Jatam Sebut Kepentingan Pengusaha Tambang Dalam Pilpres 2019

Koordinator Jaringan Advokasi Tambang Merah Johansyah menyebut Pilpres 2019 kental dengan kepentingan para pebisnis tambang baik dari kubu Jokowi-Ma'ruf maupun Prabowo-Sandiaga.
Aziz Rahardyan | 11 Februari 2019 16:15 WIB
Pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Joko Widodo (tengah) dan Ma'ruf Amin (kiri) bersalaman dengan pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto (kedua kanan) dan Sandiaga Uno (kanan) disela-sela debat pertama Pilpres 2019, di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (17/1/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Koordinator Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Merah Johansyah menyebut Pilpres 2019 kental dengan kepentingan para pebisnis tambang baik dari kubu Jokowi-Ma'ruf maupun Prabowo-Sandiaga.

Merah mengungkapkan sebagian besar nama-nama yang terlibat dalam bisnis tambang menempati posisi penting baik sebagai capres dan cawapres maupun tim kampanye dari kedua kubu.

"Masing-masing mereka memiliki bisnis tambang langsung, memiliki sejumlah saham, dan memiliki peran atau kewenangan," jelasnya dalam diskusi publik di KeKini Coworking Space, di Cikini, Jakarta, Senin (11/2/2019).

Merah khawatir dominannya para pebisnis tambang di Pilpres 2019 berpotensi semakin membuka permasalahan di sektor pertambangan. Merah menilai, pada akhirnya siapapun yang terpilih di Pilpres 2019 rakyat tetap akan menjadi pihak yang dirugikan.

"Jadi, harapan masyarakat di daerah lingkar tambang untuk bisa keluar dari krisis dan masalah tampaknya jauh panggang dari api," ungkapnya.

"Rakyat tetap berada di pihak yang kalah, menanggung resiko akibat praktik eksploitatif. Sedangkan pebisnis tambang, berikut elite politik terkait tetap menang, melanjutkan ekstraksi untuk keuntungan diri dan kelompok mereka," tegasnya.

Kubu Jokowi-Ma'ruf

Pada kubu pasangan Joko Widodo - Ma'ruf Amin terdapat nama-nama yang terkait langsung dengan bisnis pertambangan dan energi, seperti Luhut Binsar Panjaitan yang merupakan pemilik atau pemegang saham di sejumlah perusahaan yang bergerak di sektor tambang, yakni PT Toba Bara Sejahtera, PT Kutai Energi, PT Admitra Nusantara.

Selain Luhut, ada pula Fachrur Razi yang merupakan Presiden Komisaris di PT Central Protenia, dan PT Antam Tbk, serta menjabat sebagai Komisaris PT Toba Bara Sejahtera milik Luhut.

Selain itu, Merah menambahkan nama pebisnis tambang selanjutnya adalah Suaidi Marasambessy, Wahyu Sakti Trenggono, Jusuf Hamka, dan Andi Syamsudin Arsyad yang akrab disapa Haji Isam.

Kemudian, lanjut Merah, ada pula sejumlah politisi di kubu Jokowi-Ma'ruf yang juga terlibat di bisnis tambang. Di antaranya dua politisi Golkar, Jusuf Kalla pemilik Kalla Arebama, PT Kalla Electrical System, dan PT Bumi Sarana Migas dan Aburizal Bakrie pemilik Bakrie Group.

Selanjutnya, Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh pemilik PT Emas Mineral Murni, PT Media Mining Resource dan Ketua Umum Perindo sekaligus CEO MNC Group yang membawahi MNC Energy Hary Tanoesoedibjo.

Terakhir, Merah menyebut nama Ketua Umum Partai Hanura Oesman Sapta Odang atau yang akrab disapa OSO yang sekaligus pemilik perusahaan batu bara PT Total Orbit Prestasi.

Kubu Prabowo-Sandiaga

Sementaranya itu, di kubu Prabowo Subianto - Sandiaga Uno, dua kandidat capres-cawapres ini sendiri yang hingga kini masih aktif. Yaitu Prabowo sebagai pemilik Nusantara Energy Resource, dan Sandi sebagai pemilik Saratoga Group.

Di samping kedua kandidat, ada nama Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan selaku pemilik perusahaan PT Bumi Suksesindo yang komposisi kepemilikan sahamnya terhubung dengan cawapres Sandiaga Uno melalui Merdeka Copper Gold dan PT Saratoga Group.

Merah menambahkan adanya keterlibatan kepentingan Ketua Umum Partai Berkarya Tommy Soeharto pemilik PT Humpuss Group, dan Ferry Mursyidan Baldan pemilik PT Syahid Berau Bestari, PT Rantau Panjang Utama Bhakti, serta PT Syahid Indah Utama.

Terakhir, Merah menambahkan nama adik kandung Prabowo, yakni Hasyim Djojohandikusumo selaku pemilik PT Arsari Group, dan Maher Al Gadrie pemilik PT Kodel Group, serta PT Golden Spike.

Tag : jatam, Pilpres 2019
Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top