Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Usulan Perpanjangan Waktu Brexit Mengemuka, Ini Tanggapan PM May

Kemungkinan no-deal Brexit mulai surut setelah muncul dorongan dari oposisi dan beberapa negara Uni Eropa agar Perdana Menteri Inggris Theresa May mengajukan perpanjangan periode negosiasi kepada Uni Eropa. Pada saat yang sama poundsterling menguat mencapai di atas US$1,30 pekan ini.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 24 Januari 2019  |  20:11 WIB
Perdana Menteri Inggris Theresa May - Reuters/Stefan Wermuth
Perdana Menteri Inggris Theresa May - Reuters/Stefan Wermuth
Bisnis.com, JAKARTA -- Kemungkinan no-deal Brexit mulai surut setelah muncul dorongan dari oposisi dan beberapa negara Uni Eropa agar Perdana Menteri Inggris Theresa May mengajukan perpanjangan periode negosiasi kepada Uni Eropa. Pada saat yang sama poundsterling menguat mencapai di atas US$1,30 pekan ini.
Menjelang voting berikutnya pada pekan depan, Perdana Menteri May terjebak di antara anggota partai konservatif pro-Uni Eropa yang menuntut perpanjangan waktu dan para euroskeptis yang mengancam akan menjatuhkan pemerintahan jika Brexit ditunda.
Pekan depan parlemen Inggris dijadwalkan akan mengadakan voting guna menentukan opsi langkah-langkah brexit berikutnya. Salah satunya agar periode negosiasi dapat diperpanjang dari 29 Maret 2019.
"Memperpanjang periode Artikel 50 menurut saya tidak akan menyelesaikan masalah apapun. Parlemen masih perlu memutuskan skenario apa yang diinginkan apakah Brexit dengan kesepakatan, no-deal Brexit atau membatalkan Brexit," ujar May pada Rabu (23/1), seperti dikutip oleh Bloomberg.
Tokoh-tokoh senior di pemerintahan Prancis dan Jerman mengatakan mereka akan terbuka dengan rencana perpanjangan batas waktu Brexit, apalagi saat ini merupakan momentum yang tepat dengan kebuntuan yang terjadi di Parlemen Inggris.
Tekanan dari industri turut meningkat pasca CEO Airbus SE Tom Enders mengatakan bahwa jika Brexit terjadi dengan skema no-deal maka perusahaan produsen pesawat ini terpaksa memindahkan investasi mereka keluar dari Inggris.
Enders menyatakan memindahkan bisnis berskala besar keluar dari Inggris merupakan hal sulit tapi mungkin untuk dilakukan. Apalagi, bisnis aerospace adalah komitmen jangka panjang dan dibutuhkan kondisi kondusif agar bisnis berjalan stabil.
Waktu bagi Inggris untuk mencapai kesepakatan semakin tipis. Jika Inggris tidak juga mencapai kesepakatan dalam waktu sembilan pekan ke depan maka dapat dipastikan bahwa mereka akan meninggalkan Uni Eropa secara tidak teratur atau no-deal Brexit.
Otoritas Inggris telah memperingatkan bahwa no-deal Brexit akan menggiring Inggris menuju resesi dan melemahkan poundsterling hingga 25%.
Namun May tetap pada pendirian untuk menyelesaikan debat di parlemen dengan kesepakatan sebelum tenggat waktu berakhir.
Di sisi lain, Menteri Ekonomi Jerman Peter Altmaier mengkonfirmasi bahwa sejumlah petinggi pemerintahan Jerman memilih agar Inggris mengajukan perpanjangan waktu.
"Jika Inggris membutuhkan waktu lebih untuk mengklarifikasi posisi mereka di Uni Eropa kami tidak akan keberatan," ujar Altmaier dalam sesi panel pada World Economic Forum di Davos, Swiss.
Menteri Urusan Uni Eropa dari Prancis Nathalie Loiseau menyuarakan hal yang sama. Menurutnya perpanjangan waktu perlu dipertimbangkan meskipun bukal hal yang mudah.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Brexit
Editor : Gita Arwana Cakti

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top