Maaf-Memaafkan Itu Mulia

Hidup sebagai mahluk yang bermanfaat bagi sesama. Hidup sebagai manusia yang dikatakan oleh Bryant H.McGill, seorang penulis buku sekaligus ‘jagoan media-sosial’ yang menganut falsafah “Tiada cinta tanpa pemaafan, dan tiada pemaafan tanpa cinta“.
Maaf-Memaafkan Itu Mulia Pongki Pamungkas | 03 Juni 2019 12:37 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Seorang kawan berkisah, “Tanggal tua begini ini kalau masih bisa memaafkan, hidup akan tetap nyaman rasanya.“ Kok bisa? Contohnya, pagi tadi saya ke ATM mau transfer uang. Muncul permintaan maaf dari ATM, ‘maaf saldo Anda tidak mencukupi‘. Ya sudah, enggak apa-apa.

Lalu saya mencoba menelepon seseorang, "Maaf pulsa Anda tidak mencukupi." Ya sudah, saya maafkan. Lalu saya berjalan menuju ke toilet di suatu pertokoan. Saya ingin buang air kecil. Satu-satunya urinoir yang ada di situ digantungi tulisan ‘maaf, dalam perbaikan’. "Yah, saya maafkan lagi".

“Seringkali lebih mudah untuk minta maaf daripada minta izin,“ kata Grace Hopper, ilmuwan komputer.

Memang, dalam kehidupan sehari-hari, prinsip di atas cukup sering dilakukan orang-orang. Misalnya, seorang eksekutif yang nekat untuk melanggar anjuran atasannya untuk jangan berekspansi, jangan menambah outlet produknya. Arus kas perusahaan sedang ‘cekak’. Namun, sang eksekutif ini memiliki keyakinan bahwa penambahan outlet itu perlu dilakukan dengan segera, karena khawatir akan kehilangan momentum penjualan besar.

Ilustrasi berikut, masih dalam konteks mempraktikkan prinsip di atas, hajar dulu, minta maaf kemudian.

Seorang pemuda yang ditolak orang tua pacarnya, secara cerdik berhasil membuat sang pacar bersedia melakukan hubungan badan. Dan demikian selanjutnya, dari hubungan badan itu sang gadis hamil. Terpaksa oleh situasi, orang tua gadis memaafkannya. Dan orang tua sang gadis pun menerima sang pemuda menjadi menantu.

Di luar orang-orang yang gemar memanfaatkan peluang untuk mendapatkan maaf itu, tak dapat dipungkiri, dalam banyak hal, memaafkan orang lain yang berbuat salah, bukanlah perkara mudah.

Kita sering mendengar, terjadi perceraian akibat adanya perselingkuhan salah satu dari pasangan itu. Yang diselingkuhi tak bisa memaafkan pengkhianatan itu. Mungkin yang bersangkutan memiliki prinsip ini, “Memaafkan seseorang itu mudah. Mempercayainya lagi itu hal yang sulit.“

Seorang pelajar, menghajar kawannya, sesama pelajar, akibat sang kawan mengadukan ke guru mereka, bahwa dia suka merokok di toilet sekolah. Si perokok marah besar. Dia menganggap sang kawan melakukan kesalahan yang tak bisa dimaafkannya.

Seorang pengendara yang mengemudikan motornya di jalur yang melawan arah, menabrak sebuah mobil yang sopirnya tak menyangka akan terhadang oleh motor yang melanggar aturan. Anehnya, dalam kasus ini, yang marah besar bukannya si sopir mobil, melainkan si pengemudi motor. Sempat keduanya berhenti dan beradu mulut, si sopir mobil, yang tampaknya lebih penyabar dan matang memilih untuk meneruskan perjalanannya. Dia tak marah kepada si pengemudi motor. Dia memaafkannya dengan tulus.

Sementara si pengemudi motor, si penabrak masih terus saja marah-marah. Dia mengomel berkepanjangan. Segenap sumpah serapahnya terhambur. Sang pengemudi motor adalah orang yang berwatak buruk. Dia merasa benar, padahal dalam kenyataannya salah.

Bruce Lee menyatakannya sebagai berikut, “Kesalahan selalu dapat dimaafkan, bila pembuat salah memiliki keberanian untuk mengakuinya.“

Si pengemudi motor sungguh seorang yang wataknya tak layak ditiru. Dia memiliki watak buruk yang layak dibuang jauh-jauh, atau dalam bahasa Ibu Susi Pudjiastuti, ini watak yang layak 'ditenggelamkan'.

Si pengemudi motor itu seorang pengecut. Jauh dari predikat pemberani seperti perkataan Bruce Lee. Alih-alih mengakui kesalahannya, dia malah menyalahkan orang lain, lalu marah-marah kepada orang yang telah dicelakakannya.

Sejatinya, watak seperti pengemudi motor itu banyak kita temukan dalam kehidupan dan keseharian kita.

Paling menonjol dalam soal ini adalah perilaku para politisi dan tokoh-tokoh yang menjadi sorotan masyarakat. Kesalahan demi kesalahan mereka perbuat.

Alih-alih kemudian mengakui kesalahan, mereka malah membela diri mati-matian. Seolah-olah orang lain itu semuanya dungu, tak pandai memahami diri mereka. Mereka selalu merasa benar, orang lain yang salah.

Mereka mengaburkan dua hal yang mestinya jelas, siapa salah, siapa benar. Mereka menghancurkan nilai-nilai kebenaran universal yang berlaku di masyarakat.

Bahkan, lebih konyol lagi dan mengenaskan, mereka terus saja menyalahkan orang lain dengan membabi-buta. Dengan ucapan dan tindakan vulgar yang tak pantas dicontoh oleh masyarakat. Bahkan mereka dengan nekat dan tanpa malu, berusaha melakukan tindakan-tindakan brutal yang jelas-jelas melawan hukum.

TRAGEDI POLITIK

Tragedi pilpres yang berjalan saat ini adalah contoh paling ‘fenomenal’ atas kasus semacam ini. Tragedi politik keamanan ini akan tercatat dalam sejarah bangsa ini sebagai “sirkus politik paling tak bermartabat“, yang tak pernah terjadi sebelumnya. Dan mungkin, semoga tepatnya, tak akan pernah terjadi lagi di masa mendatang.

Mereka tak sadar bahwa, “Kemarahan membuat Anda mengecil. Sementara itu, pemaafan ‘memaksa’ Anda bertumbuh jauh dibandingkan dengan Anda sebelumnya,“ kata Cherie Carter Scott, doktor spesialis pengembangan eksekutif.

Bersyukur, dalam hal ini, pengendara mobil yang tertabrak adalah orang yang dewasa, bijaksana, dan bermartabat. Pengendara mobil ini, yang disebut oleh Mahatma Gandhi sebagai orang yang kuat, “Orang yang lemah tak akan pernah dapat memaafkan. Memaafkan adalah atribut orang-orang yang kuat.“

Si pengendara mobil ini, adalah seorang pemberani. Dan “Para pemberani tak memiliki ketakutan untuk memaafkan, sepanjang itu demi perdamaian,“ kata Nelson Mandela. Perdamaian adalah kata dasar untuk terjadinya kehidupan yang nyaman dan tenteram. Perdamaian adalah landasan sebagai suatu bangsa, untuk bersatu padu meraih cita-cita bersama.

Dalam suasana Ramadan, bulan yang teramat suci ini, yang pada ujungnya akan diakhiri dengan Hari Raya Idulfitri 1440 H, semangat saling memaafkan sangat perlu kita gemakan. Kita perlu mempraktikkan dengan sepenuh hati, dengan pikiran yang jernih dan positif. Karena, secara spiritual, saling memaafkan adalah tuntunan dari Allah SWT.

Setelah mendapat pelatihan sebulan penuh di bulan Ramadan, agar kita makin kuat dalam mengendalikan diri, mengontrol nafsu manusiawi dan nafsu duniawi, layak kita nikmati Hari Raya Idulfitri ini dengan napas pemaafan.

Proses ini layak kita nikmati sebagai pemberian terbesar sebagai insan-Nya. “Adalah suatu pemberian hadiah terbesar yang dapat Anda berikan kepada diri sendiri, memaafkan. Lalu, maafkanlah setiap orang,“ advis Maya Angelou, penyanyi sekaligus aktivis HAM.

Sebagai sedikit renungan spiritual, bukankah adanya kita adalah karena suatu dosa umat-Nya? Bukankah kita terlahir di dunia ini karena pemaafan dari-Nya? Pemaafan yang harus kita pandang sebagai suatu pemberian kesempatan dari-Nya untuk menjalani kesempatan lain, untuk membuat awal yang baru. Dalam kalimat sederhana, kehidupan kita hari ini adalah kesempatan kedua kita untuk menjalani hidup secara lebih benar.

Hidup sebagai mahluk yang bermanfaat bagi sesama. Hidup sebagai manusia yang dikatakan oleh Bryant H.McGill, seorang penulis buku sekaligus ‘jagoan media-sosial’ yang menganut falsafah “Tiada cinta tanpa pemaafan, dan tiada pemaafan tanpa cinta“.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
lebaran

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top