Tangisan Petani di Balik Senyum untuk Trump

Kesulitan finansial yang dihadapi petani-petani Amerika Serikat (AS) meningkat akibat perang dagang presiden mereka, Donald Trump, dengan China. Kerugian yang mereka hadapi bahkan bisa lebih berlarut-larut ketimbang panjangnya konflik kedua negara.
Renat Sofie Andriani | 14 Mei 2019 16:56 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Kesulitan finansial yang dihadapi petani-petani Amerika Serikat (AS) meningkat akibat perang dagang presiden mereka, Donald Trump, dengan China. Kerugian yang mereka hadapi bahkan bisa lebih berlarut-larut ketimbang panjangnya konflik kedua negara.

Kebuntuan perundingan perdagangan AS dan China akhir pekan lalu memperburuk tekanan penurunan harga komoditas dan kerugian akibat banjir pada musim semi.

Dan ketika konflik itu berlanjut, China pun menjalin hubungan dagang dengan pemasok dan petani di negara-negara lain yang kembali mengorientasikan operasional mereka untuk memenuhi pasar China.

Di antara yang paling terpukul dan rentan terhadap berlanjutnya ketegangan ini adalah petani-petani kedelai di AS.

Kontrak berjangka kedelai tergelincir ke level harga terendahnya dalam lebih dari satu dekade pada perdagangan Senin (13/5/2019). Dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, harga kedelai telah membukukan penurunan lebih dari 20 persen.

Ini menjadi pukulan langsung bagi negara kelahiran Trump itu. Padahal, dalam kancah pemilihan presiden (pilpres) 2016, Trump meraih suara di 8 dari 10 negara bagian dengan produksi kedelai terbesar.

Sejumlah pemimpin di sektor pertanian mengkritik keras eskalasi terbaru perang dagang AS dan China, meskipun sebagian besar dalam kelompok pertanian memilih berhati-hati menyalahkan Trump secara langsung karena popularitasnya di wilayah pedesaan AS.

“Washington D.C. kembali melakukan salah perhitungan. Mata pencaharian petani dan komunitas yang mereka dukung pun terancam,” ujar Lynn Rohrscheib, presiden Illinois Soybean Growers, yang mewakili 43.000 petani di negara bagian itu, dalam sebuah pernyataan.

“Produsen-produsen kedelai di Illinois menghadapi tantangan yang lebih besar setiap hari tanpa adanya kesepakatan. Kami tidak melihat akhir dari ini [perang dagang dengan China],” lanjutnya, seperti dikutip Bloomberg.

Para perwakilan Partai Republik dari negara-ngara bagian yang identik dengan hasil pertaniannya juga memperingatkan mengenai berkurangnya kesabaran para petani, meskipun menghindari kritik langsung untuk Trump.

“Bisa saya katakan komunitas pertanian berada di ujung dukungan mereka sebelum segalanya mulai berubah,” ujar Senator Roy Blunt dari Missouri.

Efek perang dagang AS dengan China sudah menjalari sektor pertanian Amerika. Ekspor pertanian ke China anjlok dari US$19,6 miliar pada 2017 menjadi US$9,2 miliar pada 2018.

Secara keseluruhan, pendapatan pertanian AS merosot 16 persen tahun lalu menjadi US$63 miliar, sekitar separuh dari level pada 2013. Derasnya aliran hujan pada musim semi pada 2019 memperburuk keadaan.

Sementara itu, jumlah petani yang mengalami kebangkrutan di enam negara bagian Midwest naik 30 persen pada 2018, menurut Federal Reserve Bank of Minneapolis.

Sebuah laporan oleh First Midwest Bank di Chicago menunjukkan pinjaman pertanian yang jatuh tempo melonjak 287 persen pada 2018 dibandingkan tahun sebelumnya.

“Sebagian petani akan mengalami kesulitan keuangan. Jika harga terus bertahan di level saat ini, mereka akan menghanguskan modal kerja,” ujar Joseph Glauber, mantan kepala ekonom Departemen Pertanian AS.

 

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perang dagang AS vs China

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup