Prospek Bisnis Korporasi Global Kian Kelam

Prospek bisnis sejumlah raksasa korporasi global kian kelam disebabkan oleh sentimen perang dagang, perlambatan ekonomi China, dan pergerakan di pasar keuangan yang tak menentu pada awal tahun ini.
Dwi Nicken Tari | 11 Januari 2019 11:36 WIB
Pesawat American Airlines. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA—Prospek bisnis sejumlah raksasa korporasi global kian kelam disebabkan oleh sentimen perang dagang, perlambatan ekonomi China, dan pergerakan di pasar keuangan yang tak menentu pada awal tahun ini.

Pada pekan kedua tahun 2019, lebih dari setengah korporasi besar berskala global yang memangkas perkiraan pertumbuhan labanya. Beberapa perusahaan seperti American Airlines Group Inc., Jaguar Land Rover, Macy’s Inc., dan BlackRock Inc. tampak mengikuti jejak Apple Inc. dan FedEx Group.

Sebelumnya, Apple dan FedEx memberikan peringatan bahwa mulai dari saat ini, prospek bisnis di masa depan tidaklah secerah seperti beberapa pekan lalu. Padahal, tahun 2019 baru berumur 11 hari, Bloomberg mencatat, beberapa industri utama di dunia telah terlihat khawatir bakal terdampak ancaman suramnya prospek bisnis di masa depan, seperti industri ritel dan otomotif.

Dari sisi industri ritel, sinyal suram terlihat mulai merata di seluruh benua. Tantangannya memang berbeda-beda di setiap kawasan, tapi asal-muasal kekhawatirannya tetap dari ancaman perlambatan ekonomi di China.

Adapun perlambatan ekonomi di Negeri Panda telah memberatkan kinerja sejumlah brand mewah seperti Tiffany&Co. dan Louis Vuitton. 

Pekan lalu, Tiffany&Co. menyampaikan, data penjualan yang lebih lemah daripada yang diperkirakan menunjukkan dengan jelas bahwa pembeli asal China kini telah memangkas pengeluarannya.

Sementara itu, Macy’s dan Kohl’s Corp. juga memberikan indikasi bahwa musim liburan di AS kemungkinan tidak akan memberikan angin segar bagi penjualannya. 

Adapun, prospek yang kelam dari Macy’s dan data penjualan yang mengecewakan dari Kohl’s Corp. memberikan sinyal bahwa kenaikan suku bunga di AS dan perang dagang dengan China telah memukul sisi pengeluaran konsumen yang menjadi tulang punggung Negeri Paman Sam.

Sementara dari Eropa, peritel kian khawatir dengan ketidakpastian proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit). Beberapa perusahaan ritel yang kecil seperti Hallfords Group Plc. yang menjual peralatan otomotif dan perlengkapan sepeda pun mengalami pelemahan yang paling menonjol di sana.

Selain industri ritel, sektor otomotif juga menunjukkan pesimisme terkait prospek di masa depan. Jaguar dan Ford Motor Co. pun telah mengejutkan dunia dengan pengumuman program pemangkasan biaya secara besar-besaran.

Ford berencana bakal menutup sejumlah pabrikannya, atau menjadikannya sebagai pengambil aksi yang paling agresif di antara kompetitornya. Sementara itu, Jaguar berencana bakal memberhentikan kerja 4.500 karyawannya atau sekitar 10% dari jumlah karyawan yang dimilikinya di seluruh dunia.

 
 
 
 
Tag : ekonomi global, prospek ekonomi
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top