Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Akhirnya, Boeing Akui Cacat Sistem Max 8 Sebagai Penyebab Kecelakaan

Boeing mengakui kalau dua kecelakaan B737 Max 8 disebabkan oleh masalah pada perangkat lunak pesawat. Bos Boeing meminta maaf atas kecelakaan dua pesawat di Indonesia dan Ethiopia tersebut.
Ahmad Rifai
Ahmad Rifai - Bisnis.com 05 April 2019  |  11:50 WIB
Ilustrasi - Petugas Kepolisian Ethiopia berjalan melewati puing-puing pesawat Ethiopian Airlines Nomor ET 302, Kota Bishoftu, dekat Addis Ababa, Ethiopia, (12/3/2019). - Bisnis/REUTERS/Baz Ratner
Ilustrasi - Petugas Kepolisian Ethiopia berjalan melewati puing-puing pesawat Ethiopian Airlines Nomor ET 302, Kota Bishoftu, dekat Addis Ababa, Ethiopia, (12/3/2019). - Bisnis/REUTERS/Baz Ratner

Bisnis.com, JAKARTA – Boeing mengakui sistem penerbangan pesawat tipe 737 Max 8 menjadi penyebab dua kecelakaan tragis yang menimpa Lion Air JT610 dan Ethiopian Airlines ET302.

Chief Executive Officer Boeing Dennis Muilenburg mengatakan, pihaknya sangat menyesal atas nyawa yang hilang dalam beberapa kecelakaan pesawat B737 Max 8 tersebut.

“Tragedi ini terus membebani hati dan pikiran kami,” ujarnya dalam situs resmi Boeing pada Kamis (4/2019) waktu setempat.

Muilenburg pun juga mencuitkan rasa menyesalnya itu ke akun Twitternya. 

 Dia mewakili seluruh karyawan Boeing menyampaikan simpati kepada keluarga korban para penumpang dan kru pesawat Lion Air dan Ethiopian Airlines. 

Muilenburg mengatakan, dalam rilis laporan awal investigasi kecelakaan Penerbangan Ethiopian Airlines, dua kecelakaan yang melibatkan 737 MAX 8 terjadi akibat kesalahan aktivasi fungsi Maneuvering Characteristics Augmentation Sysmtem (MCAS).

MCAS atau sistem anti-stall bekerja lewat sensor yang terpasang di hidung pesawat. Saat posisi hidung berada terlalu jauh ke atas, sistem tersebut akan memanipulasi ekor pesawat untuk menjaga ketinggian pesawat. 

Akan tetapi, sensor itu punya celah untuk memberikan respon pembacaan yang salah. Akhirnya, sistem itu justru membuat hidung pesawat menukik tajam ke bawah atau dalam artian lain pilot tak bisa mengendalikan pesawat seperti kasus yang terjadi pada Ethiopian Airlines.

Terkait cacat sistem MCAS ini, Muilenburg menyebut pihaknya telah bekerja tanpa lelah bersama Federasi Penerbangan Sipil Amerika Serikat (FAA) semenjak tragedi Lion Air. Boeing bersama pihak lainnya pun berupaya untuk menyelesaikan dan mengimplementasikan perangkat lunak demi memastikan kecelakaan naas tersebut tak akan pernah terjadi lagi.

"Pembaruan ini, bersamaan dengan pemberian pelatihan dan materi pendidikan tambahan yang diinginkan pilot setelah terjadinya insiden kecelakaan. Harapannya, hal itu bisa menghilangkan kemungkinan aktivasi MCAS yang tak diinginkan dan mencegah kecelakaan akibat MCAS tak terulang lagi," terangnya.

Menteri Transportasi Ethiopia Dagmawati Moges mengatakan, pola jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines sama seperti kasus Lion Air. Pilot dari kedua pesawat itu disebut kesulitan memegang kontrol kembali setelah sistem MCAS aktif.

"Para kru telah melakukan semua prosedur berulang kali yang disediakan oleh pabrikan [Boeing], tetapi tetap saja tidak dapat mengendalikan pesawat," terang Moges.

 

 

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

boeing lion air ethiopian airlines
Editor : Surya Rianto

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top