Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Tsunami Selat Sunda: Detektor Tsunami Dipasang di Pulau Sebesi

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memasang alat pemantau ketinggian air atau sensor water level untuk memantau ketinggian air di Pulau Sebesi yang dekat dengan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.
Sutarno
Sutarno - Bisnis.com 03 Januari 2019  |  15:03 WIB
Tsunami Selat Sunda: Detektor Tsunami Dipasang di Pulau Sebesi
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memasang alat pendeteksi gelombang tsunami di Pulau Sebesi Lampung Selatan. Foto: dokumen BMKG
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memasang alat pemantau ketinggian air atau sensor water level untuk memantau ketinggian air di Pulau Sebesi yang dekat dengan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.

Widada Sulistya, Deputi Bidang Instrumentasi,Kalibrasi, Rekayasa,dan Jaringan Komunikasi BMKG, mengatakan sebelum pemasangan di Lampung Selatan tersebut, BMKG telah memasang alat sejenis di wilayah Labuhan Banten pada tanggal 24 Desember 2018 atau dua hari setelah bencana tsunami Selat Sudan 22/12/2018. Pemasangan dilakukan di di PLTU Labuhan, Banten.

"Untuk yang di Lampung Selatan ini, BMKG dibantu dan di fasilitasi transportasi KRI Torani yang di miliki oleh TNI AL dalam memasang alat sensor water level di pulau yang dekat dengan gunung anak Krakatau,"ujarnya melalui keterangan resmi BMKG Kamis (3/1/2019).

Alat ini mengunakan sensor berupa tipe Ultrasonic yang menghitung seberapa kecepatan dari objek yang di lepaskan (berupa sinyal frekuensi) yang bersifat stasioner untuk mengukur ketinggian permukaan air laut.

Lebih lanjut, Ia menjelaskan data perekaman dari sensor water level akan dikirimkan langsung ke server BMKG, dan update setiap 1 menit sekali untuk mengetahui ketinggian air permukaan laut di wilayah tersebut.

Pemasangan sensor ini,jelasnya digunakan pada AWS di 24 Stasiun meteorologi Maritim BMKG yang tersebar di Indonesia untuk mengukur ketinggian air di daerah sekitar pelabuhan.

Widada mengutarakan dari lokasi pengamatan akan didapat data / nilai yang akan otomatis dikirim ke BMKGserver lalu akan diolah menjadi produk dalam bentuk grafik. Dari sinilah, terlihat jenis gelombang, apakah gelombang pasang surut apa gelombang yang lain.

Ia menuturkan grafik akan terlihat berbeda ketika menggambarkan gelombang pasang surut dengan gelombang tsunami karena gelombang tsunami akan terlihat lebih signifikan di bandingkan gelombang pasang surut biasa.

Ada beberapa syarat untuk memasang alat ini, yaitu harus bisa menentukan batas minimal yang dapat di deteksi oleh sensor dalam kondisi air yang tidak boleh kering.

Untuk pemasangan alat di lampung dan Banten disiapkan setelah terjadinya tsunami di Banten yang diakibatkan oleh aktivitas gunung Krakatau. BMKG memiliki 26 alat sensor water level yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia

Diharapkan alat ini sangat bermanfaat dan berdampak di Tanjung balai Karimun tempat bersandar nya kapal kapal cepat dari batam.

"Di sana kami mempunyai AWS pelabuhan / maritim, untuk mengukur ketinggian air supaya bisa memutuskan kapal untuk bersandar di mana,"imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Tsunami Selat Sunda
Editor : Sutarno
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top