Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Soal Rumor di Balik Rotasi Pati Polri, Ini Kata Tito Karnavian

Rotasi dan promosi jabatan yang dilakukan Korps Bhayangkara bukan karena adanya faksi antar Perwira Tinggi (Pati) Polri.
Sholahuddin Al Ayyubi
Sholahuddin Al Ayyubi - Bisnis.com 24 Januari 2019  |  14:16 WIB
Pejabat baru Kabaintelkam Polri Unggung Cahyono (kiri), pejabat lama Kabareskrim Arief Sulistyanto (kedua kiri), pejabat baru Kabareskrim Idham Azis (tengah), pejabat baru Kapolda MetroJaya Gatot Eddy Pramono (kedua kanan), pejabat baru Asrena Kapolri Agung Sabar Santoso (kanan) memberikan hormat saat upacara sertijab di Jakarta, Kamis (24/1/2019). - ANTARA/Reno Esnir
Pejabat baru Kabaintelkam Polri Unggung Cahyono (kiri), pejabat lama Kabareskrim Arief Sulistyanto (kedua kiri), pejabat baru Kabareskrim Idham Azis (tengah), pejabat baru Kapolda MetroJaya Gatot Eddy Pramono (kedua kanan), pejabat baru Asrena Kapolri Agung Sabar Santoso (kanan) memberikan hormat saat upacara sertijab di Jakarta, Kamis (24/1/2019). - ANTARA/Reno Esnir
Bisnis.com, JAKARTA — Kapolri Jenderal Pol Muhammad Tito Karnavian membantah rotasi dan promosi jabatan yang dilakukan Korps Bhayangkara bukan karena adanya faksi antar Perwira Tinggi (Pati) Polri, namun untuk memperkuat Institusi Kepolisian.
 
Menurut Tito, perbedaan pandangan pada Kepolisian adalah hal yang biasa terjadi pada suatu organisasi. Namun, dia memastikan Kepolisian masih solid dan Polri dinilai semakin kuat dengan adanya rotasi dan promosi jabatan di Korps Bhayangkara tersebut.
 
"Saya ingin menekankan bahwa pergantian pejabat saat ini tidak ada kaitannya dengan adanya faksi atau friksi pada internal Polri. Polri tetap solid. Berbeda pandangan dalam satu keluarga itu biasa terjadi, tapi perbedaan itu tidak menimbulkan dampak destruktif," tuturnya, Kamis (24/1).
 
Dia mengimbau kepada sejumlah pihak di luar Polri yang menuding bahwa rotasi dan promosi jabatan itu disebabkan karena adanya beberapa faksi, agar segera dihentikan. Menurutnya, menjelang Pilpres dan Pileg 2019, Polri butuh organisasi yang solid secara internal, sehingga bisa kompak menjaga keamanan dan ketertiban di Indonesia.
 
"Sekali lagi saya berharap masyarakat, teman media jangan berasumsi sendiri yang belum pasti. Apalagi informasi asalnya tidak jelas. Kami tetap solid," kata Tito.
 
Dalam kesempatan berbeda, Anggota Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni mengatakan, pergantian Kapolda Metro Jaya harus mampu menciptakan kondisi aman dan memberantas isu SARA dalam penyelenggaraan Pemilu Serentak di Ibukota pada 17 April 2019.

Irjen Gatot Edy Pramono dimutasi dan akan menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya, sementara Irjen Idham Azis akan menjabat Kabareskrim Mabes Polri.

"Saya yakin Irjen Gatot Edy Pramono sebagai Kapolda Metro Jaya nantinya akan mampu mengamankan stabilitas di Ibukota, khususnya saat Pemilu Serentak 17 April mendatang. Gatot memiliki rekam jejak bagus dalam pengalaman maupun akademisi. Dia mengenal karakter Jakarta sejak menjabat sebagai Kapolres Jakarta Selatan dan Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya," kata Sahroni dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Selasa.

Ia meyakini Irjen Gatot sebagai Kapolda Metro Jaya dengan pengalaman dan pemikirannya sebagai doktor krimonologi akan mampu menciptakan situasi kondusif tanpa isu SARA di ibukota saat perhelatan pesta demokrasi lima tahunan ini. Berbicara pendidikan dan konsep pemikiran, Gatot yang pada tahun 2015 masih berpangkat Brigjen berhasil meraih gelar doktor kriminologi Universitas Indonesia (UI).

Gatot meraih gelar itu dengan mempertahankan disertasi berjudul "Transformasi Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Menjadi Kelompok Kekerasan (Studi terhadap Kekerasan Kelompok oleh Empat Ormas di Jakarta)".

Ormas yang menjadi subjek penelitian Gatot adalah Forum Betawi Rempug (FBR), Pemuda Pancasila, Forkabi, dan Kembang Latar. "Konsep pemikirannya akan sangat efektif meredam berbagai kriminalitas," kata politisi Partai NasDem ini.

Sahroni menyebutkan, pengalaman Gatot sebagai Kepala Satgas Nusantara sejak awal tahun 2018 akan berdampak positif pada penanganan potensi gangguan gangguan Kamtibmas dalam pesta demokrasi di Ibukota.

Dengan kemampuan tersebut, Sahroni berharap Gatot mampu mengeliminir isu SARA sehingga dinamika politik saat Pilkada DKI yang sarat dengan isu agama tak terulang di Pemilu Serentak yang akan digelar 17 April 2019.

"Pilkada DKI 2017 yang masih memunculkan isu SARA sehingga menciptakan dinamika politik dan melemahkan hubungan bermasyarakat menjadi pelajaran. Ini adalah tantangan Kapolda Metro Jaya dalam mengamankan Ibukota saat Pemilu serentak. Saya berharap dan optimistis Gatot sebagai Kapolda Metro dengan berbagai pengalamannya mampu mengeliminir isu SARA di ibukota," ucapnya.

Selain sosok Kapolda Metro, profil lain yang menjadi sorotan Sahroni dalam mutasi Polri kali ini adalah Irjen Idham Azis yang kursinya diambil alih oleh Gatot dan akan menempati posisi Kabareskrim.

Sahroni memandang Idham sangat layak mendapat kepercayaan sebagai Kabareskrim. Keberhasilan mengamankan Polda Metro Jaya sejak menggantikan Irjen M Iriawan menjadi salah satu bukti kinerjanya. Ketegasan Idham dalam memimpin diharapkan Sahroni menjadi modal penting dalam membenahi dan meningkatkan kinerja Bareskrim sehingga isu adanya oknum bermain kasus maupun tebang pilih penanganan perkara yang saat ini masih tergambar di benak masyarakat akan menghilang.

"PR terbesar Kabareskrim adalah membuktikan kepada masyarakat tak ada tebang pilih dalam penanganan perkara. Kabareksrim harus mampu memperlihatkan profesionalisme dan integritas jajarannya," pesan Sahroni.

Dalam kesempatan yang sama Sahroni mengingatkan Idham sebagai pimpinan tertinggi Reserse Kriminal dapat terus memacu kinerja jajarannya di Direktorat IV Narkoba untuk menjadikan Indonesia tak lagi menjadi surga para bandar narkoba.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

polri

Sumber : Bisnis & Antara

Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top