemudian dilanjutkan dengan pertemuan offline dengan mereka yang sangat peduli pada lingkungan dan pengurangan plastik. Jadi gerakan lewat online harus disinergikan dalam pertemuan offline, sebab online seperti media sosial hanyalah platform saja, yang riil yang kita hadapi,” papar Tiza yang seorang pengacara ini.

Gerakan Tiza yang berbuah pada keluarnya peraturan plastik berbayar dan dilarangnya penggunaan plastik sekali pakai di sejumlah kota banyak diikuti kaum milenial.

“Kepedulian kita harus direfleksikan dalan kegiatan sehari-hari. Kita harus punya tujuan besar mengurangi sampah plastik sebesar mungkin,” tambahanya.

Sementara itu, Zulfikar yang melakukan kegiatan kampanye pengurangan sampah plastik di Aceh juga sependapat, mulai saat ini semua kelompok masyarakat terutama kaum milenial harus peduli terhadap sampah plastik dan mengurangi dengan contoh dan kampanye yang masif.

“Saya setuju banget kalau daerah melarang plastik. Kita bisa hidup tanpa plastik kok. Lingkungan akan semakin bersih jika plastik berkurang,” kata Zulfikar.

Sementara itu, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RM Karliansyahmengatakan PLK 2019 ini menyasar pada kelompok milenial sebagai agen perubahan yang semakin sadar akan lingkungan.

“Kita melihat sejak pembukaan sampai Jumat kemarin, banyak sekali pelajar, mahasiswa, dan kaum muda yang hadir dan melihat pameran dan memperhatikan setiap booth dengan serius. Begitu juga dengan sejumlah seminar mengenai isu lingkungan yang digelar di dalam PLK ini, banyak yang datang dari kaum milenial.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
lingkungan hidup, klhk, generasi milenial

Editor : Lukas Hendra TM

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top