Hubungan Dagang Inggris dan Swiss akan Berlanjut Pasca-Brexit

Departemen Perdagangan Inggris mengatakan Inggris dan Swiss akan menandatangani perjanjian pada hari Senin untuk melanjutkan kerjasama perdagangan dengan persyaratan preferensial setelah Brexit.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 11 Februari 2019  |  20:25 WIB
Hubungan Dagang Inggris dan Swiss akan Berlanjut Pasca-Brexit
Ilustrasi - Reuters
Bisnis.com, JAKARTA -- Departemen Perdagangan Inggris mengatakan Inggris dan Swiss akan menandatangani perjanjian pada hari Senin untuk melanjutkan kerjasama perdagangan dengan persyaratan preferensial setelah Brexit. Perjanjian ini akan melindungi hubungan perdagangan senilai 32 miliar pound.
Penandatanganan perjanjian secara resmi akan memenuhi satu dari sekian langkah Inggris untuk memastikan semua transaksi perdagangan yang memberikan mereka keuntungan selama menjadi anggota Uni eropa akan berlanjut setelah mereka meninggalkan blok ekonomi tersebut.
Menteri Perdagangan Internasional Inggris Liam Fox mengatakan perjanjian ini tidak hanya akan membantu mendukung lapangan pekerjaan di seluruh Inggris.
"[Perjanjian] juga akan menjadi fondasi yang kuat bagi kami untuk membangun hubungan dagang yang lebih kuat dengan Swiss pasca Brexit," ujarnya dalam sebuah pernyataan seperti dikutip oleh Reuters, Senin (11/2).
Kesepakatan itu mencerminkan strategi 'mind the gap' Swiss untuk memastikan hubungan dagang yang mulus dengan Inggris, terlepas dari skenario Brexit yang akan terjadi pada tenggat waktu 29 Maret 2019.
Inggris saat ini tengah terpojok dalam proses negosiasi ulang dengan Uni Eropa terkait poin kesepakatan Brexit yang tidak diterima oleh Parlemen Inggris pada bulan Januari.
Pemerintah Inggris mengatakan pada bulan lalu bahwa mereka berharap negara monarki tersebut dapat mencapai kesepakatan dan persetujuan yang diperlukan dengan Uni Eropa sampai dengan akhir Maret.
Perjanjian kerjasama dagang serupa dengan negara lain seperti Israel telah diumumkan, Inggris juga telah mengantongi kesepakatan dengan Australia dan Selandia Baru.
Meski demikian, Kepala Konfederasi Industri Inggris Carolyn Fairbairn mengatakan pada Minggu (10/2), bahwa ketidakpastian skenario Brexit hingga saat ini mengakibatkan mitra dagang utama seperti Jepang dan Korea Selatan enggan menandatangani perjanjian kerjasama sampai ada gambaran jelas masa depan Inggris setelah terpisah dari Uni Eropa.
"Ini akan menjadi keputusan bisnis yang akan berdampak pada masa depan investasi dan lapangan pekerjaan. Brexit akan mengurangi potensi pertumbuhan pada kedua faktor tersebut karena kesempatan berdagang secara global juga berkurang," ujar Fairbairn kepada Sky News.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Brexit

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top