Skema Bisnis CV MSB Mandek, Investor Terjebak Investasi Semut Rangrang

Kompleks gudang CV Mitra Sukses Bersama (MSB) di Dusun Kroyo, Desa Taraman, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, kini tak lagi berfungsi. Tak ada lagi aktivitas pengumpulan semut rangrang dan hanya ada puluhan mobil boks dan tumpukan stoples yang sudah sebulan mangkrak.
Skema Bisnis CV MSB Mandek, Investor Terjebak Investasi Semut Rangrang Moh Khodiq Duhri | 14 Juni 2019 23:59 WIB
Skema Bisnis CV MSB Mandek, Investor Terjebak Investasi Semut Rangrang
Truk dan puluhan ribu stoples tersimpan di Gudang CV Mitra Sukses Bersama (MSB) yang sudah tidak beroperasi di Dusun Kroyo, Desa Taraman, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, Kamis (13/6/2019). - Solopos/Moh. Khodiq Duhri

Bisnis.com, SRAGEN – Skema investasi kemitraan ternak semut rangrang yang dijalankan CV Mitra Sukses Bersama (MSB) di Sragen tengah jadi buah bibir. Pasalnya, tutupnya kantor dan gudang MSB di Sidoharjo, Sragen sejak pertengahan Mei lalu membuat para investor meradang.

Diperkirakan ada puluhan ribu investor yang tersebar di Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur. Jika dikalkulasi, total investasi yang dikelola CV MSB bisa menyentuh ratusan miliar rupiah.

Sementara itu, kompleks gudang MSB kini tak lagi berfungsi. Tak ada lagi aktivitas pengumpulan semut rangrang dan hanya ada puluhan truk dan tumpukan stoples yang sudah sebulan mangkrak.

Dua bangunan gudang berdinding batako itu berdiri di lahan seluas sekitar 2.000 meter persegi. Satu gudang digunakan untuk menyimpan puluhan truk atau mobil boks. Sementara satu gudang digunakan untuk menyimpan puluhan ribu stoples yang pernah digunakan untuk membudidayakan semut rangrang.

Skema investasi yang ditawarkan MSB adalah dengan menjual unit pernyertaan sejumlah dana dan janji hasil panen. Dana yang diinvestasikan itu disebut digulirkan untuk ternak semut rangrang yang diklaim untuk diekspor.

Berdasarkan penelusuran Solopos.com, ada investor yang pernah masuk ke gudang dan justru menemukan bahwa semut rangrang yang dibeli dari mitra itu dimusnahkan.

Sementara itu, pada kunjungan Solopos, Kamis (13/6), tampak sebagian stoples itu tertata rapi di gudang, sedangkan sebagian lagi menumpuk tidak beraturan. Sudah hampir 1 bulan lamanya stoples itu tidak terpakai. Tepatnya, setelah CV MSB menghentikan usaha investasi peternakan semut rangrang pertengahan Mei lalu.

Solopos.com tidak berhasil masuk ke gudang tempat penyimpanan puluhan mobil boks karena dua pintu besi digembok dari luar. Namun, dari luar sudah terlihat beberapa bagian dari truk yang terparkir hampir satu bulan di dalam gudang itu.

“Tidak semua mobil boks itu tersimpan di gudang. Sekarang masih banyak mobil boks yang dibawa oleh mantan koordinator daerah dari CV [MSB]. Semuanya dongkrok. Kendaraan itu sudah tidak terpakai sejak gudang itu tutup,” ujar RZ, 45, seorang investor saat ditemui Solopos.com di rumahnya di Kecamatan Sidoharjo, Sragen.

RZ sudah dua kali mengikuti bisnis investasi ternak rangrang. Pada kesempatan pertama, dia berhasil meraih laba sesuai perjanjian. Dia kemudian menanamkan modalnya kembali sebesar Rp70 juta yang diwujudkan dalam 46 paket semut rangrang.

Seharusnya pada bulan ini dia bisa mendapat hasil dari investasi itu. Dengan investasi 46 paket semu rangrang, seharusnya dia bisa mendapatkan laba sebesar Rp32,2 juta. Namun, bukan untung yang didapat. Justru ia terancam meraih buntung dari investasi itu.

“Saya belum dapat kepastian apakah uang saya bisa kembali mengingat gudang dan kantor CV juga sudah tutup. Ingin rasanya saya mengambil salah satu mobil boks atau aset lain yang dimilik pengelola CV itu supaya uang saya bisa kembali. Tapi itu tidak memungkinkan karena status aset itu juga bukan milik saya,” ucapnya.

Subandi, 40, warga Dusun Kroyo yang pernah menjadi koordinator daerah dari CV MSB mengatakan ada lebih dari 40 mobil boks senilai miliaran rupiah yang tidak lagi terpakai. Sebelumnya, semua truk atau mobil boks itu digunakan untuk mengangkut paket semut rangrang ke berbagai daerah di Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Jawa Timur.

“Selama 24 jam kondisi gudang itu tak pernah sepi. Mobil boks keluar masuk mengangkut paket semut rangrang. Tapi, sekarang mobil boks itu seperti tak bernilai sama sekali karena menganggur,” jelasnya.

Subandi yang bekerja sebagai sopir antarkota di Kalimantan itu juga telanjur berinvestasi sebesar Rp375 juta yang diwujudkan dalam bentuk 250 paket semut rangrang. Investasi itu dilakukan istri Subandi, Sugianti, 38, yang tergiur untuk berinvestasi kembali tanpa sepengetahuannya.

Sebagian investor mendadak sakit setelah mengetahui kantor dan gudang CV MSB yang berpusat di Sragen itu tutup. Bahkan di Karanganyar ada investor yang memilih mengakhiri hidupnya karena frustasi setelah investasi yang ia tanam tidak membuahkan hasil.

“Sampai saat ini belum ada yang lapor polisi karena masih berharap uang mereka bisa kembali,” kata Subandi.

TANGGAPAN PEMILIK

Pemilik CV MSB, Sugiyono, angkat bicara soal isu penutupan lewat broadcast via pesan suara WhatsApp (WA) yang ditujukan kepada semua mitra kerjanya. Kepada Solopos.com, sejumlah mitra sudah membenarkan bahwa itu adalah suara dari Sugiyono.

Dalam pesan suara itu, Sugiyono menganggap pemberitaan miring seputar investasi semut rangrang tersebut terjadi karena ada pihak yang tidak senang lantaran pernah dikecewakan CV MSB. Dia juga membantah bila semua semut rangrang hasil panen dimusnahkan dengan cairan kimia.

“Itu informasi yang salah. Yang benar hasil panen dari mitra itu masih ada beberapa ekor semut. Supaya stoplesnya tetap bisa digunakan, harus dicuci. Hasil panen yang bagus kita olah, diambil lagi jadi bibit. Hasil akhir nanti jadi kapsul, tapi itu belum kami lakukan sehingga hasil panen yang bagus kami olah jadi bibit. Dan pembersihan stoples itu memang pakai cairan tertentu,” ujar Sugiyono.

Sugiyono mengklaim tidak akan terpengaruh dengan berita miring seputar investasi ternak rangrang yang dikelolanya. Sekarang, dia hanya fokus membayar semua kewajiban kepada mitra sesuai jadwal.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
trakindo, investasi bodong

Sumber : JIBI

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top