30 Warga Sipil Afganistan Tewas Akibat Serangan Udara Tentara AS

Setidaknya 30 warga sipil Afghanistan tewas dalam serangan udara AS di provinsi Helmand Afghanistan, Rabu (28/11/2018) waktu setempat.
Rayful Mudassir | 28 November 2018 22:49 WIB
Helikopter Black Hawk AS di Afghanistan. - Reuters/Erik De Castro

Bisnis.com, JAKARTA - Setidaknya 30 warga sipil Afghanistan tewas dalam serangan udara AS di provinsi Helmand Afghanistan, Rabu (28/11/2018) waktu setempat. Gelombang operasi udara ini diklaim untuk mendorong Taliban menyelesaikan peperangan di meja perundingan.

Pasukan pimpinan NATO Afghanistan mengatakan pasukan pemerintah Afghanistan dan penasihat AS mendapat kecaman dari pejuang Taliban di sebuah kompleks di distrik Garmsir. Mereka melakukan serangan udara, namun mengaku tidak mengetahui ada warga sipil di atau dekat kompleks itu.

Berdasarkan laporan Reuters, Gubernur Provinsi Helmand Mohammad Yasin Khan mengatakan pasukan telah menyerukan serangan udara terhadap pejuang Taliban di Garmsir, yang menyebabkan korban sipil dan oknum kelompok Taliban.

Seorang penduduk daerah setempat mengatakan, bentrokan itu dimulai sejak Selasa malam. "Pasukan asing membom daerah itu dan bom menghantam rumah saudara saya," katanya seperti laporan Reuters, Rabu (28/11/2018).

Dia mengatakan wanita dan 16 anak termasuk di antara yang mati. Penduduk lain, Feda Mohammad, mengatakan beberapa korban masih terkubur di reruntuhan kompleks. "Daerah ini berada di bawah kendali Taliban tetapi semua korban pemboman semalam adalah warga sipil," katanya.

Pasukan dukungan pimpinan NATO mengatakan pasukan Afghanistan dan penasihat AS mendapat kecaman dari Taliban yang dilengkapi dengan senapan mesin dan granat roket.

“Pada saat pemogokan, pasukan darat tidak mengetahui warga sipil di dalam atau di sekitar kompleks; mereka hanya tahu bahwa Taliban menggunakan gedung itu sebagai posisi berperang,” kata juru bicara pasukan dalam sebuah pernyataan.

"Kami menyelidiki setiap dugaan kesalahan yang kredibel dan meninjau setiap misi untuk belajar, beradaptasi dan meningkatkan [ketelitian]," katanya.

Kematian warga sipil dalam bentrok di Afganistan terus bertambah. Sementara itu tahap pembicaraan damai telah ditingkatkan antara utusan perdamaian AS Zalmay Khalilzad dengan perwakilan Taliban.

Perserikatan Bangsa-bangsa mengatakan korban sipil dari serangan udara pihak yang dilancarkan pihak AS telah merupakan paling tinggi sejak 2009 dalam sembilan bulan pertama 2018.

Peningkatan itu datang bersamaan dengan semakin tingginya jumlah operasi udara di bawah strategi AS yang ditujukan untuk meningkatkan tekanan pada Taliban untuk memaksa mereka menerima akhir negosiasi perang 17 tahun. Menurut angka dari militer AS, pesawat AS telah mengeluarkan 5.213 senjata hingga akhir September 2018, naik dari 4.361 pada 2017.

Tag : afghanistan
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top