Ini Komentar Mantan Gubernur The Fed Soal Defisit AS

Mantan Gubernur The Fed Alan Greenspan, periode 1987 - 2006, mengingatkan bahwa pemerintah harus lebih memperhatikan defisit anggaran yang hampir mencapai US$1 triliun serta dampaknya terhadap inflasi.
Nirmala Aninda | 13 Februari 2019 21:16 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Mantan Gubernur The Fed Alan Greenspan, periode 1987 - 2006, mengingatkan bahwa pemerintah harus lebih memperhatikan defisit anggaran yang hampir mencapai US$1 triliun serta dampaknya terhadap inflasi.

"Ini kondisi yang sangat tidak ideal. Secara politik defisit anggaran tidak begitu signfikan, tetapi pikirkan dampaknya," ujarnya melalui jaringan telepon, seperti dikutip melalui Bloomberg, Rabu (13/2).

Menurut Greenspan, terakhir kali Amerika Serikat harus menutup defisit sebesar ini adalah pasca resesi yang berakhir pada 2009. Saat ini perekonomian Amerika memasuki tahun ekspansi kesepuluh dengan kondisi pasar lapangan kerja paling ketat sejak 1960-an.

Inflasi AS sejauh ini masih terkendali, data yang dirilis pada Rabu (13/2) waktu Washington, mungkin akan menunjukkan pergerakan yang paling lambat sejak 2016.

Tapi, jika para investor mulai resah terhadap dampak tekanan harga jual surat berharga akibat peningkatan pengeluaran AS, mereka bisa saja mengurangi pembelian tresuri bersamaan dengan permintaan, dari pembeli asing, juga sudah mulai berkurang.

"Pemerintah baru akan bereaksi ketika defisit anggaran sudah terlanjur menyebabkan inflasi," ujar Greenspan.

Kantor Anggaran Kongres (CBO) memperkirakan defisit AS sampai dengan tahun fiskal 2022 akan mencapai US$1 triliun.

Dalam tahun fiskal pertama saat Trump menjabat sebagai presiden, defisit tumbuh menjadi sebesar US$779 miliar, atau jumlah tertinggi sejak 2012, bahkan ketika pemangkasan pajak telah mendorong pertumbuhan ekonomi.

Defisit juga sudah mulai memburuk di tengah peningkatan pengeluaran untuk biaya hak dan bunga.

Sementara kegentingan fiskal belum mengusik Captiol, investor dan pelaku bisnis telah lebih dulu meningkatkan keresahan di pasar.

Meskipun sejauh ini AS masih mampu menghindari keharusan untuk menawarkan yield yang lebih tinggi agar tidak meningkatkan pinjaman, Mark Kiesel dari Pacific Investment Management Co mengatakan itu kondisi ini tidak akan bertahan lama.

Hal ini disebabkan oleh semakin surutnya permintaan asing. Kiesel juga melihat kebijakan untuk meningkatkan yield memiliki lebih banyak manfaat daripada risiko terhadap inflasi.

Di sisi lain, Jeffrey Gundlach dari LP DoubleLine Capital juga telah membunyikan alarm yang menyebut peningkatan beban utang sebagai situasi yang mengerikan bagi negara.

Mantan CEO Starbucks Corp, Howard Schultz, yang mempertimbangkan mencalonkan diri sebagai presiden pada tahun 2020 sebagai independen, bulan lalu mengatakan utang adalah contoh dari sikap sembrono pemerintah mengenai tanggung jawab konstitusional mereka.

Gubernur The Fed saat ini Jerome Powell menyuarakan pendapat yang sama bulan lalu.

Dia mengatakan anggaran pemerintah federal AS berada pada kondisi mengkhawatirkan mengingat meningkatnya biaya perawatan kesehatan dan populasi yang menua.

"Pengeluaran wajib akan menggerus simpanan domestik bruto. Simpanan domestik ditambah dengan simpanan yang dipinjam dari luar negeri adalah sumber fundamental pendanaan untuk investasi modal,” kata Greenspan.

"Dan investasi modal adalah dasar untuk pertumbuhan produktivitas ekonomi negara," tambahnya.

Tag : ekonomi as
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top