Menteri LHK dan DPR Janji Carikan Solusi Ekonomi Bagi Korban Tsunami Selat Sunda

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya bersama Ketua Komisi IV DPR RI Edhi Prabowo berjanji mencarikan solusi terbaik terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat terdampak bencana alam.
Agne Yasa | 12 Januari 2019 15:15 WIB
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar - Bisnis/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA -- Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya bersama Ketua Komisi IV DPR RI Edhi Prabowo berjanji mencarikan solusi terbaik terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat terdampak bencana alam.

Adapun saat ini yang dibutuhkan masyarakat adalah perbaikan jalan, air bersih, tempat tinggal dan mata pencaharian.

Kecamatan Sumur di Pandeglang Banten sebagai daerah penyangga kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) ikut terkena dampak tsunami Selat Sunda yang terjadi pada 22 Desember 2018.

Walaupun tsunami Selat Sunda 2018 tidak berdampak signifikan terhadap kawasan taman nasional dan keberadaan Badak Jawa di Ujung Kulon, ha sebaliknya terjadi pada masyarakat sekitar.
 
Di Kabupatan Pandeglang sendiri, sekitar 217 orang meninggal, 437 perahu dan kapal rusak, 334 rumah rusak total, dan 2.600 masyarakat mengungsi.

Ketua Komisi IV DPR RI Edhi Prabowo mengungkapkan pihaknya akan berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kementerian Pertanian dan KLHK serta kementerian terkait guna percepatan penanganan dampak bencana.

Adapun sebagai solusi peningkatan ekonomi masyarakat jangka panjang, Menteri Siti menawarkan program kemitraan konservasi dan perhutanan sosial mengingat sebagian dari mereka tinggal di desa penyangga TNUK. 

"Nanti akan dilihat master plan dan management plan-nya, yang sudah harus dimasukkan di dalamnya Perhutanan Sosial dan kemitraan konservasi," ujar Siti, dalam keterangan resmi, Jumat (12/1/2019). 

Selain itu, Siti meminta Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK dan Kepala Balai TNUK untuk merancang bisnis kemitraan antara masyarakat dan pengelola  konservasi dengan membangun jasa wisata alam dan jasa tata air. 

Adapun untuk kelembagaannya, Siti menyarankan agar dibentuk kelompok masyarakat dan usaha bidang jasa. 

"Masyarakat butuh kerja dan penghasilan", tambahnya.
 
Di TNUK saat ini sudah terbentuk 7 kelompok tani konservasi, 2 kelompok sadar wisata, 2 kelompok masyarakat pesisir, dan 4 kelompok masyarakat tani madu hutan Ujung Kulon.

"Saya berharap daerah yang indah ini dapat dikelola menjadi tujuan wisata seperti Bali dan Jogja," kata Siti. 

Tag : Tsunami Selat Sunda
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top