2018, Pengeluaran Terbesar Google dan Facebook untuk Lobi

Dua raksasa teknologi asal AS, Google dan Facebook, mengeluarkan rekor terbesar pengeluaran untuk lobi pada tahun lalu, seiring dengan kebijakan Washington terhadap perusahaan teknologi besar (Big Tech) kian intensif.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 23 Januari 2019  |  10:54 WIB
2018, Pengeluaran Terbesar Google dan Facebook untuk Lobi
Logo Facebook di kantor Facebook Indonesia - Bisnis/Dhiany Nadya Utami

Bisnis.com, JAKARTA—Dua raksasa teknologi asal AS, Google dan Facebook, mengeluarkan rekor terbesar pengeluaran untuk lobi pada tahun lalu, seiring dengan kebijakan Washington terhadap perusahaan teknologi besar (Big Tech) kian intensif.

Berdasarkan keterbukaan informasi federal, Google milik Alphabet Inc. mengeluarkan lebih dari US$21 juta untuk melobi Washington di sepanjang 2018. 

Adapun tahun lalu juga merupakan pertama kalinya CEO Google Sundar Pichai menghadap ke Kongres AS. Dia dipanggil untuk memberikan testimoni dan menjawab tuduhan bahwa pencarian dan algoritma yang digunakan Google telah bias dengan opini konservatif, yaitu pandangan yang selalu digemakan oleh Presiden AS Donald Trump.

Perusahaan teknologi mesin pencari tersebut tercatat mengeluarkan sebanyak US$4,9 juta dalam tiga bulan terakhir. Secara keseluruhan, pengeluarannya untuk melobi telah melampaui rekor pengeluaran tahunan sebelumnya sebesar US$18 juta pada 2017.

Selanjutnya, dalam berkas filling yang dikutip Bloomberg, Rabu (23/1/2019),Facebook mengeluarkan hampir US$13 juta untuk kegiatan lobi. 

Adapun beberapa di antaranya adalah untuk membiayai lobi ketika perusahaan terkena skandal privasi data pengguna dan kerentanan data, serta ketika CEO Facebook Mark Zuckerberg dipanggil untuk testimoni di Kongres AS.

Selama tiga bulan terakhir, Facebook telah mengeluarkan US$2,83 juta. Sebagai perbandingan, perusahaan hanya mengeluarkan lebih dari US$11,5 juta untuk melobi pada 2017.

Adapun, industri teknologi memang memiliki alasan untuk meningkatkan biaya lobi-nya pada tahun lalu.  Pasalnya, perusahaan menghadapi sejumlah ‘perselisihan’ dengan kongres dan pengetatan aturan akibat sejumlah skandal privasi. 

Belum lagi masalah yang sensitif terhadap politik, yaitu keterkaitan Rusia yang menggunakan paltform media sosial untuk memasang propaganda yang dimaksudkan untuk mempengaruhi Pemilu Presiden AS pada 2016.

Sementara itu, beberapa kritikus untuk industri teknologi juga menilai industri tersebut telah tumbuh terlalu besar dan terlalu kuat. Oleh karena itu, para politisi dan organisasi yang saling berada di sisi yang berbeda membuat industri teknologi terpecah-pecah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
google, facebook

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top