Penggunaan Energi Terbarukan Meningkat, Korsel Bakal Korbankan Pembangkit Listrik Batu Bara

Saat penggunaan energi terbarukan meningkat di Korea Selatan, pembangkit listrik tenaga batu bara, yang menjadi penopang listrik di negara tersebut, direncanakan bakal dikurangi.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 19 Juni 2019  |  14:06 WIB
Penggunaan Energi Terbarukan Meningkat, Korsel Bakal Korbankan Pembangkit Listrik Batu Bara
Energi terbarukan - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Saat penggunaan energi terbarukan meningkat di Korea Selatan, pembangkit listrik tenaga batu bara, yang menjadi penopang listrik di negara tersebut, direncanakan bakal dikurangi.

Menghadapi polusi di kota-kota besar dan di bawah tekanan target pengurangan emisi, importir batu bara terbesar keempat dunia ini mempercepat target energi hijau mereka dalam 15 tahun yang diperbaharui pada akhir tahun ini.

Lama dipandang lamban bersama Jepang dalam beralih dari energi batu baru, menurut penasihat dan pakar energi, pemerintah Korsel sepertinya akan menutup sekitar 20 pembangkit listrik tersebut secara bertahap.

Park Jong-bae, profesor teknik elektrok di Universitas Konkuk mengatakan, ada tantangan besar dalam mengurangi emisi karbon ke depannya. Untuk tingkat tertentu, hal tersebut dapat dilakukan dengan memperluas energi terbarukan. Namun, langkah itu saja tidak cukup.

“Kita perlu berpikir tentang mengurangi batu bara dan mempertimbangkan biaya-biaya dari perubahan tersebut,” katanya seperti dikutip dari Reuters, Rabu (19/6/2019).

Korsel memulai transisinya menuju energi yang lebih bersih dalam pasokan listrik pada 2017. Langkah tersebut bertujuan untuk meningkatkan pangsa energi terbarukan dari sekitar 6% menjadi 20% pada 2030.

Di tengah kemarahan publik, Pemerintah Korsel pada Maret lalu menetapkan polusi sebagai bencana sosial. Sebulan kemudian berjanji meningkatkan energi terbarukan hingga 35% dari total pasokan energi pada 2040.

Rencana energi 2019 diperkirakan merefleksikan dorongan untuk lebih banyak energi terbarukan, dan penggunaan energi berbahan bakar gas, dengan mengorbankan batu bara yang diimpor dari Indonesia, Australia, dan Rusia.

Korea Selatan mengoperasikan sekitar 60 pembangkit listrik tenaga batu bara, mayoritas dimiliki oleh pemerintah. Tahun lalu memasok sekitar 42% listrik nasional.

Selama 15 tahun ke depan, pemerintah pada awalnya merencanakan memasang peralatan anti polusi untuk 20 pembangkit listrik. Namun, hal itu ditangguhkan.

"Pemahaman bersama telah muncul bahwa [pemasangan anti polusi] itu tidak murah,” kata Seok Kwang-hoon, anggota kelompok kerja rencana pasokan listrik pemerintah dan penasihat di kelompok sipil Green Korea.

Namun, perubahan itu terjadi bahkan ketika tujuh pembangkit listrik tenaga batu bara baru akan rampung pada 2022. Kapasitas berbahan bakar batu bara akan meningkat di tahun-tahun mendatang sebelum berkurang pada 2030. Hal itu menunjukkan bahwa pemerintah harus mengambil langkah-langkah lebih lanjut untuk mengurangi bagian batubara dari output energi. .

"Untuk memiliki daya yang lebih terbarukan, kita dapat membuat pembangkit listrik batu bara berjalan lebih rendah," kata Kang Seung-jin, profesor energi di Universitas Politeknik Korea, yang membantu memetakan rencana 2019.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
batu bara, korea selatan, energi terbarukan

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top