Nasib Furnitur China Akibat Perang Dagang dan Perlambatan Properti

Meski saham perusahaan furnitur China terlihat murah, ketidakpastian atas hubungan China dengan Amerika Serikat (AS) dan prospek perlambatan pasar properti domestik membuat investor menjauhinya.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 10 Juni 2019  |  10:12 WIB
Nasib Furnitur China Akibat Perang Dagang dan Perlambatan Properti
Properti di China - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Meski saham perusahaan furnitur China terlihat murah, ketidakpastian atas hubungan China dengan Amerika Serikat (AS) dan prospek perlambatan pasar properti domestik membuat investor menjauhinya.

Emiten furnitur besar China macam Jason Furniture Hangzhou Co dan Yihua Lifestyle Technology Co telah mencatat penurunan harga saham rata-rata sekitar 40 persen selama setahun terakhir.

Sektor yang berorientasi pada ekspor tersebut mengalami putaran aksi jual baru-baru ini di tengah meningkatnya ketegangan antara China dan AS.

Saham Jason Furniture, produsen furnitur yang terlah terdaftar di China dan menjadi favorit investor asing, turun 2 persen pada perdagangan pagi ini, Senin (10/6/2019), meskipun indeks saham CSI 300 China mampu naik 0,5 persen.

Investor-investor asing telah memangkas kepemilikan mereka di perusahaan itu menjadi 14 persen dari 22 persen pada akhir 2018.

Kendati demikian, sejumlah analis melihat masih terlalu dini untuk melakukan bargain hunting di sektor yang sangat terfragmentasi ini, merujuk pada perlambatan di pasar properti domestik dan pengenaan tarif AS yang lebih tinggi baru-baru ini terhadap 5.700 kategori produk berbeda asal China mulai dari sayuran hingga furnitur.

"Eksportir furnitur memiliki daya tawar yang relatif lemah dan margin keuntungan mereka sudah tipis,” ujar Xu Linfeng, seorang analis di Founder Securities Co. "Perang perdagangan akan lebih lanjut memangkas keuntungan mereka.”

China adalah konsumen dan pengekspor furnitur terbesar di dunia. Ekspor soft furnishing, seperti tempat tidur dan sofa, mencapai lebih dari dua kali lipat selama sembilan tahun menjadi US$12,6 miliar pada 2017, menurut laporan Jason Furniture yang mengutip data industri.  Sekitar 37 persen dari produk soft furnishing negara tersebut dikirim ke luar negeri pada tahun itu.

Banyak perusahaan furnitur terdaftar sangat bergantung pada pasar luar negeri, terutama AS. Jason Furniture, sebagai contoh, memperoleh 40 persen penjualannya dari luar negeri tahun lalu, menurut data yang dihimpun oleh Bloomberg. Sekitar 70 persen dari penjualannya di luar negeri diperkirakan berasal dari AS.

Pabrikan furnitur China lainnya juga sangat bergantung pada ekspor. Zoy Home Furnishing Co. mengekspor hampir semua produknya pada tahun 2017, sementara Yihua mengandalkan pasar luar negeri untuk tiga perempat dari penjualannya.

Adapun Yotrio Group Co. membukukan 87 persen pendapatannya dari luar negeri pada tahun 2017, dan hampir 47 persen dari total penjualannya berasal dari Amerika Utara.

Untuk menghindari tarif AS yang lebih tinggi, beberapa perusahaan seperti Jason Furniture dan Xilinmen Furniture Co. telah mulai membangun pabrik mereka di luar negeri.

“Jason mempersiapkan untuk membangun pabrik di luar negeri sebagai reaksi terhadap perang dagang antara China dan AS,” jelas pihak perusahaan dalam laporan tahunannya pada April. Sementara itu, Xilinmen tengah membangun fasilitasnya di Thailand untuk ekspor.

Di sisi lain, perlambatan di pasar properti China setelah bertahun-tahun pertumbuhan yang buruk juga bukan pertanda baik bagi perusahaan furnitur, setidaknya untuk jangka pendek.

Aktivitas pembangunan rumah di China mungkin menurun tahun ini, untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua dekade, karena pengembang terbebani oleh utang, menurut sebuah laporan yang dirilis bulan lalu oleh lembaga think tank yang dikelola pemerintah, Chinese Academy of Social Sciences.

“Saham furnitur sangat terkait dengan siklus real estat,” tutur Fu Gang, seorang fund manager di River East Asset Management Advisory Ltd. “Investor skeptis tentang prospek penjualan properti sehingga mereka juga tidak yakin tentang potensi pertumbuhan industri ini.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china, amerika serikat, perang dagang AS vs China

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup