Perang Dagang : China Ancam AS, Logam Tanah Jarang Terangkat

Saham penambang logam tanah jarang di Asia Pasifik melonjak pada perdagangan hari ini, Rabu (29/5/2019), setelah pemerintah China melancarkan ancaman tersirat terhadap pemerintah Amerika Serikat (AS).
Renat Sofie Andriani | 29 Mei 2019 17:00 WIB
Logam mulia - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Saham penambang logam tanah jarang di Asia Pasifik melonjak pada perdagangan hari ini, Rabu (29/5/2019), setelah pemerintah China melancarkan ancaman tersirat terhadap pemerintah Amerika Serikat (AS).

Di China, saham JL Mag Rare-Earth menguat sekitar 10 persen dan saham Innuovo Technology menguat 9,95 persen. Saham Lynas, penambang asal Australia dan salah satu dari sedikit penambang logam tanah langka di luar China, bahkan mencatat lonjakan harga sebesar lebih dari 15 persen.

Lonjakan ini terjadi setelah seorang pejabat pemerintah China baru-baru ini memperingatkan bahwa produk-produk yang terbuat dari mineral tanah jarang tidak boleh digunakan untuk melawan perkembangan Negeri Tirai Bambu.

Komentar tersebut, seperti dilaporkan oleh siaran televisi China CCTV, dianggap sebagai ancaman tersembunyi kepada Amerika Serikat dan perusahaan-perusahaan teknologi AS yang bergantung pada bahan-bahan tersebut.

Presiden China Xi Jinping dikabarkan telah mengunjungi fasilitas penambangan dan pengolahan logam tanah jarang. Spekulasi pun merebak bahwa China akan menggunakan posisi dominannya selaku pemasok logam tanah jarang sebagai benteng posisi dalam perang perdagangan.

China dapat membuat mineral-mineral itu menjadi lebih mahal atau bahkan tidak tersedia jika perang perdagangan khususnya dengan AS terus berlangsung.

China memang dikenal merupakan produsen logam tanah jarang terbesar di dunia. Mineral ini menjadi komponen penting dalam pembuatan bermacam produk mulai dari ponsel pintar hingga kendaraan listrik.

Langkah pemerintah China menggunakan ekonomi dan rantai pasokannya untuk memberikan tekanan dalam isu politik sendiri dinilai bukanlah suatu hal yang baru.

“Kita telah melihat itu sebelumnya,” ujar Fraser Howie, seorang analis independen, kepada CNBC pada Rabu (29/5/2019), merujuk pada konflik antara China dan negara-negara seperti Jepang dan Norwegia di masa lampau.

Analis lain berpendapat masalah seputar pasokan logam tanah jarang jelas bagian dari konflik yang berkelanjutan dalam hal supremasi teknologi antara Washington dan Beijing.

“Teknologi adalah tempat pertempuran ini akan dilancarkan, bahkan jika kita mendapatkan kesepakatan perdagangan untuk barang-barang bilateral,” ujar Alastair Newton, direktur Alavan Business Advisory, seperti dikutip Bisnis.com.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
logam, perang dagang AS vs China

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top