Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jelang FOMC, Pasar Menanti Pesan Powell

Gubernur The Fed Jerome Powell  diminta untuk mampu menyampaikan pesan tersebut tanpa memberikan sinyal membingungkan dan terlihat tunduk kepada potensi resesi atau tuntutan Presiden Amerika Serikat Donald Trump usai pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC).
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 29 Januari 2019  |  22:30 WIB
Gubernur The Fed Jerome Powell - Bloomberg
Gubernur The Fed Jerome Powell - Bloomberg
Bisnis.com, JAKARTA - Gubernur The Fed Jerome Powell  diminta untuk mampu menyampaikan pesan tersebut tanpa memberikan sinyal membingungkan dan terlihat tunduk kepada potensi resesi atau tuntutan Presiden Amerika Serikat Donald Trump usai pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC).
"Anda tidak dapat menghentikan siklus kenaikan suku bunga tanpa turut bersinergi pengelolaan neraca," kata Thomas Costerg, ekonom senior AS di Pictet Wealth Management, di Jenewa, Swiss, Selasa (29/1), seperti dikutip melalui Reuters.
Neraca yang lebih besar akan menghasilkan pelonggaran biaya pinjaman dan nilai tukar valuta asing dolar sehingga dapat mengurangi ketegangan di pasar negara berkembang. Hal ini juga dapat memengaruhi aktivitas The Fed dalam pembelian obligasi guna menghadapi potensi pelemahan ekonomi AS di masa depan.
Selama lebih dari setahun, The Fed secara teratur telah memangkas neraca senilai multi-triliun dolar - dari hampir US$4,5 triliun menjadi sekitar US$4,1 triliun tanpa banyak pemberitahuan.
The Fed justru mengarahkan perhatian dunia pada isu kenaikan suku bunga acuan yang dalam waktu dekat akan mengalami perlambatan.
Tahun lalu para investor dari industri terkemuka menyatakan fluktuasi pasar disebabkan oleh penarikan aset dari neraca The Fed.
Mereka menggaris bawahi, program The Fed tersebut telah mempengaruhi stimulus pembelian obligasi di pasar. Program ang dikenal sebagai pelonggaran kuantitatif dan dilakukan selama krisis keuangan untuk membangun kembali perekonomian, dijuluki sebagai "pengetatan kuantitatif."
Pada konferensi pers pertemuan FOMC Desember lalu, Powell mengatakan bahwa normalisasi neraca The Fed dijalankan secara "auto pilot" dan tidak akan memberikan dampak berarti. Namun pasar saham terbukti anjlok.
Dua pekan kemudian, setelah Powell menyampaikan bahwa program tersebut dapat bergerak fleksibel, pasar saham kembali naik.
Komunikasi kepada media dan investor sudah beberapa kali menyandung sejumlah Gubernur Bank Sentral Amerika, salah satu contohnya adalah Ben Bernanke yang mengisyaratkan The Fed akan memperlambat stimulus pembelian obligasi pada 2013 dan menyebabkan saham dunia anjlok.
The Fed kini mencapai titik dimana mereka memang perlu menyesuaikan neraca atau balance sheet, bukan karena keadaan ekonomi domestik yang tampak menguat, tetapi karena pelemahan aset jangka pendek.
Seiring dengan menurunnya portofolio obligasi bank sentral, bank-bank turut memangkas cadangan yang mereka simpan di The Fed dalam jumlah banyak. Hal ini menjadi beban bagi The Fed untuk mengendalikan tingkat bunga aset janga pendek yang memiliki kendali pada kebijakan moneter.
Para ekonom telah berspekulasi pada musim panas lalu bahwa untuk menghadapi penurunan cadangan atau reserves yang dapat menaikkan suku bunga di luar target, run-off atau penarikan aset pada neraca bank sentral harus selesai dua tahun lebih cepat sehingga The Fed masih memilliki cadangan tambahan sekitar US$1 triliun.
The Fed berencana untuk memangkas portofolio obligasi sampai dengan jumlah ideal yang tidak ditentukan agar serasi dengan ketersediaan cadangan likuditias, setidaknya tidak lebih rendah dari US$900 miliar dari kondisi sebelum resesi 2007-2009.
"Secara substansial jumlahnya akan lebih rendah tapi tidak akan menyamai kondisi yang lalu [periode resesi]," ujar Gubernur The Fed Jerome Powell pada Kamis (10/1), seperti dikutip oleh Bloomberg.
Rentetan pertanyaan terkait normalisasi neraca The Fed menjelang konferensi pers FOMC lusa dapat mendorong Powell untuk menyiapkan peta kebijakan yang lebih jelas mengenai kepemilikan aset bank sentral.
"Mereka setidaknya harus mulai dari situ [peta kebijakan]. Semakin lama mereka menunggu, semakin sulit bagi The Fed untuk menyampaikan rencana mereka," kata seorang profesor di sekolah pascasarjana bisnis Universitas Stanford Darrell Duffie.
Setelah menaikkan suku bunga secara bertahap tahun lalu, The Fed mengambil pendekatan wait-and-see untuk pengetatan lebih lanjut dalam menghadapi perlambatan ekonomi di luar negeri dan volatilitas pasar.
Meskipun tingkat bunga acuan jika tingkat tetap stabil tahun ini, pelepasan aset yang sedang berlangsung, termasuk sekitar US$380 miliar sejak Oktober 2017, akan terus memperketat kondisi keuangan dengan membuat pendanaan lebih mahal bagi bank.
Pada 2017, The Fed memproyeksikan akan memangkas portofolio hingga sekitar 2022 dengan proyeksi kepemilikan aset menjadi US$2,3 triliun hingga US$2,9 triliun.
Pada pertengahan 2018, para ekonom di Deutsch Bank Securities merupakan salah satu dari sejumlah ekonom yang memperkirakan The Fed akan terpaksa menghentikan proses penarikan aser pada awal 2020 dengan aset sekitar US$3,7 triliun.
Notulen dari pertemuan The Fed pada Desember tahun lalu menunjukkan bahwa bank sentral telah "menggeser neraca risiko” dan meyakinkan bahwa Powell akan menghentikan penarikan portofolio obligasi pada kuartal ketiga 2019.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Kebijakan The Fed
Editor : Gita Arwana Cakti

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top