Rusia Bersedia Pangkas Produksi, Pergerakan Harga Minyak berbalik Menghijau

Rusia Bersedia Pangkas Produksi, Pergerakan Harga Minyak berbalik Menghijau
Mutiara Nabila | 29 November 2018 23:48 WIB
Prediksi Harga Minyak - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mulai berbalik menghijau setelah Rusia dikabarkan menerima dan akan ikut apabila ada kebijakan pemangkasan produksi bersama OPEC.

Harga minyak masih dalam jalurnya menuju penurunan terbesar selama sebulan pada November sejak krisis finansial sedekade lalu. Harga minyak mentah sudah mengalami penurunan harga hingga 22% sebulan terakhir ini.

Kenaikan pasokan minyak mentah AS yang tak tertahan, bersama dengan Arab Saudi yang mengatakan tidak mau memangkas pasokan sendirian untuk menstabilkan pasar sempat membuat Brent anjlok ke level terendah 2018 di kisaran US$58 per barel.

Menteri Energi Rusia Alexander Novak menggelar pertemuan dengan para pimpinan produsen minyak mentah domestik, sebelum menghadiri pertemuan di Wina bersama dengan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya pada 6-7 Desember mendatang.

“Gagasan dari pertemuan tersebut adalah bahwa ternyata Rusia juga perlu ikut memangkas produksinya. Pertanyaan selanjutnya adalah seberapa banyak Rusia harus menurukan produksinya,” kata Novak, dilansir dari Reuters, Kamis (29/11).

Pada perdagangan Kamis (29/11) harga minyak Brent mengalami kenaikan tipis 0,74 poin atau 1,26% menjadi US$59,50 per barel dan mencatatkan pelemahan hampir 12% sepanjang 2018 berjalan.

Adapun, harga minya West Texas Intermediate (WTI) mengalami kenaikan 0,80 poin atau 1,59% menjadi US$51,09 per barel dan turun 16% secara year-to-date (ytd).

Presiden Rusia Vladimir Putin, yang memimpin negara produsen minyak mentah kedua terbesar di dunia, mengatakan bahwa dirinya terus berhubungan dengan OPEC san siap melanjutkan kooperasi untuk menahan produksi jika diperlukan, tapi dirinya merasa belum puas dengan harga minyak yang berada di kisaran US$60-an per barel.

Energy Information Administration (EIA) menyebutkan bahwa cadangan minyak mentah AS menyentuh level tertingginya dalam setahun dan saat ini hanya 80 juta barel di bawah rekor 535 juta barel produksi pada 2017.

Analis investasi Rivkin Securities Australia William O’Loughlin mengatakan bahwa harga minyak WTI saat ini diperdagangkan di kisaran US$50 per barel, harga yang baru terlihat lagi dalam lebih dari setahun lalu dengan situasi oversuplai yang sekarang memanifestasi jumlah cadangan minyak AS dalam 10 pekan berturut-turut,” kata, dikutip dari Bloomberg, Kamis (29/11).

“Kami sudah pernah menyaksikan kenaikan jumlah pasokan dan sekarang jumlah permintaan yang masih dipertanyakan. Namun, kita mungkin akan melihat pergerakan harga setelah ada hasil dari pertemuan G20 pada akhir pekan ini,” kata Michael McCarthy, Kepala ahli strategi CMC Markets and Stockbroking.

Investor di pasa komoditas saat ini masih menantikan pertemuan group of 20 (G20) yang dihadiri negara-negara perekonomian terbesar dunia, dengan pembicaraan soal hubungan dagang antara AS dan China sebagai fokus utama.

Tag : Harga Minyak
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top