Penuhi 2 Syarat Ini, Gerindra Bakal Moncer pada Pemilu 2024

Pemilu Serentak 2019 yang tengah memasuki fase antiklimaks, kerap disebut sebagai mimpi buruk bagi Partai Gerindra, sebab dinyatakan kalah Pemilu Presiden (Pilpres) dan hanya mendapat tempat sebagai runner up di Pemilu Legislatif (Pileg).
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 11 Juni 2019  |  09:42 WIB
Penuhi 2 Syarat Ini, Gerindra Bakal Moncer pada Pemilu 2024
Prabowo Subianto tengah melakukan inspeksi - Antara

Bisnis.com, JAKARTA — Pemilu Serentak 2019 yang tengah memasuki fase antiklimaks, kerap disebut sebagai mimpi buruk bagi Partai Gerindra, sebab dinyatakan kalah Pemilu Presiden (pilpres) dan hanya mendapat tempat sebagai runner-up di pemilu legislatif (pileg).

Tetapi, Peneliti senior Indonesian Public Institute Karyono Wibowo mengungkapkan kepada Bisnis, Selasa (11/6/2019), bahwa apabila Gerindra menatap ke depan, partai berlambang garuda emas ini justru memiliki peluang baik di pemilu 2024.

"Dari sisi parpol, Gerindra itu punya kans menjadi partai pemenang Pilpres atau Pileg di periode mendatang. Mirip seperti PDIP yang pada 2014 mengambil momentum jatuhnya Partai Demokrat," ujar Karyono.

"Apalagi masa jabatan pak Joko Widodo bakal habis kalau terpilih lagi. Sama seperti pak Susilo Bambang Yudhoyono [SBY] waktu itu. Kalau tidak punya sosok pengganti, partai lain terutama dari oposisi, bisa mengambil benefit, memanfaatkan taraf ketidakpuasan masyarakat terhadap partai petahana," tambahnya.

Kendati demikian, Karyono menyebut ada dua syarat yang mesti diperhatikan Gerindra, apabila ingin menyongsong masa depan yang lebih baik di Pilkada atau Pemilu Serentak berikutnya.

"Pertama, harus konsisten sebagai oposisi yang mencerdaskan, bisa mengambil sikap politik dan kebijakan alternatif yang mengena di mata masyarakat. Saya rasa, pada waktu itu PDIP berhasil konsisten," jelasnya.

"Yang kedua, harus bersikap inklusif. Partai oposisi yang sifatnya ekslusif, rasanya sulit bisa mengambil hati masyarakat umum. Gerindra sebenarnya kan punya modal untuk itu," tambah Karyono.

Sayangnya, Karyono menilai sikap politik Gerinda terlihat bergeser sejak Pilkada DKI Jakarta 2017. Menurutnya, Gerindra terlalu terbawa sikap PKS yang menerapkan politik eksklusif, bahkan kerap menonjolkan politik identitas.

"Jadi ideologi asli partai [Gerindra] harus dipraktikkan dengan betul, bukan hanya di mulut saja. Itu pekerjaan rumah Gerindra kalau mau sukses di Pemilu berikutnya," ungkap Karyono.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Gerindra Sufmi Dasco Ahmad ketika Bisnis meminta tanggapan, menyatakan bahwa Gerindra masih fokus pada penyelesaian sengketa Pemilu Serentak 2019. Bahkan, Gerindra masih percaya diri, akan ada kabar baik dalam waktu dekat.

"Kalau [rencana Gerindra] pascapilpres, ini kan kita lihat [penyelesaian sengketa pemilu di] MK dulu. Pendapat itu akan kita bawa di evaluasi partai setelah keluar hasil MK. Kita belum bisa bicara oposisi, kan masih ada kans menang di MK," ungkapnya.


Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Jokowi, gerindra, prabowo subianto, Pilpres 2019

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top