Mahathir: Malaysia Keluar dari Tekanan Utang

Setelah aliansi poliitik PH berkuasa, pemerintah Malaysia dibebani dengan utang lebih dari 1 triliun ringgit atau US$241 miliar.
M. Taufikul Basari
M. Taufikul Basari - Bisnis.com 11 Juli 2019  |  21:49 WIB
Mahathir: Malaysia Keluar dari Tekanan Utang
Perdana Menteri Malaysia Mahathir Muhamad saat di Istana Bogor, Jawa Barat, Juni 2018. - Reuters/Darren Whiteside

Bisnis.com, JAKARTA – Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad mengklaim bahwa negaranya keluar dari tekanan masalah utang setelah berhasil menanganinya secara berhati-hati di bawah kepimpinannya.

Dalam sebuah wawancara dengan radio pemerintah Bernama, politisi senior ini mengatakan bahwa kemampuan untuk mengurangi tekanan terhadap situasi keuangan Malaysia itu adalah pencapaian penting pemerintah di bawah Pakatan Harapan (PH) yang dipimpinnya.

Menurutnya, tak banyak negara yang menghadapi situasi sulit seperti Malaysia bisa keluar dari persoalan itu dengan mulus.

“Saya merasa ada banyak masalah yang bisa kita atasi; kami mampu menangani masalah keuangan kami. Kami tidak lagi di bawah tekanan dari masalah keuangan karena kami telah menanganinya dengan hati-hati, ” ujarnya seperti dikutip dari ChannelNewsAsia, Kamis (11/7/2019).

Setelah aliansi poliitik PH berkuasa, pemerintah Malaysia dibebani dengan utang lebih dari 1 triliun ringgit atau US$241 miliar.

“Ketika kami berkuasa dan kami bisa melihat dari dalam, kami menemukan bahwa masalahnya jauh lebih besar (dari apa yang diketahui publik) dan bahwa masalah itu akan memakan waktu (untuk diatasi),” katanya saat wawancara.

Sejumlah langkah diambil pemerintah Mahathir untuk mengatasi kesulitan keuangan di dalam negeri, di antaranya meninjau ulang proyek-proyek besar dan kesepakatan di masa lalu yang dilakukan oleh pemerintah Barisan Nasional, mengejar dana yang diduga dicuri oleh 1Malaysia Development Berhad dan mendeklarasikan perang habis-habisan melawan korupsi.

Pada April, perdana menteri mengatakan bahwa utang nasional turun menjadi 686 miliar ringgit. Menurutnya, tingkat utang saat ini berada pada level yang dapat dikelola, tetapi pemerintah masih mempertimbangkan untuk menjual beberapa aset untuk memangkas defisit lebih lanjut.

Perdana menteri berusia 94 tahun itu menjelaskan bahwa dasar-dasar rencana pemulihan keuangan Malaysia telah diletakkan. “Saya pikir bahwa selama 3 tahun ke depan, masalah kita akan berkurang tetapi tidak sampai tingkat pemulihan seperti sebelumnya.”

Menurutnya, diperlukan waktu antara 10 dan 15 tahun bagi Malaysia untuk kembali menjadi Harimau Asia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
malaysia

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup