Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Rusia Anggap Perang Harga Minyak dengan AS Terlalu 'Mahal'

Rusia menganggap perang harga minyak terhadap Amerika Serikat terlalu mahal. Oleh karena itu, Rusia lebih baik bekerja sama dengan OPEC dalam mengendalikan produksi minyak global.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 23 Januari 2019  |  19:32 WIB
/Ilustrasi
/Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA—Rusia menganggap perang harga minyak terhadap Amerika Serikat terlalu “mahal”. Oleh karena itu, Rusia lebih baik bekerja sama dengan OPEC dalam mengendalikan produksi minyak global.

Sejak 2017, Rusia dan OPEC telah memangkas produksi minyak untuk pertama kalinya dalam upaya meningkatkan harga minyak mentah.

Mengikuti pakta pasokan kedua belah pihak, harga minyak telah diperdagangkan antara sekitar US$60 dan US$85 per barel, dari di bawah US$30 per barel saat sebelum kesepakatan berlaku.

“Agar produksi serpih AS turun, Anda membutuhkan harga minyak US$40 per barel dan di bawahnya. Itu tidak sehat untuk ekonomi Rusia, ” tutur Kirill Dmitriyev, Kepala Dana Investasi Langsung Rusia, dikutip dari Reuters, Rabu (23/1/2019).

Dmitriyev yang berbicara di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, menambahkan, Rusia tidak boleh mengambil tindakan kompetitif untuk menghancurkan produksi serpih AS.

Tiga tahun lalu di Davos, Dmitriyev menjadi pejabat Rusia pertama yang secara terbuka menyebutkan kemungkinan perjanjian pasokan dengan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC).

Pada saat itu, harga minyak telah jatuh setelah gembong OPEC Arab Saudi menaikkan output untuk merugikan produsen AS yang berbiaya lebih tinggi.

Menurut Dmitriyev, kenaikan harga berkat pengurangan produksi telah membawa sekitar US$ 110 miliar pendapatan tambahan ke Rusia.

Namun, harga minyak yang lebih tinggi juga membantu Amerika Serikat, yang tidak berpartisipasi dalam pengurangan produksi.

Produksi minyak Paman Sam telah meroket, menyalip Rusia dan Arab Saudi dan menjadikannya produsen minyak terbesar di dunia.

Bahkan, produksi AS diperkirakan akan mencapai posisi tertinggi baru tahun ini.

Azerbaijan, salah satu mantan produsen minyak terbesar Soviet dan seorang peserta dalam kesepakatan produksi dengan OPEC, meyakini pakta pengurangan produksi akan diperpanjang hingga akhir tahun ini.

Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev mengatakan, langkah seperti itu seharusnya menjaga harga minyak di kisaran US$60 hingga US$70 per barel.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak rusia

Sumber : reuters

Editor : Rustam Agus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top