Akulturasi Budaya dalam Seni dan Tari Akrobatik

Sejak ratusan tahun lalu, nenek moyang masyarakat etnis Tionghoa telah melakukan perantauan ke berbagai belahan dunia dan menjalani akulturasi dengan warga lokal.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 10 Maret 2019  |  00:58 WIB
Akulturasi Budaya dalam Seni dan Tari Akrobatik
Aksi akrobatik yang menjadi bagian dari kegiatan Festival Musim Semi warga asal Taiwan. - Bisnis.com/Dewi Andriani

Bisnis.com, JAKARTA – Sejak ratusan tahun lalu, nenek moyang masyarakat etnis Tionghoa telah merantau ke berbagai belahan dunia.

Saat meninggalkan tanah kelahirannya, mereka harus melalui perjuangan dan kerja keras untuk bisa bertahan hingga akhirnya dapat beradaptasi dan hidup harmonis dengan penduduk setempat.

Saat di perantauan, umumnya mereka hidup berkelompok dengan tetap mempertahanakan budaya, bahasa, dan kepercayaan yang dimiliki. Dari situ, secara tidak langsung terjadilah proses akulturasi dan asimilasi budaya dengan kearifan lokal setempat.

Salah satu wilayah yang cukup banyak disinggahi oleh masyarakat etnis Tionghoa, terutama dari Provinsi Fujian, saat merantau beberapa abad lalu adalah Taiwan, sebuah pulau di bagian tenggara daratan China.

Untuk menuju ke pulau tersebut, mereka harus melewati ombak dan badai. Kisah perjuangan masyarakat Tionghoa dalam melakukan proses akulturasi dan pertukaran budaya di Taiwan, ditampilkan secara apik melalui pertunjukan seni akrobatik yang dibalut drama dan tarian.

Seni pertunjukan budaya tersebut dibawakan langsung oleh delegasi kelompok akrobatik dari Sekolah Tinggi Seni Pertunjukkan Nasional Taiwan di bawah arahan Chang Jui-pin, President National Taiwan College of Performing Arts (NTCPA).

Kegiatan Festival Musim Semi yang digelar pada  Selasa, 5 Maret 2019 di Golden Sense Restaurant, Mangga Dua Square ini diselenggarakan oleh Asosiasi Pengusaha Taiwan di Jakarta (Jakarta Taiwan Entrepreneur Association) dan Ikatan Citra Alumni Taiwan Indonesia (ICATI Jakarta) bekerja sama dengan Taipei Economic and Trade Office (TETO).

Wakil Menteri Komite urusan Komunitas Warga Diaspora Tionghoa (Overseas Community Affairs Council _OCAC) Taiwan Kao Chien-Chih sebagai pemimpin rombongan mengatakan kegiatan festival ini digelar setiap tahun dalam rangka menyemarakkan tahun baru Imlek dan menyongsong perayaan musim semi.

Menurutnya, inti pertunjukan ini adalah untuk memperkenalkan kebudayaan Tiongkok serta budaya dan kearifan lokal yang dibawakan dalam tarian hasil akulturasi beberapa suku di Taiwan seperti suku Hakka dan Hokkian.

“Pertunjukan ini memperlihatkan bagaimana survive nya masyarakat Tionghoa saat hidup di perantauan sejak ratusan tahun lalu. Dibalut dalam nilai budaya Tiongkok yang telah mengalami akulturasi dengan budaya lokal dari suku-suku di Taiwan,” ujarnya menerangkan.

Nilai-nilai akulturasi budaya tersebut disuguhkan dalam beberapa aksi akrobatik dihadapan ratusan warga diaspora Taiwan dan para anggota dari organisasi paguyuban pengusaha Taiwan maupun paguyuban lokal di Indonesia.

Menurutnya, pemilihan kelompok ini dilakukan melalui proses tender. “Kita pilih yang memiliki nilai budaya khas, terutama inti pertunjukan ini mereka mampu memperlihatkan keterampilan dan skill tingkat tinggi sehingga bisa kami ajak keliling delapan negara,” tuturnya.

Betul saja, saat bisnis berkesempatan menyaksikan langsung pertunjukan tersebut terasa sekali atmosfer nilai budaya yang begitu kental dalam balutan tari dan akrobatik yang memukau dan memanjakan mata.

Pada penampilan awal, tampak sekumpulan pria yang seolah tengah berjuang melewati ombak dan badai. Aksi tersebut diperkuat dengan backsound yang menambah sisi dramatisir dari pertunjukan.

Mereka memperlihatkan kebolehannya dalam tarian dan sisi akrobatik dengan menaiki tubuh rekannya, dan kemudian berdiri dengan posisi terbalik hanya bertumpu pada tangan penari lainnya.

Selanjutnya, muncul seorang wanita yang menaiki sebatang bambu dengan tangan kosong. Wanita tersebut kemudian mencapai puncak bambu lalu berputar di atasnya hanya dengan menumpukan perutnya pada ujung bambu tersebut.

Pada penampilan selanjutnya muncul sekelompok penari wanita dengan background bunga matahari. Mereka menunjukan kemampuan akrobatiknya dengan memutar enam piring sekaligus yang diletakkan di rotan, tiga di tangan kiri dan tiga di tangan kanan.

Tidak hanya menunjukkan seni akrobatik yang menegangkan sekaligus memukau, mereka juga menghibur penonton dengan suguhan tari yang dibalut dalam unsur komedi dan interaksi bersama para penonton.

Kepala TETO Jhon Chen berharap melalui seni pertunjukan ini ada pertukaran komunikasi nilai dan budaya yang sehingga dapat lebih meningkatkan rasa saling pengertian dan mengenal budaya Taiwan.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin bisa lebih mempererat hubungan dengan Indonesia sebab kebudayaan apalagi berupa tarian dan nyanyian itu cara termudah untuk mendekatkan hubungan antara dua negara,” ujarnya.

Rombongan Delegasi Seni dan Budaya Perayaan Festival Musim Semi ini diagendakan melakukan pertunjukan di 13 kota di delapan negara Asia dan Pasifik sejak 12 Februari hingga 12 Maret 2019, seperti Jepang, Filipina, Thailand, Vietnam, dan Malaysia.

Selain di Jakarta, rombongan akrobatik juga menggelar pertunjukan di Medan, Sumatra Utara, pada 3 Maret 2019, dan Bandung, Jawa Barat, pada 7 Maret 2019.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china, taiwan

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top